Asih: Luka dan Duka Sang Kuntilanak

Kesuksesan Film Danur, telah membuktikan minat masyarakat Indonesia terhadap film horor masih belum surut. Keinginan untuk mendulang kesuksesan serupa, sang produser pun merilis film Asih, film yang menceritakan kuntilanak yang menjadi tokoh hantu utama di film Danur.

Asih (Shareefa Daanish ) merupakan seorang perempuan yang hamil di luar nikah. Malangnya, lelaki yang menghamilinya tersebut tak mau bertanggung jawab. Asih pun diusir dari rumah karena dianggap membawa aib bagi keluarganya. Warga kampung tempatnya tinggal pun turut mencerca dan mencemoohnya. Melihat perbuatan hamil diluar nikahnya itu sebagai perbuatan yang kotor dan hina.

Bayi tanpa ayah itu kemudian lahir disebuah tempat di pinggiran desa. Sesungguhnya, Asih sangat ingin mempertahankan bayinya itu. Namun karena cercaan serta cemoohan yang ia terima, ia pun menjadi depresi dan gila. Dalam kegilaannya itu, tanpa sadar ia membunuh bayinya sendiri. Sadar akan apa yang ia lakukan, Asih pun akhirnya bunuh diri di bawah sebuah pohon besar dengan cara yang mengenaskan.

Arwah Asih pun tak tenang. Ia melakukan teror pada pasangan Puspita (Citra Kirana) dan Andi (Darius Sinathrya), sepasang suami istri yang baru saja dikaruniai seorang bayi. Semula, Asih hanya mengganggu Puspita, karena statusnya sebagai ibu yang bari melahirkan seorang bayi. 

Gangguan-gangguan itu pun kemudian berubah menjadi teror. Teror yang tak hanya dilihat oleh Puspita tetapi juga oleh seluruh penghuni rumah termasuk mertuanya yang menderita demensia. Teror Asih ini pun kian meresahkan, sehingga Andi pun harus memanggil seorang paranormal. Akhirnya, kehadiran paranormal ini pun mengantarkan keluarga Andi dan Puspita pada jawaban dari misteri teror Asih.

Mitos yang berkembang dalam masyarakat Indonesia, menggambarkan kuntilanak sebagai arwah dari seorang perempuan yang meninggal saat sedang hamil, melahirkan atau akibat kekerasan yang dilakukan oleh laki-laki. Kuntilanak digambarkan memiliki rambut yang sangat panjang, berpakaian putih seperti kain kafan dan wajah yang seram. Namun, Asih digambarkan dengan sedikit berbeda, dengan daster berwarna kecoklatan dan memiliki kerah. Asih pun diceritakan meninggal karena bunuh diri, tidak mati seperti sebab-sebab yang dimitoskan.

Perbedaan sosok Asih ini telah memberikan kesan yang berbeda dari film-film horor tentang kuntilanak yang pernah rilis sebelumnya. Misteri serta hubungan antar kejadian  yang disajikan dalam film ini pun cukup lekat dengan realitas kehidupan masyarakat Indonesia sehingga terasa nyata dan mudah diterima oleh seluruh kalangan.  

Visual Asih yang cukup menyeramkan dan sound effect yang membuat penonton terkejut menjadi poin utama keseraman film. Latar suasana tahun 80-an dalam film ini begitu dirasakan oleh penonton. Hal ini juga didukung dengan tempat dan properti yang digunakan menambah suasana “antik” film ini. Suasana tahun 80-an ini tentu memberikan efek seram

pada film Asih, mengingat pada masa itu hal-hal mistis masih sangat kental dalam budaya masyarakat.

Namun, keseraman film ini terbilang masih kalah dari film pendahulunya Danur. Terlebih jika dibandingkan dengan film-film horor Asia Tenggara lainnya seperti Pee Mak, Coming Soon atau Pengabdi Setan. Alur cerita dan ending film ini masih mudah ditebak, sehingga tidak banyak memberi pengalaman horor seperti yang diekspetasikan para pecinta horor. Hal ini membuat film Asih lebih cocok ditonton bagi mereka yang tidak terlalu suka horor. Meski demikian, film Asih masih dapat dijadikan sebagai pilihan tontonan di akhir pekan.

Judul : ASIH

Permain : Shareefa Daanish, Citra Kirana, Darius Sinathrya, Marini, Djenar Maesa Ayu

Produser : Manoj Punjabi

Sutradara : Awi Suryadi

Penulis : Lele Laila

Produksi : MD Pictures 

Durasi : 78 menit

(Indah/Akademika)

Editor: Via/Akademika[wds id=”0″]