Anarchist From Colony: Cinta dan Perlawanan Kaum Anarkis

“Kau bisa melakukan apapun kepada tubuhku, tetapi tidak pada cita-cita dan semangatku.” Itulah kata-kata yang keluar dari mulut Park Yeol ketika hakim memutuskan hukuman mati kepada Park dan Fumiko atas tuduhan pengkhianatan terhadap kerajaan Jepang.

 

Film produksi tahun 2017 yang disutradarai oleh Lee Joon-ik ini menggunakan latar negeri bunga Sakura pada tahun 1920-an. Mengisahkan seorang pemuda Anarkis Korea bernama Park Yeol (diperankan oleh Lee Je-hoon) yang sangat dikenal sebagai pemberontak di Jepang. Park hidup dengan hasil bekerja sebagai penarik Jinrikisha—becak model Jepang yang ditarik dengan tenaga manusia.

Dia menerbitkan puisi yang berjudul “Anjing Liar”. Puisi tersebut menceritakan kehidupannya dalam sebuah pamflet anarkis produksinya sendiri. Berkat puisi tersebut pula, dia bertemu seorang gadis Anarkis dan Nihilis Jepang yang sangat tertarik dengannya dan puisinya. Gadis itu bernama Fumiko Kaneko (diperankan oleh Choi Hee-seo).

Kehidupan Fumiko yang sangat keras dimulai ketika dia tak dianggap oleh orang tuanya. Hal tersebut membuatnya sangat membenci dunia. Ia pula tak memiliki latar belakang pendidikan yang baik. Fumiko tidak bisa menulis, namun dia adalah seorang yang sangat gila membaca. Pemikiran Anarkis-Nihilis nya sangat dipengaruhi oleh Nietzsche, Stirner, Hegel, Bergson, dan Kropotkin.

Pemikiran Anarkis-Nihilis radikal ini juga yang membuatnya tertarik dengan seorang Park Yeol, si ‘Anjing Liar’ dari Korea. Keinginan Fumiko untuk mengetahui apapun tentang Park menggiring mereka pada pembentukan kelompok anarkis. Bersama teman-teman mereka yang bernama The Revolts, mereka pula membuat rencana pengeboman istana kerajaan yang ditujukan sebagai pembunuhan Pangeran Hirohito.

Cerita bermula ketika gempa besar mengguncang Distrik Kanto, Jepang yang menghancurkan Tokyo. Gempa dilanjutkan oleh kebakaran besar dan memakan korban hingga lebih dari 100.000 jiwa. Bencana tersebut membuat Pemerintah Jepang berpikir bahwa akan ada kerusuhan besar dan aksi protes rakyat yang menggiring mereka untuk membuat keadaan darurat militer bahkan sebelum kejadian tersebut benar-benar terjadi.

Menteri dalam negeri Jepang pun memanfaatkan keadaan tersebut untuk memuaskan dendamnya terhadap orang-orang Korea. Ia menciptakan histeria dengan menyatakan orang Korea telah membakar rumah dan meracuni sumur. Paranoia pribumi Jepang pada waktu itu memunculkan sejumlah kelompok preman sayap kanan yang berafiliasi dengan militer Jepang. Tindakan tersebut berujung kepada aksi genosida terhadap etnis Korea di Jepang pada waktu itu.

Peristiwa genosida mengakibatkan kematian terhadap lebih dari 6.000 orang Korea. Ketika kekerasan tersebut usai dan The Revolts dicari oleh polisi, Park memilih untuk menyerahkan diri. Ia beralasan bahwa akan lebih aman jika dirinya berada di dalam penjara polisi. Lama kemudian, rencana mereka mulai dirusak oleh tuduhan-tuduhan bohong yang digelontorkan pemerintah Jepang kepada mereka.

Supaya kelompoknya bisa bebas, Park mengajukan diri sebagai martir dengan mengaku sebagai dalang pembunuhan Pangeran Hirohito. Tak disangka, Fumiko yang selalu mengikuti Park kemanapun ikut mengaku bahwa pembunuhan tersebut adalah rencana mereka sejak lama.

Setelah pengakuan tersebut, Park dan Fumiko mulai “bermain-main” dengan segala tuduhan culas pemerintahan Jepang atas diri mereka. Mereka mengajukan permintaan yang aneh-aneh. Jika Pemerintah Jepang tidak mengabulkan permintaan tersebut, mereka berdua akan mengancam melakukan mogok makan. Alhasil, Pemerintah Jepang pun menuruti kemauan Park dan Fumiko.

Permintaan Park dan Fumiko dinilai cukup nyeleneh bagi pemerintahan. Contohnya, mereka meminta untuk diperbolehkan memakai baju adat Korea ketika persidangan. Mereka pula meminta pernikahan mereka disahkan. Namun yang paling menggelitik adalah ketika mereka meminta berfoto di ruang interogasi pengadilan Jepang dengan pose Park memegang payudara Fumiko sambil duduk bersama di kursi. Pose tersebut dimaksudkan untuk mengolok-olok sistem hukum Jepang.

Di akhir cerita, Park dan Fumiko mendapat keringanan hukum. Pangeran menurunkan hukuman mati mereka menjadi penjara seumur hidup. Bukan dengan niat baik kepada mereka, namun agar mereka terlupakan di penjara bukannya menjadi pahlawan, penjara Park dan Fumiko pun terpisah jauh. Tanpa disangka, ketika jauh dari Park, Fumiko meninggal dunia. Park dan The Revolts curiga bahwa Fumiko telah dibunuh atas suruhan pemerintah.

“Teruslah bersembunyi, namun ingatlah bahwa itu tak akan pernah bisa menutupi kebenaran.” Dengan jengkel, Park mengutuk pemerintahan Jepang. Dia dibebaskan pada tahun 1945, setelah kemerdekaan Korea dan meninggal pada tahun 1974 di Korea Utara.

Kelebihan film ini terletak pada kekuatan penggambaran karakter yang anarkis. Penggambaran The Revolts dalam film benar-benar berhasil menunjukkan bagaimana kelompok kolektif anarkis bekerja menjatuhkan martabat negara dan pemerintah. Ide-ide konyol dari Park yang penuh kejutan juga mendukung penggambaran jalan pikiran dari kelompok anarkis.

Namun masih ada beberapa kejadian yang membuat jalan cerita film sedikit “menggantung”. Kejadian tersebut adalah kematian Fumiko yang tak jelas penyebabnya, serta nasib Park yang masih di penjara ketika mendengar kabar istrinya telah tiada. Meski sempat kecewa oleh ending yang “gantung”, perasaan itu segera terobati melalui sepenggal teks berisi kisah kematian Fumiko dan nasib Park yang dimunculkan pada bagian awal credit title. 

Sutradara: Lee Joon-ik

Produser: Kim Sung-cheol

Penulis: Hwang Seong-gu

Aktor/Aktris: Lee Je-hoon Choi Hee-seo

Penata Musik: Bang Jun-seok Kang Eun-koo

Sinematografi: Park Sung-joo

Distributor: Megabox Plus M

Tanggal Rilis: 28 Juni 2017

Durasi: 129 menit

Negara: Korea Selatan

Bahasa: Korea, Jepang

Pendapatan: $16.9 juta

(Nabil/Akademika)

Editor: Kristika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *