Babi Panggang Khas Tanah Karo

 Kondisi cuaca yang dingin dan pekerjaan mayoritas penduduk yaitu petani memaksa masyarakat di Tanah Karo untuk mampu mengolah apa saja sumber makanan di sekitar tempat mereka bermukim, salah satunya ialah Babi Panggang Karo atau biasa disingkat BPK.

Sumatera Utara merupakan salah satu provinsi yang terkenal akan keberagaman agama, suku dan budayanya. Salah satu suku yang mendominasi jumlah pendudk Sumut ialah Karo. Berbeda dengan suku Batak yang berasal dari dataran Danau Toba, suku Karo menempati tempat yang lebih tinggi di daerah Tanah Karo. Kondisi cuaca yang dingin dan pekerjaan mayoritas penduduk yaitu petani memaksa masyarakat setempat untuk mampu mengolah apa saja sumber makanan di sekitar tempat mereka bermukim, salah satunya ialah Babi Panggang Karo (BPK).

Babi Panggang Karo ialah olahan babi yang dipanggang atau dibakar, makanan ini banyak ditemui di Kota Kabanjahe, Brastagi sekitarnya dan tentunya Medan dengan masyarakat Karo sebagai pemilik kedai atau warung makanan tersebut. Yang membedakan olahan Babi Panggang Karo dengan yang lain adalah  pemangangan yang dilakukan lebih unik dengan irisan lebih halus serta pemilihan bagian daging yang tepat. Saat dihidangkan Babi Panggang Karo juga akan ditambahkan dengan sajian daun singkong dan kincong yang telah dihaluskan dan dimasak secara khas. Saus yang disediakan juga unik karena berasalah dari darah babi itu sendiri. Darah babi terlebih dahulu dipanaskan dengan air di atas bara api lalu dibumbui dengan asam dan ramuan lainnya. Setelah matang, saus akan berwarna kecoklatan.

 

Biasanya, pemilik kedai membagi porsi babi kedalam tiga jenis, yaitu kecil seharga Rp.18.000, sedang seharga Rp.22.000, besar seharga Rp.25.000, namun ini hanyalah perkiraan dan pengambilan harga secara umumnya. Biasanya minuman yang disajikan ialah Teh Manis Dingin (Es Teh Manis) sebagai pelengkap pengusir lapar dan dahaga. Kedai yang menjual makanan ini sangat ramai dikunjungi pembeli terutama di jam makan siang. Di Tanah Karo, siang hari akan dipenuhi oleh petani dan masyarakat sekitar serta wisatawan (Tanah Karo merupakan daerah tujuan wisata). Lain di Medan, jam makan siang akan dipenuhi oleh pekerja kantor serta mahasiswa karena banyak ditemukan kedai Babi Panggang Karo di sekitar Universitas Sumatera Utara (USU) yang mayoritas penduduk di sekitar daerah kampus tersebut ialah masyarakat Karo. Masyarakat yang memeluk agama Islam yang dilarang menyantap panganan babi, tidak mempermasalahkan keberadaan BPK. Terbukti dengan keberadaan kedai penjual daging tersebut masih aman dan eksis hingga sekarang ini.

 

Bagi masyarakat yang tinggal di Pulau Dewata Bali juga bisa menikmati Babi Panggang Karo. Di Bali sendiri, kedai penjual BPK terdapat di Desa Adat Pemogan di Kota Denpasar, dekat dengan Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) yang merupakan tempat beribadah masyarakat Karo yang beragama Kristen. Tentu saja pemilik kedai tersebut juga merupakan orang keturunan Karo yang sudah lama menetap di Pulau Dewata.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *