Anak Sekolah Sebelah

Awalnya, saat aku dalam perjalanan menuju sekolah, aku tak sengaja melihat pemuda tampan mengenakan seragam sekolah sebelah. Lelaki yang aku ketahui bernama Agi, dia adalah ketua OSIS di sekolahnya. Entah mengapa jam kedatangan kami hampir selalu bersaamaan, itulah yang membuatku seringkali melihatnya. Mulai dari kebiasaan itu aku perlahan menyukainya dan setiap pagi aku berharap selalu melihatnya meski hanya sekejap.

Hari ini sekolahku sedang mengadakan pertandingan basket antar sekolah dan yang kuketahui, sekolah Agi ikut berpartisipasi dalam pertandingan ini. Mungkin karena takdir sedang berpihak kepadaku, kami dipertemukan. Aku yang tak tahu bahwa Agi ikut bergabung dalam tim basket sekolahnya. Aku hanya cuek dengan pertandingan yang ada, karena jujur aku tak suka keramaian. Hingga Willa, sahabatku, memintaku untuk menemaninya.

“Ghina, temenin aku yuk! Kita nonton pertandingan basket di lapangan indoor,” ujar Willa memohon agar aku ikut bersamanya.

“Tumben kamu mau nonton pertandingan basket itu? Biasanya kamu sama aku ‘kan sama-sama gak suka nonton begitu-begituan,” aku berkomentar.

“Ya sekali-sekali lah, sambil cuci mata kali aja nemu jodoh. Lagian aku denger gosip, tim basket lawan sekolah kita pemainnya ganteng-ganteng,” ia menatapku dengan mata berbinar. “Bukan hanya pemain basketnya aja yang ganteng, tapi ketua OSIS-nya juga tuh,” tanpa sadar aku tersenyum sendiri saat mengingat wajah tampan Agi.

“Woi, udah gila ya? Senyum – senyum sendiri!” Willa mengagetkanku.

Ia tetap kekeh dan langsung menarik tangan kananku dan berkata, “kelamaan mikir kamu Ghin!”

Suara teriakan serta tepuk tangan para supporter mulai memasuki indra pendengaranku dan ini cukup untuk membuatku memutar mata malas. Kami mencari tempat duduk yang tak jauh dari pintu masuk, ketika aku mulai memfokuskan arah pandanganku ke lapangan basket, mataku seketika ingin keluar saat melihat Agi memegang si bulat orange. Oh Tuhan, benarkah itu Agi? Aku berusaha meyakinkan diriku jika memang benar itu Agi, dan benar dia Agi. Sepertinya kemampuan bermain basketnya tak pernah kuketahui.

Pertandingan itu pun selesai dengan kemenangan mutlak diraih oleh sekolahku. Aku bisa melihat raut wajah kekecawan Agi dan teman setimnya. Ah, andai saja aku bisa memberikannya semangat, pasti dia bisa lebih lega sekarang. Tapi itu hanya khayalan konyol yang tak mungkin terwujud.

“Yuk balik, pertandingannya udah kelar,” Willa menarik paksa tanganku untuk keluar dari lapangan. Padahal aku masih ingin di sini melihat Agi dan timnya berkemas.

“Di sini dulu ya, bentar aja,” kataku tak ingin beranjak dari tempat duduk seraya melihat Agi mengelap peluhnya.

“Kenapa? Lebih baik sekarang kita ke kantin,” Willa tetap memaksa.

“Tapi—” ucapanku dipotong oleh Willa. “Udah ayo, perutku laper nih! Ngapain tim sekolah sebeleh dilihat-lihat? Ada yang kamu taksir ya?” ia berusaha menebak isi hatiku.

“Enggak kok, gak ada.” Mana mungkin aku mengatakan yang sebenarnya. Bisa-bisa Willa mengejekku habis-habisan.

Saat aku dan Willa berjalan menuju kantin, tiba-tiba aku mendengar suara seseorang berusaha menghampiri kami. “Permisi, mau nanya toilet di sebelah mana ya?” Suaranya menghentikan langkah kakiku dan lagi-lagi mataku melotot saat tahu siapa yang ada di belakangku.

“Eh kamu? Kamu pemain basket sekolah sebelah, ‘kan?” Willa sama terkejutnya denganku.

“Iya, tapi bisakah di antara kalian menunjukkan di mana letak toilet di sekolah ini?” tanyanya. Aku hanya bisa diam.

