Catatan Seorang Maba

Selamat kuucapkan pada kawan – kawanku yang telah diterima menjadi mahasiswa di PTN (Perguruan Tinggi Negeri) dan tak lupa kuucapkan pada diriku sendiri yang juga diterima di salah satu PTN. Kuucapkan terima kasih kepada Tuhan yang Maha Esa dengan jajaran alam semesta yang telah merestui dan jajaran para malaikat yang saya hormati dan saya sayangi yang telah mendampingi saya sejak kelahiran saya.

Tak kusangka aku telah terbebas oleh belenggu pendidikan yang berseragam bebas dari segala peraturan bernampilan dalam mengikuti pembelajaran. Namun ini hanya ekspetasi di awal aku menginjakan kakiku di tanah kampus yang (A)narki ini, kayak lagunya SID.

Aku hanya anak desa yang ingin mengenyam pendidikan di tingkatan yang lebih tinggi, mungkin aku bisa dipanggil manusia—eh jangan, panggil aku Letto, terus aku akan bernyanyi, “Wes pasti aku wong jowoooo..” . Aku asli dari rahim Ibu, original buatan dari Bapak dan Ibuku dan dapat subsidi nyawa dari Tuhan yang Maha Segalanya.

Pada suatu hari pagi yang cerah, tiba – tiba ada sekelompok sinar matahari yang membikin sebuah aliansi untuk memboikot tidurku. Sungguh matahari yang sangat demokratis dalam menyampaikan sebuah kajian dengan tuntutan untuk bangun dini hari. Karena aku adalah pemimpin terbaik pada diriku sendiri maka aku mengabulkan permintaan tuntutan sinar matahari untuk bangun dari tidurku.

Setelah aku membuka gerbang mata dengan membangunkan seluruh penghuni tubuhku,  tiba-tiba ada seekor burung yang terbang di depan jendela kamarku dan berteriak dengan menghadap wajahku, begini suaranya, “cuit… cie cuitcuit cieee cut cut miuuu cicin nake,” yang artinya, “Hayyy Letto! Kau telah masuk di salah satu kampus PTN yakni kampus KSATRIA,” setelah itu, burung yang sudah berkabar akhirnya meninggalkan tempatnya dan terbang lagi melanjutkan perjalananya bagai seorang musafir.

Setelah mendengar kabar gembira dari burung, aku langsung bergegas membuka website yang ada di kampus tercinta dan aku mulai daftar ulang via online, mengisi data UKT dan sebagainya sampai-sampai keyboard laptopku mengeluh keenakan, “ehhh pijet aku terus dong, mau dong,” tapi itu bohong. Setelah semua selesai aku mulai menata berkas – berkas untuk menuntut investor—ehh bukan, untuk daftar ulang di kampusku maksudnya.

Keesokan harinya, aku berangkat meninggalkan pulau tempat kelahiranku dan merantau di seberang timur pulauku. Sebelum aku berangkat, aku berpamitan dengan kedua orang tuaku. Ini orang tuaku yang asli lho, bukan orang tua yang berisi cairan merah beraroma anggur. Setelah berpamitan denga kedua orang tua, aku berpamitan dengan ayam, kambing, kucing dan kawan – kawan manusiaku yang di desa.

Aku berangkat dengan barang bawaan dan segenap nyawa serta tubuh yang terus berdampingan dengan menggunakan motor sendirian tanpa ada yang memeluk saat kedinginan, tapi tenang, ada jaket dan tas yang menghangatkan.

Di perjalanan aku menemui banyak penampakan alam dari laut yang cukup ramah dengan ombak yang selalu bernyanyi dengan lantunan musik angin yang mengiringi. Aku menaiki kapal pada jam 09:00 WITA dan sampai pada pulau tujuan di jam 10:00 WITA. Setelah sampai dari pelabuhan, aku melanjutkan perjalanan ke kampus “KSATRIA”.

Sementara waktu, aku singgah di sebuah masjid untuk beribadah dan sekalian tempat tinggal sementara waktu, karena pendaftaran ulang dilakukan esok hari. Selesai sholat subuh, aku pun mandi dan bersiap-siap untuk berangkat melakukan pendaftaran ulang.

Sesampai di kampus, aku pun bertemu berbagai jenis manusia yang berasal dari Jawa, Sumatera, Kalimantan, Papua, Bali, Maluku, NTT, NTB, Lombok, pokoknya banyak jenis spesies manusia dari pulau yang beragam. Aku pun berkenalan dengan manusia-manusia tersebut, ada yang dari jurusan kedokteran fosil, kedokteran hewan, buruh tani, buruh bangunan, pemegang bahasa dan berbagai macam jurusan yang ada. Menambah kawan di berbagai kalangan. Oh ya, hanya sekedar informasi sih, aku dari jurusan penambah populasi hewan.

Setelah pulang pendaftaran, aku pun tercengang dengan peraturan Ospek yang diumumkan, atau mungkin jiwaku saja yang gak beres atau terlalu brutal untuk menerimanya.

Peraturan Ospek :

  • Rambut harus 1 cm.
  • Pakai kemeja putih.
  • Celana kain.
  • Sepatu hitam tak ada loreng.

Entahlah aku mau masuk kampus atau daftar menjadi aparat yang sering disebut dengan pengabdi negara. Hal yang lucu bagiku adalah harus keluar uang lagi untuk membeli segala perlengkapan Ospek itu. Masuk mengambil kontribusi katanya, dengan dihadang oleh ‘para satpam’ yang mengarahkan dengan urat tenggorokan sampai tertarik kencang, ibarat anjing yang melihat manusia asing, menggonggong segalak itu. Mungkin itulah sistem yang ada di sini. Mungkin aku harus bersabar dalam menghadapinya.

Di saat Ospek berlangsung, rasa kesal melanda hatiku yang selembut sutra lalu hilang lantaran aku terkesan dengan lagu-lagu yang harus di hafal; benar – benar serasa pengabdian untuk melawan penindasan dan diselipi oleh orasi yang selalu mengangkat tangan kiri dengan melantunkan suatu nada teriakan, ” Hidup Mahasiswa… Hidup Rakyat Indonesia!”

Di situlah aku terselip sebuah ingatan dengan seorang manusia, yakni Rocky Gerung, “Kuliah ini dimaksudkan untuk waspada terhadap kebijakan negara,” entah merasa kampusku akan kritis terhadap kebijakan kebijakan yang menyusahkan umat manusia.

Ahhh, persetan. Itu hanya berjalan dengan keformalitasan saja. Ternyata kakak – kakak yang saya kagumi pun masih menindas “Maba” (Mahasiswa Bawang) dengan segala kebijakan “pengdan” (penguburan dana), entah melalui tiket dan sebagainya. Entah kampusku yang miskin tak mampu membiayai atau ada motif lain di balik itu, ah, hanya asumsiku.

Aku merasa resah karena pengeluaran juga banyak, dari membayar UKT dan sebagainya, pengeluaran uang transport , uang kos dan aku pun tak tahu situasi yang ada di daerah sini. Pada dasarnya juga ada kebijakan yang mengatur dalam Permen Ristekdikti tentang biaya UKT, disebutkan dalam Pasal 8, “PTN dilarang memungut uang pangkal ataupun pungutan lain selain UKT dari Mahasiswa dari progam sarjana maupun diploma.” Ketika ada keterpaksaaan, berarti di situ juga Birokrasi Mahasiswa yang ada di kampusku telah melanggar hukum.

Begitulah kisah Maba yang terpontang-panting dan harus menuruti kebijakan yang tak waras itu, dituntut untuk diam dan sebagainya. Dalam ospek pun mereka marah – marah dengan kegagahnya, konon katanya untuk melatih mental di dunia kerja. Sungguh miris jika pendidikan selalu dihadapkan dengan nominal – nominal.

Ketika pendidikan seharusnya dihadapkan dengan sebuah ilmu pengetahuan sebagai pedoman untuk menghindari kebodohan namun berbanding terbalik dengan sebuah tujuan namun pendidikan yang menuruti pesanan pasar untuk sebuah kemapanan.

Aku mungkin terlahir di tanah yang penuh penindasan, sering melawan aparat yang tak beraturan dengan kebijakan pemerintahan yang merusak sebuah ketenteraman. Mungkin emosiku ini bawaan atau memang benar ada kesalahan di kampusku. “Selagi kau berpendidikan dan mengenyam pengetahuan pertajamlah kritismu untuk menghindari pembodohan dari orang,” begitu pesan bapakku.

Sedih senang kulalui bersama kawan yang konon kita sering disebut orang yang sadar dalam pikiran dengan sebuah organisasi KPK (Kelompok Pengacau Kampus). Sering dibelenggu dengan sebuah kebijakan, peduli dengan keadaan seakan-akan malah menantang kematian di tanah orang ini.

Hari – hari kulalui dengan membaca buku yang berisi sebuah tulisan di pojok ruangan dengan ditemani batangan yang memberi asap dalam paru – paru dan rutinitas kuliah yang kadang – kadang membosankan, tapi aku masih membutuhkan pendidikan.

Dan tiba – tiba, ada suara “Pahh bangun udah pagi,” suara istri pertamaku dengan membawakan segelas kopi yang telah diberi air atau yang sering disebut “wedang kopi” kata orang Jawa. Sampai ingatan terbawa dalam ilusi kenangan yang ditayangkan dalam mimpi.

Setelah  aku dari kandang ayam untuk memberi asupan padanya, secara tidak sengaja sesampai di kamar aku membaca buku diary waktu masa – masa awal masuk kuliah. Ternyata aku terbawa oleh ilusi mimpi yang ada, dan terbangun disambut oleh istri tercinta, istri pertama.

Oleh: Wily Bachtiar

Editor: Kristika, Juniantari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *