Aksara Bali, Nasibmu Kini

“Seiring dengan perkembangan zaman, minat masyarakat untuk mempelajari aksara Bali semakin berkurang disebabkan oleh pengaruh globalisasi. Globalisasi menyebabkan budaya lokal terasingkan. Selain itu, banyak orang kini merasa “tidak butuh” untuk mempelajari aksara Bali disebabkan tidak adanya keharusan untuk menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari” menurut Dewa Ayu Shinta Widhiaswari. (28/3/2018)

Aksara Bali merupakan huruf asli daerah Bali sebelum mengenal huruf alfabet. Aksara Bali ditemukan banyak pada bacaan-bacaan kuno, sastra kuno, dan kitab suci yang ditulis di atas daun lontar. Dahulu, aksara Bali merupakan tulisan pokok masyarakat Bali dan termasuk budaya yang harus dipertahankan.

Aksara Bali juga menjadi salah satu pelajaran wajib di bangku sekolah yang dimuat dalam mata pelajaran Basa Bali. Semua siswa yang bersekolah di Bali wajib untuk mempelajari Basa Bali dan secara tidak langsung pula mempelajari aksara Bali. Untuk meningkatkan minat siswa, biasanya dibuat perlombaan nyurat (menulis) aksara Bali di atas daun lontar. Mengutip dari laman online balipuspanews.com, Ni Wayan Sariani, salah satu juri dalam lomba nyurat aksara Bali mengatakan bahwa lomba tersebut sangat penting untuk digelar demi meningkatkan minat generasi muda Bali terhadap budaya mereka sendiri. “Lomba semacam ini sangat penting digelar, sebagai upaya pelestarian dan pengenalan sastra Bali pada generasi muda. Kedepannya supaya aksara Bali ini lebih digemari generasi muda,” katanya.

Menurut pandangan Dewa Ayu Shinta Widhiaswari, seorang mahasiswi Akuntansi Universitas Warmadewa mengatakan seiring dengan perkembangan zaman, minat masyarakat untuk belajar aksara Bali justru semakin berkurang yang disebabkan oleh pengaruh globalisasi. Kehadiran globalisasi mengakibatkan masyarakat cenderung mengadaptasi budaya luar sehingga budaya lokal menjadi terasingkan. “Selain karena pengaruh globalisasi, adanya perasaan “tidak membutuhkan” dari orang-orang menjadikan mereka enggan untuk mempelajari aksara Bali,” imbuhnya. Mereka merasa tidak memiliki keharusan untuk menerapkan penggunaan aksara Bali di kehidupan sehari-hari. Seperti menurut Luh Putu Ayu Sumantining, mahasiswi Teknologi Industri Pertanian Unud yang membenarkan bahwa dia tidak memerlukan aksara Bali dalam kesehariannya. “Karena setiap hari menggunakan alfabet. Saya merasa tidak butuh, maka dari itu saya tidak belajar,” ungkapnya.

Namun aksara Bali juga tidak sepenuhnya ditinggalkan. beberapa orang masih beranggapan bahwa aksara bali sangat bermanfaat, seperti Ni Putu Mirah Pertiwi Widia seorang mahasiswi Sastra Inggris STIBA Saraswati yang beranggapan bahwa mempelajari aksara bali itu tidak rugi. “Saya jadi bisa membaca buku-buku yang bertuliskan aksara bali, karena ilmu ini penting untuk kita dan mengembangkan budaya kita ke masyarakat luar,” tandasnya. Ada banyak keunikan dan sejarahnya juga mempelajari aksara bali. Dengan memahami aksara bali, masyarakat bisa mengenalkan budaya Bali dan bisa meneruskan ke generasi selanjutnya agar budaya ini tidak mati. Aksara bali penting untuk orang yang ingin menjadi pemangku dan Ida Pedanda yang memang memiliki tujuan untuk menekuni ilmu agama.

Selain dengan mengadakan lomba nyurat aksara Bali, ada pula upaya dari pemerintah untuk melestarikan aksara Bali yakni dengan menerapkan penggunaan aksara Bali pada fasilitas publik. Mengutip dari laman online suaradewata.com, dalam rapat Paripurna DPRD Bali (29/1), Nyoman Parta, salah satu Politisi PDIP Bali mengatakan dalam Perda Nomor 03 Tahun 1992 tentang Bahasa, Sastra dan Aksara Bali belum menjamin secara keseluruhan upaya pelestarian Bahasa Bali, sehingga penting untuk melakukan revisi agar upaya pelestarian bahasa, sastra dan aksara Bali dapat dilakukan secara intensif sesuai dengan perkembangan zaman. “Bahasa Bali selalu memiliki peran sentral baik dalam kehidupan berbudaya, kesenian hingga kehidupan beragama. Karena demikian pentingnya Bahasa Bali bagi masyarakat kehidupan Bali, maka sangat penting ada sebuah regulasi yang mengatur usaha-usaha pelestarian di masa yang akan datang,” ungkapnya.

Nyoman Parta turut menjelaskan dalam pokok-pokok pikiran yang ingin dituangkan dalam revisi Perda Nomor 03 tahun 1992 tentang Bahasa, salah satunya adalah belum adanya aturan yang mengatur tentang penggunaan bahasa, aksara dan sastra Bali di ruang publik, pemerintahan dan sekolah di wilayah Provinsi Bali. Ini merupakan bagian dari upaya untuk pelestarian bahasa, aksara, dan sastra di Pulau Dewata. Hingga saat ini pun, upaya untuk melestarikan aksara Bali masih harus menempuh proses panjang baik oleh pihak pemerintah maupun para pendidik. (Vira/Kristika/Juni/Akademika). (sumber  foto: https://kabarkomik.wordpress.com)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *