Berangkat

Oleh Ratih Pravitha

 

Panggilan kedua untuk para penumpang pesawat jurusan Denpasar-Jakarta kembali bergema. Aku segera menghabiskan cemilan yang kubeli saat perjalanan ke bandara. Orang-orang mulai mengemasi barang-barang mereka, berlalu-lalang di sekitarku. Satu gerakan cepat, aku mengambil ransel besar yang kuletakkan di samping kakiku dan bergegas mengikuti rombongan tersebut. Kami berjalan dalam satu barisan besar menuju pesawat yang telah terparkir di luar gedung. Aku mengembuskan napas panjang. Sudah lama sekali semenjak aku melakukan perjalanan ini.

Usai masuk ke dalam kendaraan besar tersebut, aku lekas mencari nomor tempat dudukku. Sesekali mengucapkan kata “Permisi” dan “Maaf” karena harus bersenggolan dengan penumpang-penumpang lain. Ketika aku berhasil menemukannya, seorang pemuda lain yang bertubuh kurus dan hanya setinggi bahuku tengah mengalami kesulitan meletakkan tasnya di bagasi kabin. Aku menelengkan kepala. Jaket berwarna marun yang dikenakan pemuda itu tampak tak asing.

“Mahasiswa Unud juga, ya?” tanyaku spontan. Laki-laki itu menoleh—tampak terkejut dengan pertanyaanku. Ia lalu meringis dan menarik tasnya kembali.

“Eh, iya.” Jeda sejenak dan belum sempat aku bicara lagi, ia sudah membuka mulut. “Boleh minta tolong? Saya tidak bisa menaruhnya di sana.”

Tanpa diminta dua kali, aku segera mengambil tas anak itu dan meletakkannya di tempat yang ia tunjukkan, berikut tas ransel yang kusangga di bahuku. Setelah mengucapkan kalimat terima kasih, anak itu lekas mengambil tempat duduk di dekat jendela. Wajahnya berseri-seri menatap ke luar. Aku tak bicara banyak, memilih untuk lekas duduk di sampingnya. Toh, kami memang sudah duduk sesuai nomor tiket.

Anak itu kemudian menoleh padaku. “Dari jurusan mana, kak?” Ia bertanya. Aku yang hendak memasang headphone akhirnya menggantungkan benda itu di leher.

“Arkeologi,” jawabku singkat. Wajahnya tampak terkejut sekaligus takjub dengan jawabanku.

“Wah, hebat sekali. Aku sama sekali tidak punya teman atau kenalan dari jurusan itu,” ujarnya. Sedetik kemudian, dia langsung mengulurkan tangan. “Aldo, Sosiologi angkatan 2019.”

“Bram.” Lagi-lagi aku menjawab dengan satu kata. Bukannya aku tak ingin bicara dengan pemilik nama Aldo itu. Irit bicara tampaknya sudah menjadi kebiasaan yang melekat kuat dalam diriku.

Namun, sebaliknya Aldo tampak antusias mengobrol denganku.

“Kakak angkatan berapa?”

“2015.”

“Wah, sudah lulus, ya.”

Mendengarnya bicara demikian, aku terkekeh. Seharian ini aku belum tertawa sama sekali. Semenjak berangkat dari kos hingga duduk di kursi pesawat. Aku menggeleng-geleng. “Yah, aku sedang menunggu wisuda makanya pulang dulu.”

Tepukan tangan sekali dari Aldo tidak terlalu terdengar olehku karena pramugari kini tengah menjelaskan prosedur penyelamatan diri di depan barisan kursi. Aku tidak terlalu mendengarkan dan hanya beringsut mengubah pengaturan ponselku ke airplane mode.

By the way, kamu dari Jakarta daerah mana?” Aku mulai membuka topik baru dengan Aldo. Ia tak langsung menjawab dan sibuk mengetikkan sesuatu di ponselnya. Samar kulihat tampilan WhatsApp di sana.

“Cepat matikan datanya, pesawat akan take-off sebntar lagi.”

Anggukan cepat ia berikan. “’Bentar kak, aku lagi bilang ke ibu kalau pesawatnya sudah mau berangkat,” jawabnya tanpa menoleh. Aku terdiam.

Jawaban Aldo mengingatkanku kembali akan alasan diriku berada di pesawat ini. Keberangkatanku, pesan dari Ayu yang menyuruhku untuk pulang setelah sidang, dan kabar-kabar yang tak pernah tersampaikan pun kutanyakan. Sama sekali aku tidak menghubungi ibuku mengenai perjalananku ini.

“Aku orang Bogor, kak.” Suara Aldo membuyarkan lamunan singkatku. Ia menoleh padaku. “Kalau kakak, orang mana?”

Butuh waktu untukku menjawab pertanyaan itu sebelum satu kata kembali meluncur dari bibirku. “Warakas,” Aku menjawab dengan nada datar. Seolah Aldo menanyakan balik hal tersebut merupakan sebuah kesalahan. Melihatnya masih terdiam, aku akhirnya mengutarakan hal lain.

“Tampaknya, kamu sangat bersemangat untuk bertemu ibumu.”

Giliran Aldo yang tertawa. “Aku sudah tidak bertemu semenjak bulan Juli kemarin. Sedih rasanya berpisah tapi mama selalu menyemangatiku. Ia senang sekali aku bisa mewujudkan impianku kuliah ke Unud. Setiap minggu aku ditelpon, bertanya tentang kuliah dan lain-lain. Makanya, aku sudah tidak sabar untuk segera pulang dan bertemu dengannya.” Wajahnya beralih memandang ke luar jendela. “Pasti mama sudah kangen sekali karena aku anak laki-laki satu-satunya. Kakak dan adikku perempuan,” tambahnya. Samar kulihat, bibirnya tengah membentuk senyuman. Aldo memang terlihat sangat gembira karena akan bersua kembali dengan ibunya.

Aku terdiam. Berkebalikan dengannya, aku tak pernah merindukan orang-orang di rumahku. Bahkan aku tak menyebut perjalanan ini sebagai sebuah kepulangan. Alih-alih, aku menganggapnya sebagai sebuah keberangkatan. Pergi dari kos dan kampus yang menjadi tempat ternyamanku. Meninggalkan kawan-kawanku barang sejenak. Sesungguhnya aku lebih sedih mengingat akan berpisah sementara dengan mereka dibandingkan dengan kerinduan akan ibuku yang tak pernah kutemui sejak aku pergi ke Pulau Dewata ini.

“Sampai rumah nanti pasti langung peluk mama,” Aku lantas menyahuti ucapan Aldo dengan setengah bercanda. Ia terkekeh dan—di luar dugaanku—mengangguk.

“Kemarin, sebelum berangkat ke sini, mama peluk aku erat sekali. Ia menangis dan aku ikut menangis juga karenanya. Meskipun ia mendukung cita-citaku, mama tetap sedih ketika harus berpisah,” Aldo kembali berkisah. Aku manggut-manggut.

“Ibuku tidak menangis saat aku pergi. Aku bahkan belum bertemu dengannya semenjak kuliah di sini.”

Ucapanku membuat Aldo menoleh dengan raut wajah serius. “Kenapa? Kita ‘kan dapat waktu libur setiap akhir semester, seharusnya kakak pulang untuk bertemu dengannya.”

Satu tarikan napas panjang dan aku akhirnya mengalah pada Aldo. Sesungguhnya aku tak pernah berniat membagikan cerita ini, tetapi tampaknya dia bukan seseorang yang akan menghakimi ceritaku.

“Aku bekerja selama liburan. Ketika tahu ibuku tidak menyetujui jurusan kuliah yang aku ambil, aku diam-diam bekerja selama liburan setelah pengumuman SNMPTN. Dengan uang itu dan bantuan kecil dari pamanku yang sangat mendukung pilihan ini, aku akhirnya berangkat. Tidak ada yang mengantarkan dan tidak ada anggota keluargaku yang menghubungiku, sampai setahun setelahnya. Adikku meneleponku untuk pertama kali saat aku di semester dua. Hanya berbicara soal kangen dan menanyakan kabarku. Saat itu, ibu masih marah dan aku bilang padanya untuk tidak mengkhawatirkanku daripada ia ikut dimarahi oleh ibu.”

“Ayahmu tidak bicara apa-apa?”

Pertanyaan Aldo itu membuatku menundukkan kepala. “Ayah sudah tidak ada. Sakit saat umurku delapan tahun.”

“Maaf karena sudah menanyakan hal itu,” kata Aldo kemudian. Raut wajahnya menunjukkan rasa bersalah. Aku tersenyum tipis dan mengibaskan tangan.

“Tidak apa, kau ‘kan memang tidak tahu.”

Hening sejemang, Aldo tampak mencari-cari pertanyaan lain untuk membuatku melanjutkan cerita. Ia kemudian mengangkat kepala seraya berkata, “Lalu, mengapa kakak akhirnya pulang sekarang?”

Aku memandang lurus ke depan. Memutar memori untuk menemukan jawaban dari pertanyaan tersebut.

“Semenjak telepon dari adikku itu, kami sering bertukar pesan. Selama dua tahun, Ayu masih mengatakan hal yang sama. Ibu kami tidak pernah setuju dan tidak peduli denganku. Wajar, ibuku ingin aku berkuliah di jurusan yang bergengsi, Hukum misalnya. Apalagi dengan catatan prestasiku selama bersekolah. Sayangnya, passion-ku bukan di situ. Aku ingin mendalami sejarah dengan mempelajari peninggalan-peninggalan dari masa lalu. Mungkin terdengar aneh bagi sebagian orang, tapi menurutku dengan mempelajari yang terjadi di masa lampau, kita mengenali jati diri kita dan menentukan cara yang baik dalam membangun masa depan.”

Aldo manggut-manggut. “Itu hal yang bagus. Tekad kakak sudah bulat karena memiliki alasan sendiri.”

“Benar sekali,” ujarku. “Makanya, aku sangat nyaman tinggal di sini. Aku tidak lagi memikirkan soal ibu dan rumah di Jakarta. Teman-temanku juga sangat menyenangkan.” Aku mengambil jeda sejenak. “Namun, ketika aku sedang melakukan PKL, Ayu bilang kalau akhirnya ibu mengerti. Ia berani mengatakan alasanku memilih kuliah ini karena ia juga akan masuk kuliah. Meskipun tidak merantau, ia berhasil membujuk ibu untuk berkuliah di jurusan DKV karena ia memang berbakat dalam seni. Sama denganku, Ayu awalnya tidak mendapat restu ibu, tetapi ketika ia mengutarakan alasannya, ibu kami pun luluh dan memberikan restu sepenuhnya.”

“Kakak salah karena tidak bilang pada ibu dan memilih langsung pergi,” Tahu-tahu Aldo menyahuti dengan suara pelan. Aku tersenyum.

“Ya, aku mengerti hal itu setelah Ayu menceritakannya padaku. Kami terlalu mengagungkan ego masing-masing. Tetapi, aku tetap tak ingin pulang. Sampai akhirnya Ayu membujukku untuk pulang setelah sidang dan kembali ke sini saat wisuda bersama ibu. Mau tak mau, aku setuju karena sudah tak ada tanggungan lagi di sini,” Aku menjelaskan kemudian. Entah mengapa, menceritakan semua ini pada orang yang baru kukenal membuat beban di hatiku sedikit terangkat. Aldo juga mendengarkan dengan saksama, tidak menghakimi pun mengabaikan ceritaku sama sekali.

“Sampai rumah, kakak juga harus peluk ibu yang erat. Minta maaf padanya,” sahut Aldo. Ia menepuk bahuku sekali. “Aku harap setelah ini hubungan kalian membaik.”

Thanks.” Aku tersenyum simpul. Aldo kemudian merogoh ponselnya kembali.

“Kakak ada IG atau WhatsApp? Mungkin kita tidak akan bertemu lagi setelah ini, tetapi aku ingin tahu kelanjutan cerita kakak—kalau kakak berkenan.”

“Bukan masalah. Siapa yang tahu kalau kita akan saling membutuhkan di masa depan?” sahutku sambil ikut membuka kunci layar ponsel. Aldo hanya mengulas senyum dan kami saling bertukar nama akun Instagram dan nomor telepon setelahnya.

***

Langit sudah berwarna kemerahan saat aku sampai di depan gerbang rumah. Catnya tampak baru, mungkin masih berumur satu tahun atau kurang. Aku menarik napas panjang dan mendorong pagar besi tersebut. Tidak dikunci memang, ibu biasa membiarkannya seperti itu jika ada lebih dari satu orang di rumah. Dapat kusimpukan, Ayu juga sedang di rumah saat ini.

Setelah melepas sepatu di teras depan, aku lekas menuju pintu dan mengetuknya tiga kali. Suara Ayu samar terdengar dari dalam rumah. Mengisyaratkan padaku untuk menunggu. Sepuluh detik kemudian, terdapat suara gemerisik dari balik pintu dan daun pintu berwarna cokelat itu pun terbuka. Ayu tampak di sana dengan raut muka terkejut.

“Abang pulang!”

Ia langsung menghambur ke pelukanku. Aku terkekeh dan balas memeluknya. Sudah lama sekali, gadis kecil yang dulu kutinggalkan kini menjelma menjadi seorang gadis dewasa yang tingginya sudah mencapai bahuku. Kami masih bertahan di posisi masing-masing sampai suara ibu terdengar dari dalam rumah.

“Ibu,” ucapku pelan, tapi cukup untuk didengar Ayu. Ia melepaskan diri dan berbalik, menemukan ibu kami sedang berjalan ke arah kami. Wajahnya jauh berbeda dengan yang kuingat. Tampak lebih keriput dengan mata sayu yang sedikit berair memandangku tak percaya.

“Aku pulang, bu.”

Satu langkah maju, aku langsung mengikuti perkataan Aldo di pesawat. Memeluk erat tubuh ibuku selagi berbisik di telinganya.

“Maaf, Bram baru bisa pulang sekarang. Ibu, apa kabar?”

Namun, bukan jawaban yang kudengar. Ibuku menangis di bahuku, membuatku ikut menitikkan air mata sambil memeluknya semakin erat. Ayu yang melihat kami kini mengusap matanya, tampak ikut terharu dengan pertemuan ini. Aku menyembunyikan wajahku di bahu ibu. Akhirnya, aku bisa mengerti perasaan Aldo saat itu. Ibu kami sama-sama menangis, saat kami akhirnya berangkat. Bagi Aldo, keberangkatan adalah saat ia berangkat mengejar cita-citanya. Bagiku, keberangkatan merupakan sebuah pilihan berat untuk menyelesaikan kesalahpahaman yang terlalu lama membekas. Berangkat, menuju ke kehidupan yang lebih baik.

_Selesai_

You May Also Like