Arus Globalisasi, Ikuti atau Tidak?

Degradasi moral anak bangsa seakan menjadi momok yang terus ada dan berkembang. Menurunnya kualitas moral anak kadang tidak benar-benar menjadi perhatian bagi orang-orang terdekatnya. Degradasi moral masih dianggap sebagai hal remeh dan ‘angin lalu’ saja. Padahal, bangsa ini membutuhkan bibit-bibit unggul yang dapat meneruskan kemaslahatan negaranya. Sudah sejak dulu permasalahan sosial ini patutnya mendapat perhatian khusus dari para orang tua atau pemerintah. Ikut campur tangan orang tua sangat diperlukan, sebagaimana keluarga adalah lingkungan terdekat yang dimiliki oleh seorang anak yang baru lahir. Lain halnya lagi dengan pemerintah. Pemerintah memiliki peranannya sendiri untuk dapat menjaga kualitas moral anak bangsa. Salah satunya dengan memberi kebijakan terhadap era globalisasi. Patutnya pemerintah dapat lebih tegas untuk mengatur segala kelebihan dan dampak seperti apa yang akan muncul bila era modernisasi sudah menyerang masyarakat.

Faktor modernisasi dan globalisasi dalam degradasi moral memang menjadi sebab yang tak terelakkan lagi. Masalahnya yang menjadi pertanyaan, anak-anak bangsa ini harus mengikuti arus tersebut atau tidak? Menghadapi era globalisasi harus membutuhkan kesiapan mental yang kuat. Kita menyadari bahwa tidak mungkin pula masyarakat dituntut terlalu ketat menarik diri dari lingkungan globalisasi. Mau tidak mau, dunia semakin membuat kita bergantung dengan globalisasi. Dari berbagai gambaran tentang fenomena saat ini, sudah jelas yang memicu turunnya kualitas moral anak bangsa adalah karena anak bangsa belum memiliki kesiapan mental yang cukup untuk menerima arus globalisasi ini. Akibatnya, banyak anak bangsa yang baru menginjak dewasa akan menjadi lemah dan kecolongan akan bahaya globalisasi yang timbul. Secara tak sadar, anak bangsa justru tengah asik bermain dalam arus globalisasi sehingga melupakan bahwa dirinya telah turut mengikuti bahaya yang ada. Kesiapan mental yang tidak cukup, akan menyebabkan anak-anak bangsa kritis akan tutur kata yang baik, sikap yang sopan dan berperilaku jujur. Anak-anak yang sudah terjebak dengan lingkungan globalisasi tanpa pengawasan, akan cenderung melakukan sesuatu tanpa mempertimbangkan dampak negatif yang akan timbul bila mereka mengikutinya secara kebablasan. Hal itu disebabkan karena segala sarana untuk mengakses segala hal yang berhubungan dengan globalisasi sudah mudah dan serba ada.

Peran keluarga ibaratnya seperti sedang membangun sebuah pondasi. Maka membentuk kepribadian anak sejak dini merupakan hal utama yang harus direalisasikan. Hal itu merupakan bentuk tanggung jawab para orang tua dalam membangun dan menjaga bangsa ini agar tetap terjaga dengan baik melalui anak-anak yang dilahirkan serta dibesarkan dengan pembekalan yang kuat dan baik. Pembiasaan lingkungan keluarga dimulai dengan pendidikan agama yang bagus, budaya, sopan santun, serta perilaku tanggung jawab. Dengan pembentukan pondasi moral yang seperti itu maka saat beranjak dewasa, anak akan memiliki mental yang kuat. Dari mental yang kuat itulah, anak dapat memecahkan permasalahannya sendiri serta mampu memilah dan memilih sesuatu mana yang berpotensi memberikan dampak positif dan negatif.

Sungguh tabu bila yang dipersalahkan hanya dari pihak anak dan orang tua saja. Permasalahan ini pun perlu campur tangan dari pemerintah. Pemerintah yang baik adalah pemerintah yang dapat menjaga masyarakatnya dengan mempertahankan kualitas moral anak bangsa yang belakangan ini tergerus karena tidak mampu melawan arus globalisasi. Pemerintah yang bijak adalah pemerintah yang tahu apa yang harus dilakukan untuk mencegah kemungkinan terburuk yang akan terjadi bilamana arus globalisasi sudah terlanjur menyerang masyarakat. (Anik)

You May Also Like