“Ya Tuhan mimpi apa hamba-Mu ini semalam hingga bisa melihat  lelaki idamannya sedekat ini?” ucapku dalam hati.

“Bisa, Ghina bisa kok nganterin kamu. Sana Ghin anterin dia,” kata Willa. Willa menyuruhku? Hah?

“Kenapa mesti aku sih? Kamu ‘kan bisa?” aku berbisik kepada Willa.

“Hei, ini jadinya siapa yang mau nganterin aku?” Agi menghentikan pembicaraanku dengan Willa.

“Ghina, iya Ghina yang nganterin kamu,” jawab Willa.

“Baiklah,” kataku dan kini jantungku siap memompa darah dua kali lebih cepat. Selama menuju toilet, Agi bersikap ramah terhadapku. Setidaknya kami tidak saling diam. Semenjak kejadian itu, aku dan Agi menjadi dekat dan aku semakin menyukainya.

Suatu hari, saat persahabatan kami genap berusia satu tahun, dia mengajakku ke taman dekat sekolah.

“Hei sahabat, genap loh usia pertemanan kita ini satu tahun!” itulah kalimat pertama yang diucapkan Agi saat kami sampai di sana.

“Ya terus? Jangan bilang kamu mau persahabatan kita ini berakhir? Aku sangat takut jika itu benar-benar terjadi.”

“Hahahaha…. kenapa kamu bisa beranggapan seperti itu? Takut kehilangan aku ya? Ayo ngaku?” Ia tertawa melihatku. Baik, aku akui ketika dia tertawa dia akan terlihat sangat manis.

“Ya bisa dibilang begitu, karena jujur, aku gak bisa dan gak rela kalau ada sahabatku yang pergi meninggalkanku,” aku menunduk. “Apalagi yang mau pergi itu kami Gi,” tambahku dalam hati.

“Hilangkan semua pikiran negatifmu itu, Ghin. Yah, selama kamu masih mau bersahabat terus denganku, tapi jika kamu berminat kita bisa mengubah persahabatan kita menjadi status yang lebih mengikat, aku mau-mau aja!” Ia mencoba meyakinkanku.

“Apa? Maksudmu mengubah status?”

“Otakmu itu lelet sekali Ghin. Begini, dengarkan aku baik-baik.” Kini aku bisa melihat keseriusan di matanya. “Aku bukanlah orang yang tampan dan bukan orang yang pandai merangkai kata-kata, yang perlu kamu ketahui sekarang aku hanya ingin mengungkapkan isi hatiku yang selama ini aku simpan. Bahwa aku, Agi menyukai perempuan cantik yang sedang berada di hadapanku dan aku ingin kamu menjadi pacarku. Would you be my girlfriend?” dia mengucapkannya dengan tulus. Aku tidak menyangka dia juga menyukaiku. Jadi, apakah dapat disimpulkan cintaku terbalas?

“Hei jawab pertanyaanku, jangan hanya tertawa seperti orang gila begitu,” dia tertawa, begitu juga aku.

“Gi, jika aku menolak, apakah kita akan tetap bersahabat?” aku menatapnya sedih.

“Ha? Jadi ini jawabanmu Ghin?” Dia tersenyum miris.

Aku hanya tertawa. “Hei, jawab pertanyaanku dulu. Jangan asal menyimpulkan sesuatu!”

“Hmm, seperti yang aku katakan, aku akan tetap menjadi sahabatmu sampai kapanpun,” ujarnya.

“Terimakasih atas jawabanmu Gi!” aku tersenyum senang.

“Jadi? Kamu menolakku?” dia bertanya lagi. Aku menarik nafas sebelum menjawabnya.

“Ya aku menolak,” ujarku. Aku bisa menatap dia dengan raut wajah yang sedih.

“Sudah kuduga, aku memang tak pantas untukmu Ghin.”’ Lagi dan lagi aku tertawa. Dia menatapku aneh.

“Kamu ini, aku belum selesai bicara tah! Aku hanya menolakmu menjadi sahabatku dan aku menerima kita megubah status kita seperti yang kamu minta,” aku tersenyum simpul. Hahahaha lucu juga mengerjai dia. Mustahil jika aku menolaknya, dia yang lama aku suka. Setelah aku mengucapkan itu, dia tersenyum bahagia dan menarikku kedalam pelukannya. Semenjak itu, hubungan baru antara aku dan Agi dimulai. Semoga hubungan ini selalu bertahan.

Oleh: Istiqomah

Editor: Kristika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *