Berlari dari Duniawi Selama Hari Raya Nyepi

Pada Hari Raya Nyepi tahun 2019, kembali beredar kabar bahwa saluran internet seluler akan dimatikan secara total di wilayah Provinsi Bali. Kabar tersebut didasari oleh pendapat – pendapat para pemuka agama dan majelis keagamaan yang ada di Provinsi Bali. “Kami akan mengikuti arahan Pemerintah. Mengacu dengan pengalaman tahun sebelumnya, dalam pelaksanaannya memungkinkan untuk dilakukan,” kata Corporate Communication XL Axiata East Region, Ibnu Syahban seperti yang dilansir dari media massa Kompas.

Hari Raya Nyepi memang menjadi hari yang spesial bagi masyarakat di Bali. Hari raya Nyepi merupakan hari yang sangat baik untuk mencoba mengendalikan diri dari hal-hal yang berbau keduniawian. Hari Raya Nyepi didasari oleh “Catur Brata Penyepian”. Konsep tersebut memiliki empat larangan – larangan dasar yang dihindari untuk dilakukan pada saat melaksanakan brata (pengendalian diri) pada saat Nyepi. Yang pertama adalah amati geni yang berarti tidak menyalakan api. Artinya, mereka yang melaksanakan brata dilarang untuk menggunakan api dalam aktivitas seperti memasak. Yang kedua adalah amati karya yang berarti dilarang melakukan pekerjaan apapun. Yang ketiga adalah amati lelungaan yang berarti dilarang bepergian. Artinya, mereka yang melaksanakan brata diwajibkan untuk mengistirahatkan indera – indera yang mereka memiliki dari rutinitas sehari – hari baik untuk bekerja maupun bepergian. Dan yang terakhir adalah amati lelanguan yang berarti dilarang untuk mencari hiburan ataupun bersenang – senang.

Larangan yang terakhir pasti terasa sulit bagi mereka yang memang memiliki niat minim untuk melaksanakan brata sepenuhnya. Sebelum tahun 2018, koneksi internet dan jaringan seluler di wilayah Provinsi Bali tidak terpengaruh dengan kehadiran Hari Raya Nyepi. Pada periode tersebut, produk berbasis teknologi hiburan yang dilarang untuk “menyala” pada saat Hari Raya Nyepi hanyalah jaringan televisi kabel, satelit, dan parabola. Jaringan televisi mati sepenuhnya sedangkan koneksi internet tidak dimatikan. Kemudian pada tahun 2018, muncullah wacana untuk mematikan seluruh jaringan internet di Provinsi Bali. Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali, I Gusti Ngurah Sudiana, mengatakan pada tahun 2018 bahwa imbauan menghentikan layanan seluler merupakan kesepakatan dari berbagai elemen masyarakat. “Biar umat lebih fokus dan bisa menjalani amati lelanguan.” tutur Sudiana seperti yang dilansir dari media massa Tribun Bali.

Alasan kedua yang menjadi alasan mengapa koneksi internet akhirnya dimatikan adalah keamanan. “Tahun lalu, kan ada kejadian pecalang mengamankan warga, tapi di media sosial informasinya malah dipelintir. Akhirnya jadi ribut.” ujar Sudiana. Banyak ujaran provokatif, disinformasi, dan hoax yang beredar di linimasa media sosial pada saat hari raya Nyepi pada tahun – tahun sebelumnya. Kasus – kasus inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa koneksi internet dimatikan di kawasan Provinsi Bali.

Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin meminta masyarakat di Provinsi Bali untuk menghormati usulan penghentian internet selama 24 jam pada saat Hari Raya Nyepi di Bali, pada 7 Maret 2019 mendatang. “Segala hal yang bisa mengganggu proses kontemplasi itu memang sebaiknya dihindari, termasuk internet,” ujar Menteri Agama RI saat menghadiri Rapat Koordinasi di Bali, pada Jumat, 22 Februari 2019. “Menurut saya, kita-kita yang tidak menjalani Nyepi harus memberikan toleransi, penghormatan, penghargaan kepada yang sedang beribadah,” kata Menteri Agama RI seperti yang dilansir dari media massa Tribun Bali.

Keputusan apapun nantinya yang akan dihimbau kepada masyarakat Provinsi Bali, tentunya akan menimbulkan pro dan kontra di mata masyarakat. Tetapi apabila internet ternyata benar dimatikan pada Hari Raya Nyepi, tentu masyarakat Bali akan diuji selama 24 jam untuk bisa tetap mengendalikan diri, menahan nafsu, dan belajar untuk tidak merasakan nikmat keduniawian. Cara pemerintah dengan mematikan koneksi internet bisa dibilang cukup efektif untuk meningkatkan awareness masyarakat Bali mengenai pentingnya bertoleransi. Tetapi, meningkatkan awareness saja tidak cukup. Masyarakat Bali yang memang seharusnya ikut melaksanakan Catur Brata Penyepian, harus lebih berani untuk memanfaatkan Hari Raya Nyepi sebagai hari untuk bisa berintropeksi terhadap diri sendiri atau bahkan mencoba melaksanakan Catur Brata Penyepian secara seutuhnya.

Apalagi, godaan bagi mereka yang seharusnya merayakan Catur Brata Penyepian sudah tereduksi dengan tertutupnya akses internet, televisi, radio, dan teknologi – teknologi hiburan lainnya. Sebuah kerugian besar apabila esensi dari Hari Raya Nyepi dibuang begitu saja dan dilupakan oleh mereka yang seharusnya menghargai kehadiran brata pada Hari Raya Nyepi sebagai bagian dari budaya yang tidak ada salahnya untuk dicoba, bahkan untuk kaum muda sekalipun. (Gusde/Akademika)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *