Catatan Debat Capres dan Cawapres BEM PM Unud 2010/2011

Perhelatan pemilu raya di Universitas Udayana, kini menjadi ‘agak’ semarak. Pasalnya, Jumat (19/02) kemarin, panitia pemira President BEM PM menyelenggarakan debat terbuka bagi calon Presiden dan Wakil Presiden periode 2010/2011. Ruang sidang lantai III gedung Rektorat itu pun tak hanya penuh debat tetapi juga tawa.

Ary Setyana, Ketua Panitia Pemira, dalam sambutannya menegaskan bahwa acara penutup kampanye pemira ini dimaksudkan agar konstituen di Unud mampu mengenal kandidat lebih jauh. “Mudah-mudahan debat kali ini memperjelas pilihan mahasiswa Unud terhadap presiden BEM-PM Unud selanjutnya” katanya. Dua kandidat : Adji-Krisna dan Hendra-Yuda yang bersaing tentu saja tak menyianyiakan kesempatan ini.

Pasangan berbaju batik, Adji-Krisna membuka kesempatan memaparakan visi dan misi mereka. “Kami telah merancang program yang sekiranya seluruh civitas akademika Unud bisa terlibat. Kami ingin semua yang ada di Unud tidak ada gap antar ras, suku, maupun agama” teriak Adji Lantang. Memang sejak awal, pasangan no 1 ini ingin menghapus sekat yang bisa memecah persatuan. Selain itu, Adji-krisna juga ingin membawa nama Unud keluar daerah dengan program yang telah dicanangkan. “Kami akan merancang Desa Binaan di Bali, selain itu kami akan memperkukuh posisi tawar BEM-PM Unud di tingkat nasional, dan Jazz Festival,” papar Adji

Namun demikian, program-program Adji-Krisna mendapat kritik dari pasangan no 2 Hendra-Yuda. “Semua program yang diajukan oleh kandidat no 1 bisa dilakukan E.O apa saja. Tetapi program yang kita luncurkan hanya bisa dilakukan oleh BEM-PM saja,” kritik Hendra. Adu kritik tak terhindarkan dalam debat itu. Agus Purnomo, Presiden BEM-PM aktif justru menuding tawaran program Hendra-Yuda adalah ilusi. Program itu adalah ikut meletakkan master plan di Kampus Bukit. Dengan mmebuat gedung yang sama tinggi degan kampus Sudirman. “Janganlah meninggikan gedung tinggi sebagai penghasil lulusan hebat. Berkaca pada India. Semua lulusan gedung yang jelek itu kini berada di Google,” bantah Agus.

Tak hanya undangan debat, dua panelis datang dari pihak rektorat pun melancarkan pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan solusi konkrit kepada 2 kandidat. Meski kedua kandidat masih memberikan jawaban yang relative normatif namun pendukung 2 belah pihak mensuport kandidat mereka. Tepuk tanganpun tak henti-hentinya membahana. Apalagi, kandidat Hendra yang selalu melontarkan lelucon-lelucon segarnya kepada penonton debat. “aduh semua penanya menanyakan tentang program saya. Menarik sekali ya program saya?” guraunya diikuti gelak tawa penonton debat.

Dua kandidat sama-sama menebar janji. Adji-Krisna mengunggulkan peran serta seluruh civitas akademika sambil membangun figure BEM-PM di luar kampus. Sementara Hendra-Yuda meyakini BEM-PM sudah saatnya berubah dengan orang yang berbeda pula. Jika semua sudah menebar janji, siapakah pilihanmu kawan? Gunakan hak pilih pada tanggal 23 Februari mendatang. Saatnya berpartisipasi bukan lagi masa bodoh!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *