Budaya Sampah Usai Perayaan, Salah Siapa?

Oleh: Audini Nifira

Editor: Kiki Kristika, Juniantari

Ilustrator: Linda

Meski penanganan sampah telah gencar dilakukan di berbagai tempat, namun kenyataannya di lapangan masalah membuang sampah sembarangan masih banyak ditemui. Mirisnya, perilaku ini muncul pada tempat-tempat diselenggarakannya sebuah acara seperti konser, pagelaran budaya, kegiatan kampus, maupun event besar lainnya.

Gerakan Bersih Sampah yang secara serentak diselenggarakan di seluruh Kabupaten/Kota di Bali dalam rangka memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2018 pada Jumat (23/02/2018) lalu merupakan salah satu upaya nyata dalam menyelesaikan masalah sampah yang semakin lama kian meresahkan. Tujuannya tidak lain untuk mengajak masyarakat agar membuang sampah pada tempatnya. Ironisnya, pada kenyataan di lapangan masih saja ditemui perilaku membuang sampah sembarangan di berbagai tempat acara besar. Kenyataan yang berbanding terbalik dengan harapan ini pun menimbulkan pertanyaan terkait mengapa sikap buang sampah masih banyak terjadi di tengah maraknya aksi penanganan sampah di masyarakat? Salah satu contoh nyata bisa dilihat dari acara tahunan Bualu Village Festival 2018 yang dilaksanakan pada Minggu (18/04/2018) di Catus Pata Desa Adat Bualu, Nusa Dua. Sampah berserakan di sekitar lokasi, terutama di pembatas jalan raya yang digunakan oleh pengunjung sebagai tempat duduk.

Sampah-sampah yang di lokasi acara mayoritas berasal dari bekas pembungkus makanan, baik itu bekal yang dibawa oleh pengunjung ataupun bungkus dari makanan yang mereka beli selama sesi acara. Banyaknya pedagang yang menjual aneka macam makanan dan minuman memanglah menguntungkan dari faktor ekonomi masyarakat, akan tetapi tidak dengan faktor lingkungan. Kegiatan berjualan pada saat acara berlangsung turut menyumbang sampah yang mencemari lokasi acara.  Hal ini akibat sampah dagangan yang dibiarkan begitu saja oleh pedagang. Seperti halnya Pesta Perayaan Malam Tahun Baru 2018 di Pantai Kuta pada Senin (1/1/2018). Pada perayaan ini, setidaknya terdapat sembilan ton sampah telah dikumpulkan petugas Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Badung.

Dapat dipahami bahwa hal ini terjadi akibat dari kurangnya kesadaran diri masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya. Terlepas dari banyaknya gerakan dan peraturan mengenai penanganan sampah, masih banyak pula masyarakat yang belum memiliki kesadaran diri dan cenderung bersikap acuh pada lingkungan, seperti lokasi-lokasi acara besar yang mereka kunjungi. Pemikiran bahwa akan ada pihak yang membersihkan sampah tersebut, atau merasa sudah membayar tiket acara seringkali dijadikan alasan oleh masyarakat agar bisa berperilaku seenaknya.

Pola pikir mereka seperti sudah diatur bahwa perilaku membuang sampah sembarangan merupakan hal yang lumrah dilakukan. Banyaknya jumlah masyarakat yang membuang sampah sembarangan menyebabkan perilaku yang membudaya. Pada akhirnya memengaruhi rasa malu yang kian menipis. Sebagai dampak lainnya pula, ketika muncul permasalahan baru akibat perilaku tak terpuji ini, tidak jarang sebagian masyarakat malah menjadikan pemerintah sebagai “kambing hitam”. Kebijakan yang lamban dan kurang tepat seringkali dinilai sebagai pemicu terjadinya masalah, seperti banjir saat musim penghujan yang sesungguhnya diakibatkan oleh fenomena sampah yang masih menjadi PR bagi seluruh lapisan masyarakat.

Selain itu, alasan klise yang sering disampaikan adalah tidak disediakannya tempat sampah pada lokasi acara, sekalipun kenyataannya trash bag telah tersebar di berbagai sudut tempat acara. Bak menutup mata, tanpa segan-segan mereka mengotori lokasi acara. Sesungguhnya hal terbaik yang dapat dilakukan apabila tidak menemukan tempat sampah yakni dengan mengantongi terlebih dahulu sampah tersebut, kemudian membuangnya jika telah menemukan tempat yang semestinya. Namun pada kenyataannya hal ini tampak begitu sulit untuk menjadi lebih dari sebatas teori. Perilaku membuang sampah sembarangan sepertinya sudah membudaya di masyarakat dan sulit untuk dihilangkan. Apakah perilaku menjaga lingkungan sesungguhnya merupakan kewajiban dari sebagian orang saja?

Memang bukan hal mudah untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan dengan hal sederhana seperti tidak membuang sampah sembarangan. Kesadaran diri semestinya dimiliki semua orang dan menjadi kebiasaan. Masyarakat secara bersama-sama harus ikut menjaga lingkungan yang didiami, sebab tugas tersebut bukan keharusan dari segelintir orang saja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *