Cakrawala Pemuda “Sinting”

Aku hidup di antara ruang dan waktu yang sering mengajak bercanda hingga tertawa lepas kendali, namun lebih sering mengajakku semakin dalam memahami maksud kata “ada” yang diadakan oleh si tuan besar. Sejak dimulainya semua ini, aku sama sekali tak diberi tau harus apa, apa yang terjadi, dan mengapa? Dalam kekosongan seolah ada yang mendorong setiap sudut dalam benakku untuk mulai berkehendak. Ia memberontak, tak ingin hal yang tak dapat dijelaskan ini terus menguasai segalanya. Aku mulai dengan mengajaknya berbicara santai sembari kuberi ia ruang tuk menjelaskan, namun ia terdiam dan kian menghilang. Aku mulai paham akan satu hal, ya harus dilakukan mau tidak mau, hanya ini pilihannya.
Dengan awal yang cukup baik, sudahku mulai pondasi pengembaraan tiada ujung ini dengan kata cukup. Yah, sebuah awal yang datar, tapi setidaknya tidak buruk untuk diingat. Dengan keyakinan kucoba memulai sesuatu yang baru, hal yang lebih menakjubkan lebih gila lagi, sungguh tak pernah kau bayangkan rasanya senikmat ini. Tak henti diri ini terus mencari, namun rasa puas tak henti memiliki sebuah ujung. Aku menyesal justru semua ini hanya fatamorgana, sekali lagi kudapat hanya kekosongan. Luntang-lantung mencari secercah cahaya dalam gelap, kutemukan di situ ,ya di situ letaknya, persis di sudut dan di ruang itu. Ya sekali lagi si tuan besar memberiku peluang dan kumulai merasakan sesuatu, sebuah ketenangan yang sangat tentram.
Tiba-tiba sekitarku mulai memutih tanpa apapun, kucoba berjalan untuk memastikan keadaan sekitar dengan pikiran yang tak percaya pada keaslian tempat ini, namun diriku tersadar aku berjalan tanpa menyentuh apapun di bawahnya. Dalam situasi yang mulai panik tak karuan, terdengar suara si tuan besar, “Hei makhluk kosong, mulai isi dirimu dengan tidak terbuai godaan” katanya. Seketika ruang putih lenyap dan aku mulai terbangun dari istirahatku yang kesiangan. Dengan sebuah pemahaman baru, kucoba membunuh godaan dan kulanjutkan semua ini. Lagi-lagi berakhir dengan kata cukup, namun kali ini ada kesan, di mana orang yang kusebut pencipta telah merayakan keberhasilanku sebagai tanda rasa bangga.
Perlahan namun pasti, pemahaman ini semakin meluas nan kompleks. Menjadi penting aku mengingat dasar, mengapa keadaannya bisa sampai sedrastis ini. Secercah cahaya digenggamnya dan mulai berlari, menghadapi pekatnya gelap jalan sejauh mata memandang. Dengan sebuah gejolak yang disebut keyakinan, ia memilih tetap tegak berdiri dan konsisten berjalan dengan bijak. Sebuah fase metafora tengah dihadapi, namun dengan penuh kesombongan ia merasa sangat yakin dapat tetap teguh pada pendiriannya. Si tuan besar murka, mulailah ia menggunakan kuasanya untuk menampar seorang pemuda labil sepertiku. Sim salabim dalam hitungan sekejap mata, diriku merasakan dinginnya, kosong nan perih tak karuan.
Kelinglungan kudapati, kukutuk siapapun yang membuatku seperti ini, tak henti kuhardik si tuan besar. Tak terprediksi si tuan besar justru memberiku ketenangan itu lagi, rasa nyaman seolah membuat siapapun yang merasakannya tak perlu lagi kata puas dalam dirinya. Tak dapat dielakkan aku memang bersalah, perlahan kucoba koreksi diriku sendiri dan tebak apa yang terjadi? Godaan semakin mudah masuk, berbagai jalan pintas bermunculan, berbagai kenyamanan fatamorgana kembali datang, namun kali ini jauh lebih besar, tak kusangka yang datang justru hasrat bagai ombak yang menuntut pantai tuk mengalah padanya.
Memang aku tergoda akan kenikmatan, setiap kenikmatan aku lahap tanpa disaring, fatamorgana demi fatamorgana aku nikmati tanpa sadar akan kenyataan. Kegilaan ini membuatku merasa haus dan selalu haus, tak henti-hentinya. Aku menghardik setiap hal yang berkaitan dengan tuan besar, toh beliau justru memberiku kenyamanan, dia saja yang bodoh, pikirku.
Pada satu titik dalam semesta ruang perjalananku, diriku terhenti sejenak dan mulai berbicara dengan teman khayalku. “Mau sampai kapan?” ucapnya. “Hingga kudapati keabadian” jawabku. “Ya sudah lanjutkan hingga kau temukan kata PUAS”. Tak kuhiraukan si pembual itu dan kulanjutkan kegilaan ini. “Hahaha aku rasa ini saatnya” ucapku. Secercah cahaya mengalihkan fokusku, tanpa tersadar sesuatu yang disebut jiwa ini mengikutinya dan kutemukan opsi “kepuasan” lainnya, aku termenung sejenak. Indah sekali, tak pernah kulihat yang seperti ini. Ah, buang saja yang lama, aku lebih merasa terpuaskan dengan yang ini. Kukejar dan kemudian ia hanya memberiku rasa perih. Untuk kesekian kalinya kurasakan kebodohan ini, terulang kembali namun kali ini lebih hambar dari apa yang pernah kurasakan. Dalam luntang-lantung kuberjalan dan tak henti diri ini bertanya mengapa? Namun tak kunjung mendapat jawaban.
Cahaya yang kumiliki sebelumnya semakin menghilang ingin meninggalkan pemuda sinting sepertiku ini. Jijik tetapi diri ini tak pernah henti untuk berharap jawabannya akan datang suatu hari nanti, uh tidak justru sebentar lagi, tahanlah sebentar lagi. Apa kupikir? Kenaifan ini hanya memperpanjang deretan keterpurukanku. Sudahlah, aku hanya salah pilih. Cahaya saat itu hanya menyesatkanku, aku harus yakin pada keindahan yang saat itu kukejar namun tak jadi, masih ada kesempatan. Ya, masih, tak lama ku mencari, setitik api kudapati dan mencoba meyakinkanku akan sebuah jawaban yang kutunggu. Kau pikir aku percaya? Tentu saja tidak, aku sudah bukan orang yang naif lagi untuk menemukan sebuah jawaban dari si tuan besar. Ia sudah mengutukku dan takkan menarik kata-katanya.
Namun api itu terus mengikutiku bahkan menempel menutupi bayanganku. “Apa maumu?” ucapku. “Mewujudkan keabadianmu” jawabnya. “Hah, omong kosong macam apa ini”, balasku dengan nada tinggi penuh keangkuhan tanda tak percaya sama sekali. “Ikuti saja dan nanti kau akan tau” tegasnya sambil pergi ke arah yang tak terlalu jelas dalam pikirku. Untungnya, aku tipe orang yang mau memberi kepercayaan berkali-kali dan akhirnya aku mengikuti api sok misterius itu pikirku. Dan benar saja, api itu membawaku kepada sebuah bintang penuh keabadian, rasa syukur tiada tara dan membuat kata puas dalam nafsuku seolah hilang karena sudah tak berguna lagi. Ya, akhirnya kutemukan hal yang selama ini kucari. Senang kurasa dan secara bersamaan kekosongan baru kembali datang dan ingin mengajarkanku sesuatu yang baru lagi. Heh, sepertinya tuan besar memang sedang mengajakku bercanda. (Angga/Akademika)