Ary Cendani Setya Lestari : Tangkis “Krisis Tutur” bersama Bali Mendongeng

Kekhawatiran akan memudarnya budaya dan nilai  luhur  yang dimiliki anak  negeri “zaman now” membuatnya ingin terus menanamkan nilai-nilai positif dan menginspirasi sekitarnya melalui dongeng. Baginya dan kawan seperjuangannya, dongeng bukan hanya sekadar cerita yang layak diberikan untuk anak-anak. Nyatanya dongeng telah memberikan kontribusi besar bagi pengembangan intuisi, imajinasi dan nilai-nilai kebaikan dalam hidup.

Dongeng kerap dikenal sebagai pengantar tidur bagi sebagian anak-anak zaman dulu. Jika tidak mendengarkan dongeng dari ayah atau ibu, kemungkinan anak tersebut tidak bisa tidur dengan nyenyak. Tetapi bagaimana dengan anak ”zaman now,” apakah mereka masih menjadikan dongeng sebagai pengantar tidur dan sarana para orang tua untuk mengedukasi anak-anaknya?

Keresahan itu yang menjadi alasan perempuan bernama lengkap Putu Ary Cendani Setya Lestari bergabung dengan Komunitas Bali Mendongeng. Perempuan kelahiran 1993 ini sangat menyukai anak-anak. Hal ini lantas membuatnya lebih mudah untuk mengedukasi anak-anak melalui dongeng.

Keinginan untuk mempertahankan budaya dongeng dan kecintaannya terhadap anak-anak membuatnya berani berbuat lebih untuk memberikan semangat positif serta menginspirasi sekitarnya. Tekadnya untuk memberikan edukasi di kalangan anak-anak dan menanamkan nilai-nilai luhur membuat perempuan yang kerap disapa Cendani ini bergabung di Komunitas Bali Mendongeng sejak tahun 2017 hingga sekarang.

Berbeda dengan teman-temannya yang lain, Cendani mulai terjun dalam kegiatan sosial karena menurutnya kebahagiaan tidak sepenuhnya bisa diukur dengan materi semata. Bergabung dalam kegiatan sosial adalah panggilan jiwa yang datang dari diri sendiri untuk berbagi kebahagiaan kepada sekitarnya. “Tertarik kegiatan sosial karena menurut saya kebahagiaan tidak sepenuhnya bisa diukur dengan materi. Saya ikut kegiatan sosial memang karena panggilan jiwa, saya suka berbagi kebahagiaan. Malahan dari kegiatan sosial saya banyak belajar tentang arti bersyukur dan lebih banyak mendapat pengalaman serta teman baru yang positif saling support,” pungkas dara cantik itu.

Cendani bersama relawan mendongeng lainnya sering mendatangi desa-desa, sekolah dan pusat perbelanjaan untuk mengedukasi anak-anak melalui dongeng. Salah satunya, saat terjadi erupsi Gunung Agung, ia bersama kawan-kawan yang tergabung dalam Komunitas Bali Mendongeng berangkat ke tempat pengungsian untuk menghibur anak-anak yang terkena musibah melalui dongeng.

Mendatangi anak-anak dari berbagai desa, sekolah dan berbagai tempat lainnya memberikan banyak pelajaran kepada Cendani, terutama tentang arti bersyukur dengan keadaan. Baginya, dongeng adalah media yang paling tepat untuk mengasah imajinasi anak-anak. Dongeng juga menjadi penghubung baginya dengan orang yang belum dia temui sebelumnya.

Menurutnya, anak-anak di bangsa ini sekarang tengah mengalami degredasi nilai-nilai luhur. Budaya mendongeng mulai ditinggalkan sehingga anak-anak mengalami krisis tutur. Melalui Komunitas Bali Mendongeng, ia bertekad untuk menyelamatkan anak-anak negeri dari krisis tutur dan degredasi nilai-nilai luhur. “Saya dan teman-teman saya di Komunitas BM (Bali Mendongeng) ingin melestarikan budaya mendongeng, selamatkan generasi adik-adik di sekitar kita dari ‘krisis tutur’,” ungkap Cendani.

Selama bergabung di Bali Mendongeng, banyak tantangan yang harus dihadapinya. Terutama pada era milenial di mana anak-anak sudah mulai meninggalkan hal yang bersifat tradisional. Sehingga awalnya, sangat sulit menarik perhatian anak-anak agar mendengarkanya saat mendongeng. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan niatnya untuk terus menyelamatkan anak-anak “zaman now” dari krisis tutur. Akhirnya, ia bersama relawan lainnya menemukan cara lain untuk menambah minat anak-anak “zaman now” dengan medongeng. Ia menggunakan alat peraga berupa boneka tangan sebagai alat untuk menarik perhatian anak-anak.

Atas kegigihannya untuk tetap memukul mundur krisis tutur yang menghantui anak-anak “zaman now”, kini Bali Mendongeng sudah mulai dikenal oleh masyarakat. Selain itu, sudah banyak anak-anak yang tertarik ketika dirinya berserta relawan lain mendongengkan sebuah cerita.

Agar perjuangan yang telah ia lakukan bersama teman-temannya terus berlanjut di kemudian hari, Cendani juga berpesan untuk generasi penerus terutama perempuan-perempuan di luar sana. Zaman sekarang perempuan dan laki-laki sama derajatnya, jadi tidak perlu malu untuk mendongeng. “Jadilah perempuan yang cerdas, elegan, dan jadikan dirimu perempuan yang patut diperjuangkan,” tandasnya. Cendani pula berharap agar kedepannya, dongeng kembali hidup dan lebih banyak lagi yang mendongeng di kalangan masyarakat khususnya masyarakat Bali. (Nokia/Akademika)

Editor: Kristika, Juniantari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *