Antara Dua Hati dan Ramalan

Tidak akan ada yang pernah tahu tentang masa depan, sebuah masa yang terjadi di waktu yang akan datang. Sebentar lagi, ada kisah dari gadis belia yang hidup dalam sebuah dilema percintaan atas dasar ramalan yang membelenggu. Gadis itu bernama Ayukanta Gautam. Ia sedang mengalami masa kaget kepala dua, alias dua puluh tahun usianya. Saking senangnya menyambut usianya yang lepas dari angka satu di setiap penambahan tahun, ia luput menyadari bahwa hidup yang penuh perjuangan baru dimulai dari kepala dua yang ia senangi.

Ayu memiliki kekasih bernama Andreana Selamet. Percintaan di antara kedua adam dan hawa itu mengalami pasang dan surut yang rumit. Tiada kata yang mampu menggambarkan betapa terlukanya mereka sebelum dipertemukan. Pertemuan singkat tanpa disengaja membuat keduanya menjalin asmara selama hampir lima tahun lamanya. Selalu ada perdebatan tak berujung, tangis yang tak henti mengaliri pipi tembem Ayu, ditambah keadaan keluarga keduanya yang terbilang sederhana.

Luka yang kerap membasuh Ayu dan Andre membuat sepasang kekasih ini harus tegar. Usia tak menjadi tolok untuk melihat dan mengukur tingkat kedewasaan seseorang, tetapi cara menyelesaikan konflik batin antara mereka berdua yang mesti diacungi jempol. Itulah mereka, dua lara yang bertemu menjadi satu arti cinta yang tidak mudah untuk dilepaskan.

Mempertahankan bukan suatu hal yang mudah, terlebih disaat hubungan Ayu dan Andre senantiasa diterjang badai masalah yang silih berganti. Dari sinilah akar masalah bermula. Ayu sangat menyukai ramalan, selalu ketergantungan dan ketagihan untuk mencari tahu. Berbeda dengan Andre yang sangat tidak peduli pesona dari ramalan apapun.

“Sayang, tahu gak ramalan buat minggu ini? Asmara kita gak baik-baik aja. Katanya ada yang akan sangat terluka, gatau deh siapa,” ucap Ayu menyindir.

“Itu loh ramalan, yang bikin manusia. Mana ada manusia yang sempurna? Gak usah ngaco gak jelas, ah,” balas Andre.

Dalam batin Ayu, ramalan mendapat posisi khusus di hatinya. Setiap masalah dalam hidupnya selalu dikaitkan dengan ramalan. “Mau sampai kapan ya aku kayak gini? Jadi stres sendiri dan gak jelas ujungnya,” ujar Ayu pada dirinya sendiri.

Ayu dan Andre berada pada satu tempat dalam mengenyam pendidikan yang sama, angkatan yang sama dan egois yang sama. Hal ini turut kerap mengganggu gadis itu dengan anggapan hubungan asmaranya tak akan berjalan lama. Hingga suatu waktu, di mana Ayu dan Andre harus terpisah oleh lautan. Saat itu Ayu harus ikut orang tuanya pulang kampung ke sebuah pulau di Kota Mataram. Ia sangat ingin bercerita tentang Andre dengan lantang, tapi apa daya, jalan hubungan mereka tak semulus aspal baru. Ayah Ayu sangat tidak mengizinkan putrinya dekat dengan laki-laki.

“Ayu sudah punya cowok, belum? Kalo belum, sini Wak Ade carikan yang sesuailah ya sama tipe kamu,” sahut paman Ayu di suatu ketika.

“Hahaha, siapa emangnya? Tipenya Ayu high class loh, ya,” jawabnya.

Pandang sinis dari Ayah Ayu membuatnya harus membelokan ucapan pamannya.

Hari terus berganti, hingga saat Ayu dan Andre yang sedang Long Distance Relationship (LDR) harus menelan dilema di atas hubungan mereka sendiri. Ramalan yang masuk akal hingga yang tidak masuk akal menjadikan mereka menduplikat diri menjadi anak kecil.

“Dre, tahu gak? Aku gak ngerti lagi harus gimana, hmm… mau berapa kali lagi aku harus menghindar? Ramalan yang gak pengin aku dengar mampir di kupingku,” ucap Ayu saat dirinya dan Andre saling bertukar kabar di telepon.

“Memangnya ada apa? Siapa yang meramalmu? Ada yang salah ya? Sepertinya ini tentang hubungan kita,” balas Andre.

“Aku bertemu keluarga jauhku yang katanya bisa melihat masa depan. Dia berkata jika kamu bukan yang terakhir buatku, hubungan kita akan semakin banyak masalah apabila dilanjutkan dan semakin serius. Ditambah lagi, sifatmu nanti akan ada yang membuat aku gak tahan dan memilih untuk pisah denganmu.”

Andre hanya diam mendengarkan dan membayangkan kekasihnya yang sedang bercerita sambal menangis dan tidak ingin melanjutkan perbincangan itu lagi.

“Sudahlah, itu juga ramalan, yang bilang manusia, Kalau kita saling percaya pasti gak akan ada masalah,” tandasnya untuk menenangkan sang kekasih.

Matahari berganti rembulan, panas berganti hujan, dan tawa dihancurkan tangis sejenak. Dua minggu di kampung halaman dengan belenggu ramalan yang sangat diambil hati oleh Ayu itu menjadikan gadis tersebut sangat menjaga jarak. Hingga akhirnya hubungan jarak jauh mereka menjadi sangat jauh dan tidak terkendali. Bagi perempuan labil penuh emosi yang menganggap ramalan itu nyata dan benar adanya, bukan hanya sekadar untaian kata sederhana dan kurang akurat kebenarannya, akhirnya berujung menuai pertengkaran antara dirinya dan Andre.

“Kamu kemana aja, sih? Ditelepon susah, di-SMS jarang di balas, berkabar dong! Kamu kira aku gak nungguin?!” ucap Andre dengan nada marah di suatu hari.

Sorry kalau aku sudah ngebuat kamu nungguin aku. Habisnya setiap kali aku mendapat ramalan lagi tentang hubungan kita, kamu gak peduli dan menganggap enteng semuanya,” balas Ayu lirih.

Loh, kan kita hidup bukan dari ramalan, Sayang. Semua itu ada di tangan Tuhan dan gimana cara kita ngejalaninnya sekarang. Sorry kalau sikapku sudah ganggu buat kamu,” Andre menimpali.

“Tapi setidaknya tanggapilah, tolong ngerti posisiku disini yang selalu diramalkan pisah sama kamu! Bakal ada sosok orang ketiga yang akan menjadi akhir bukan kamu, ditambah lagi si cowok ini dikenal baik keluargaku dan hubungannya akan baik bersamaku.” Ayu akhirnya mengungkapkan seraya meneteskan air mata.

Percakapan yang penuh emosi dan tangisan baru terhenti setelah sekitar tiga jam lamanya. Tidak ada solusi, yang ada hanyalah bayang semu dan rasa dilema yang semakin menjerat mereka berdua. Tiada kata manis untuk berpisah, terlebih lagi kecup hangat sayang yang semakin terkikis perlahan di antara mereka.

Ayu sudah tidak berada di kampung halamannya lagi, ia bertolak pulang ke rumah dengan keluarganya karena tuntutan pekerjaan sang Ayah. Pada akhirnya, Ayu dan Andre memutuskan berjalan di atas dilema yang semakin membuat mereka terombang-ambing di antara cinta dan ramalan yang kian merasuki setiap lapis hubungan mereka.

Oleh: Khania Pranisitha

Editor: Kristika, Juniantari

Ilustrator: Andre

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *