9 Summers 10 Autumns: Pejuang Mimpi dari Kota Apel

“Impian harus menyala dengan apapun yang kita miliki, meskipun yang kita miliki tidak sempurna, meskipun retak-retak,” 9 Summers 10 Autumns.

Film 9 Summers 10 Autumns ini menceritakan perjalanan hidup sang penulis yaitu Iwan Setyawan. Iwan Setyawan anak kelahiran 02 Desember 1974 merupakan lulusan terbaik Fakultas MIPA di salah satu universitas ternama di daerah Bogor (IPB) dari Jurusan Statistik.

Berawal dari kisah Iwan, seorang anak sopir angkot yang ingin mengubah kehidupannya menjadi lebih baik terutama untuk kedua orang tua dan empat saudari perempuannya. Iwan ingin mengubah masa depannya menjadi lebih indah dan ingin membuktikan kepada keluarganya bahwa ia bisa menjadi orang yang sukses.

Semasa sekolahnya, Iwan adalah anak yang pintar baik di kelas maupun sekolah. Hingga saat itu, ia baru lulus SMA dan sudah memutuskan untuk mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi negeri di Bogor. Iwan tidak menyangka bahwa ia lulus dan diterima di universitas tersebut.

Tetapi Ayah Iwan tidak setuju kalau putranya harus meneruskan belajar di universitas negeri tersebut. Ayahnya ingin Iwan menjadi sama seperti dirinya saja yakni seorang sopir angkot. Berbeda halnya dengan Ibu Iwan yang sangat mendukung putranya meneruskan pendidikan ke universitas tersebut. Akan tetapi karena sang ayah sangat keras kepala menentang hal tersebut, akhirnya Ibu Iwan hanya menuruti apa yang dikatakan oleh suaminya.

Iwan pun tidak mau menyerah. Iwan tetap meneruskan tekadnya dan mengikuti kata hatinya untuk merubah kehidupan keluarganya dan menjadi seseorang yang sukses. Ia tetap meneruskan masuk perguruan tinggi tersebut dan menentang ayahnya. Ia meninggalkan kota Malang, lalu pergi ke Bogor untuk menuntut ilmu di IPB.

Di sana, ia hidup dalam kondisi yang sangat memprihatinkan; tinggal di rumah kecil yang aktivitasnya hanya makan, tidur, dan belajar. Lulus dari IPB, Iwan mengadu nasib ke Jakarta dan pada akhirnya terbukti bahwa mimpi bukan sekadar mimpi.

Anak seorang sopir angkot dari Kota Malang berhasil berkarir di New York, Amerika Serikat sebagai seorang direktur Internal Client Management Nielsen Consumer Research, New York.  Judul film ini, “9 Summer 10 Autumns” memiliki arti sebagai perjalanan hidup Iwan Setyawan pada saat ia berada di Amerika dan melakukan aktivitas di tiap periode hidupnya.

Keinginan Iwan saat melintasi Jalan Sudirman adalah menjadi “pegawai berdasi” terwujud juga karena dukungan ibu, bapak dan saudara-saudaranya. Begitu pula dengan keputusannya menerima pekerjaan di New York. Keputusan yang membawanya menjadi seorang Direktur Internal Client Management di Nielsen Cunsumer Research. Bekerja di New York menjadi salah satu keinginan untuk melihat dunia luar seperti Kak Inan yang pernah ke Jepang. Ia berhasil memiliki sebuah kamar untuknya, yaitu sebuah apartemen setelah ia bekerja selama 10 tahun di New York.

Kisah cinta Iwan ternyata juga tidak berakhir bahagia. Pertama kalinya ia jatuh cinta pada seorang wanita Amerika bernama Audrey, yang memiliki hobi yang sama dengannya yaitu yoga. Mereka bertemu di kelas yoga yang sama, dan saat itu mereka hanya saling bertatapan. Kemudian, berkat sebuah keajaiban, mereka bertemu di Barneys, sebuah apartemen departemen store di New York, dan Iwan pun memberanikan diri untuk menyapanya serta memberikan kartu namanya. Perkenalan mereka berlangsung singkat, dan hubungan mereka diakhiri oleh pertanyaaan dari orang tua Audrey bahwa mereka berbeda keyakinan. Dimusim gugur ke-9, Audrey menikah dengan orang lain, akan tetapi mereka masih berteman dengan baik.

Kelebihan dari film 9 Summers 10 Autumns ini adalah pada penggunaan kata-kata yang mudah dimengerti dan perjalanan ceritanya yang membuat penonton ikut terhanyut atau meresapi cerita kehidupan sang tokoh utama. Setiap ucapan dalam film banyak mengandung motivasi untuk anak-anak muda agar tidak membuang-buang waktu yang ada.

Film ini mampu menggugah penonton menjadi lebih bersemangat dan mempunyai tekad yang kuat untuk mencapai kesuksesan serta tidak mudah menyerah dalam menjalani kehidupan. Kata-kata yang terdapat dalam film ini membuat penonton menyadari bahwa mimpi bukan hanya sekedar mimpi, semua bisa berubah dengan adanya usaha, doa, dan dukungan dari keluarga tercinta.

Kekurangan film ini adalah penggunaan alur maju mundur yang membuat penonton cepat bosan bahkan kebingungan. Kekurangan lainnya adalah alur cerita yang mudah diketahui atau ditebak oleh penonton, seperti apa dan bagaimana akhir dari perjalanan cerita ini. Tetapi, film ini banyak memberikan inspirasi dan motivasi kepada penonton bahwa tekad yang kuat yang harus dipegang erat untuk meraih kesuksesan dalam mengubah masa lalu yang gelap menjadi cerah.

Sutradara         : Ifa Isfansyah

Produser           : Edwin Nazir, Arya Pradana

Penulis                : Ifa Isfansyah, Fajar Nugros, Iwan Setyawan (Novel)

Perusahaan

Produksi           : Angka Fortuna Sinema

Tanggal rilis    : 25 April 2013

Durasi                 : 120 menit

Bahasa               : Bahasa Indonesia

(Ryan/Akademika)

Editor: Kristika, Juniantari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *