Bali Jadi Wisata Halal: Siapkah Kita?

Bali bukan sekedar destinasi wisata. Bali adalah budaya, pariwisata Bali berbasis pada budaya. Mengubah Bali demi menarik wisatawan, sama saja menjual Bali untuk pariwisata.

 

Surga kecil dengan berbagai keindahan dan budayanya menjadikan Pulau Bali sebagai destinasi wisata dunia. Bali juga dikenal dengan sebutan Pulau Dewata dan Pulau seribu Pura, memiliki tempat-tempat yang indah membuatnya menjadi salah satu agenda berkunjung di kala masa berlibur datang. Bali memiliki daya tarik dan ciri khas tersendiri bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Betapa tidak, Bali yang terkenal akan keindahan pantai, alam serta budayanya mampu menyajikan kesan tersendiri bagi wisatawan. Karena Bali merupakan destinasi wisata yang menjanjikan, calon wakil presiden (cawapres) Sandiaga Uno mengusulkan untuk mengembangkan wisata halal di Bali.

Usulan Sandiaga Uno ini melahirkan polemik serta penolakan yang terus terjadi, baik dari masyarakat sendiri maupun dari Pemerintah Provinsi Bali, khususnya pengusaha pariwisata di Bali. “Ide Sandiaga itu bukan untuk mewujudkan wisata halal dengan model syariah, melainkan hanya berupa panduan lokasi musala ataupun restoran halal yang ada di Pulau Dewata,” terang Fabian Andrianto Cornelis, selaku Direktur relawan Badan Pemenangan Daerah (BPD) Prabowo-Sandi di Bali.

Jika benar, yang dimaksudkan Sandiaga Uno hanya berupa panduan lokasi mushala atau restoran halal, hal ini tentu dipermasalahkan mengingat Bali sudah kaya akan mushala dan restoran halal. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Bali per tanggal 15 Februari 2018, jumlah penduduk muslim di Bali sendiri telah mencapai 520.244 jiwa. Di Denpasar sendiri, jumlah penduduk muslim telah mencapai 225.899 jiwa dan sebagian besar telah menetap lebih dari satu tahun.

Seiring dengan bertambahnya umat muslim di Bali, restoran-restoran halal di Bali pun kian menjamur. Begitu juga dengan mushala atau masjid. Pemerintah Provinsi Bali telah menyediakan tempat beribadah masjid dan mushala yang tersebar di seluruh penjuru Bali dan mudah dijangkau dari lokasi-lokasi pariwisata. Menemukan mushala ataupun restoran halal tentu bukan lagi masalah mengingat banyaknya saudara-saudara muslim kita yang menetap lama di Bali.

Namun, jika yang Sandiaga Uno maksudkan adalah mengubah Bali menjadi wisata halal berbasis syariah, tentu hal ini akan merugikan banyak pihak. Sebagaimana yang diucapkan oleh Gubernur Bali I Wayan Koster, “Bali itu berbeda dengan daerah lain di Indonesia, bahkan sangat berbeda dari destinasi lain yang ada di dunia. Bali itu konsepnya pariwisata budaya, budaya yang menjadi obyek pariwisata tidak hanya sekadar menjadi atraksi belaka, tetapi memang dirayakan dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Bali. Kalau mau disyariahkan, yang mana, kita harus tegas. Jadi kita menolaknya.”

Pariwisata budaya yang ada di Bali tentu berbeda dengan pariwisata budaya yang ada di daerah lainnya. Budaya dan masyarakat Bali sendiri merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Apabila konsep pariwisata budaya Bali ini diubah menjadi lebih syariah, tentu juga akan mengubah nilai-nilai fundamental masyarakat Bali.

Hal ini juga nantinya akan berdampak pada perkembangan pariwisata Bali itu sendiri. Jika kita menengok sejarah, Bali pertama kali dikenal sebagai destinasi pariwisata sejak dibukanya perwakilan resmi urusan pariwisata pertama, “Official Tourist Buerau” pada tahun 1924. Sejak saat itu Bali dipuja-puja karena keunikan budaya yang tiada duanya. Banyak pelancong datang ke Bali, dengan cepat keindahan Bali ini pun menjadi buah bibir hingga ke Eropa.

Keunikan budaya Bali ini telah mengundang banyak seniman luar negeri untuk datang melihat budaya Bali yang berselimut kesenian. Bali juga dipercaya sebagai “The Island of Gods” karena budaya Bali itu sendiri berkaitan langsung dengan adat istiadat keagamaan Hindu di Bali yang tujuannya adalah untuk memuliakan Tuhan.

Mengenai usulan Sandiaga Uno, agaknya hal tersebut perlu dipertimbangkan kembali mengingat mengubah konsep pariwisata Bali sama dengan mengubah nilai-nilai fundamental masyarakat Bali. Bisa jadi, Sandiaga Uno untuk mengembangkan wisata halal di Bali mungkin bertujuan baik untuk mengembangkan wisata baru serta meraup keuntungan khususnya pelancong dari Timur Tengah. Permasalahan mengenai pariwisata Bali ini bukanlah hal yang pertama. Muliaman Hadad, Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah pernah mengungkapkan keinginan mengubah Bali menjadi wisata syariah. Kini, Sandiaga Uno pun mengungkapkan hal yang serupa.Namun, tanpa diberlakukan wisata halal ini pun, sesungguhnya pelancong dari Timur Tengah pun sudah banyak yang berkunjung ke Bali.

Dilansir dari detik.com, General Manager Bandara Ngurah Rai, Yanus Suprayogi mengungkapkan pada periode Januari-Juli 2017, jumlah wisatawan Timur Tengah yang datang ke Bali pun mencapai angka 35.000 wisatawan.

Mungkin angka tersebut belum cukup untuk memenuhi ekspetasi dari Sandiaga Uno terhadap Bali. Memang, wisata Bali berbasis syariah ini dapat menarik para wisatawan Timur Tengah. Namun kembali lagi hal ini tentu akan mengubah nilai-nilai masyarakat Bali, mengubah struktur kebudayaan masyarakat Bali. Siapkah kita mengorbankan budaya kita demi pariwisata semata?

(Wulandari/Akademika)

Editor: Teja S/Via/Akademika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *