Cinta Bukan Ambisi

“Kamu nanti mau kuliah di mana?” tanya Luna pada Arion.

“Entahlah, mungkin di tempat di mana aku bisa selalu melihatmu seperti saat ini,” jawab Arion sambil tersenyum pada Luna. Begitulah kebiasaan Arion dan Luna, mereka kenal sejak awal masa orientasi siswa di SMA-nya, namun mereka baru akrab ketika ada tugas yang memaksa mereka menjadi satu kelompok. Semenjak itu, mereka selalu berdua kemanapun mereka pergi, mereka seperti dua orang yang saling memiliki dan tak mampu dipisahkan oleh semesta.

“Ah kamu ih, jawabannya dari dulu ga pernah berubah,” jawab Luna cemberut yang selalu berhasil membuat Arion gemas kepadanya. “Iya kan aku serius. Di mana pun kamu, ke mana pun kamu, aku akan ada di sebelahmu. Aku tak akan membiarkan jarak dengan mudahnya membuat kita berjauhan, aku orang yang lemah jika harus menahan rindu,” ucap Arion sambil menatap dalam mata indah milik Luna.

Luna terdiam, Ia hanya memandangi seorang remaja laki-laki yang selama 2 tahun ini selalu ada di hidupnya. Luna ingin mengucapkan sesuatu, namun mulutnya tertahan oleh pikiran-pikiran yang menyuruhnya untuk tidak mengatakan itu. “Kamu sakit?” tanya Ario yang membuyarkan lamunan Luna. “Eh enggak kok, Ri. Aku laper, kamu kan janji mau traktir aku hari ini,” ucap Luna sambil menampilkan senyum simpul yang selalu membuat Arion hanyut dalam keindahannya. “Ayo makan, aku ga mau kamu sakit,”

“Aku mau makan bakso, yang pedas,”

“Jangan, nanti kamu sakit perut,”

“Memang kenapa kalau aku sakit perut?”

“Aku benci kalau ada yang menyakitimu, sekalipun itu sambal, aku akan membencinya,” jawab Arion yang membuat Luna selalu berada pada puncak kebahagiaan. Tak pernah sekalipun Arion mengecewakannya atau menyakitinya, karena Arion selalu berkata ia tak mau membenci dirinya sendiri hanya karena menyakiti Luna.

Begitulah mereka, Arion dan Luna yang sedang dimanjakan oleh semesta. Arion sangat mencintai Bumi, karena Luna ada di sana. Luna merasa semesta menyayanginya, sebab ia telah dikirimkan remaja laki-laki yang membuat hari-harinya selalu berwarna. Mereka begitu dekat, bahkan dekat dengan keluarga keduanya. Arion sering berkunjung dan makan malam bersama keluarga Luna, dan begitu juga sebaliknya.  Mereka benar-benar dekat, namun mereka sendiri tak pernah tahu disebut apa kedekatan mereka itu.

Hari-hari mereka berjalan dengan indah, tidak ada yang bisa menanamkan kesedihan di antara mereka berdua. Hingga pada akhirnya, saat-saat yang mereka tunggu akhirnya tiba, yaitu pengumuman masuk ke perguruan tinggi. Mereka berdua sama-sama diterima di perguruan tinggi yang sama, seperti yang telah mereka rencanakan.

“Na, kita diterima,” kata Arion dengan gembira.

Luna hanya tersenyum. Ada kegelisahan yang terpancar dari matanya, dan Arion sadar akan hal itu. Arion yang paling tidak suka kalau Luna tidak bersemangat kemudian menanyainya, “Kamu kenapa Na?  Jangan jawab engga kenapa, aku tahu ada yang kamu tidak ingin ungkapkan. “Aku pingin gelato,” ucap Luna dengan ekspresinya yang menggemaskan. Arion paling tidak mampu menolak ajakan atau keinginan Luna yang diiringi dengan ekspresi menggemaskannya itu.

Mereka kemudian pergi ke kedai gelato yang biasa mereka datangi, sebab es krim adalah salah satu makanan favorit Luna. Setelah beberapa lama menunggu, datang seorang pramusaji dengan nampan yang sangat ditunggu oleh Luna. Gelato rasa pistacio dan rasa coklat menghiasai meja tempat mereka duduk berdua.

“Na, kamu kenapa selalu beli yang rasa pistacio?” tanya Arion.

“Rasanya beda, aku suka aja,” jawab Luna sambil menikmati segarnya gelato yang Ia pesan. “Terus kalo kamu, kenapa kamu selalu pesan yang rasa coklat?” tanya Luna penasaran.

“Karena manis, aku suka hal yang manis, dan yang aku tahu manis selain es krim ini adalah senyummu,” jawab Arion dengan senyumnya yang meneduhkan hati siapapun yang melihatnya.

Luna sangat senang mendengarkan setiap kata yang terucap dari bibir Arion. Luna terhipnotis oleh setiap ucapan Arion yang begitu indah di dengar., Ia hanya terdiam,, Luna sedang tenggelam dalam lamunannya, Luna hilang dalam ketakutannya.

“Kamu kenapa ngelamun Na? Coba cerita sama aku, kamu pasti lagi ada masalah kan?” tanya Arion yang bingung melihat Luna tak seceria biasanya.

“Engga kenapa Ri, kita pulang saja ya,” ucap Luna yang hanya bisa dituruti oleh Arion tanpa interupsi.

***

Luna hanya duduk terdiam di pinggiran kasurnya. Mamanya yang memanggil untuk mengajak makan pun tidak digubris. Karena Luna tampak tak seperti biasanya, kemudian mamanya menghapiri dan bertanya, “Luna sayang, kamu kenapa diam begitu?”

“Eh, engga kenapa kok, Ma,” jawab Luna dengan senyum palsunya.

“Udah jangan bohong, kamu enggak akan bisa membohongi naluri seorang ibu,”

Luna terdiam, lalu memeluk mamanya dan menangis terisak di pelukan mamanya. Ia terus menangis tersedu-sedu sampai tak bisa bicara, mamanya terus berusaha mencoba menenangkannya supaya bisa bercerita apa yang sebenarnya Luna sembunyikan. “Luna bingung, ma,” ucap Luna sambil terisak-isak.

“Iya bilang sama mama, apa yang sebenarnya kamu bingungkan,”

“Aku belum cerita sama Arion, kalau aku bakal kuliah di Inggris, ma,” ucap Luna sambil mengusap air matanya. “Aku engga mau Arion kecewa karena dulu kita pernah janji bakal kuliah bareng, aku takut Arion jadi benci sama aku, ma.”

“Luna sayang, mama tahu ini keinginan papa yang engga bisa kamu tolak kan, dan mama tahu Arion pasti akan merasa kecewa kalau kamu kuliah di Inggris. Tapi yang mama tahu, jika laki-laki benar mencintai seorang perempuan, dia pasti akan menerima apapun yang terbaik untuk orang yang dicintainya itu. Jika dia benar sayang dia pasti akan memberimu semangat, jika dia hanya ingin terus bersama kamu, berarti dia hanya terobsesi, bukan tulus mencintai.”

Luna terdiam, dia mencoba meresapi ucapan mamanya itu. Dia tersadar jika rasa kecewa itu tidak dapat dihindari, dia mulai berpikir untuk mencari saat yang tepat untuk memberi tahu Arion apa yang sebenarnya disembunyikan Luna. “Makasi, ma,” ucap Luna sembari memeluk erat tubuh mamanya.

***

“Ari, aku mau ngomong sesuatu,”

“Mmm? Mau ngomong kalau aku ganteng?”

“Kamu ih, aku tabok ya!” ucap Luna yang membuat Arion gemas.

“Hehehe.. iya mau ngomong apa tuan putri Luna?”

“Mmmm…” Luna ragu ingin mengatakannya, ia menarik nafas panjang dan akhirnya mengungkapkan semuanya pada Arion. “Aku mau minta maaf, Ri. Sepertinya aku harus mengingkari janjiku”

“Janji apa, Luna?” tanya Arion bingung.

“Papa aku menyuruh aku kuliah di Inggris, sebenarnya aku sudah mau memberi tahu ini dari sebelumnya, tapi aku takut kamu marah. Aku takut kamu kecewa terus benci sama aku, Ri. Aku pingin terus bareng kamu, tapi aku juga ga bisa ngelawan apa yang disuruh papa,” jelas Luna sambil menangis.

Arion hanya terdiam, tidak menunjukkan ekspresi, ia hanya menghela nafasnya dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia berbalik kemudian pergi meninggalkan Luna begitu saja yang masih duduk sendirian di bangku taman itu.

Arion tidak tahu harus bagaimana, ia merasa ingin marah namun ia tak pernah bisa marah kepada Luna. Ia sangat bingung, yang ia tahu saat masalah terlalu berat baginya, Ibunya lah tempat yang paling nyaman untuk Arion bercerita. Dengan kekecewaan yang mengaliri tubuhnya, ia sesegera mungkin pulang dan menenangkan dirinya.

Ia memukul-mukul tembok kamarnya sembari berpikir tentang apa yang terjadi. Ia merasa kecewa namun ia bertanya apa haknya untuk kecewa karena sebuah janji yang diucapkan dua orang remaja lugu saat awal mereka akrab. Ia juga merasa bersalah karena telah meninggalkan Luna sendirian di taman, padahal ia sudah berjanji pada dirinya untuk tidak akan menyakiti Luna. Ia memutuskan menghampiri ibunya dan mengungkapkan kegelisannya itu.

“Bu, Ari mau cerita,”

“Iya kenapa, Nak?”

“Luna mau kuliah ke Inggris, bu”

“Kamu takut jauh dari dia ya? Kamu takut tidak bisa bersama dia lagi? Begitu kan yang ada di pikiranmu?”

Arion bingung, kenapa ibunya bisa tahu apa yang sebenarnya ia rasakan.

“Kamu jangan bingung gitu, ibu tahu kamu sayang sekali sama Luna, ibu bisa merasakan itu setiap kali Luna main ke sini, setiap kali kamu bercerita tentang Luna ke ibu, ibu ini perempuan ingat, jadi lebih peka dengan situasi lho,”

Arion tersenyum malu dan melanjutkan ceritanya ke ibunya. “Iya bu, Ari sayang sama Luna, tapi tadi pas denger dia mau kuliah jauh dari Ari, rasanya kesel gimana gitu. Terus tadi Ari malah ninggalin Luna sendiri di Taman,”  ucap Arion sambil mengacak-acak rambutnya tanda ia sangat bingung dengan apa yang telah dilakukannya.

“Ari, kamu kan udah besar. Kamu sama Luna juga sama-sama sudah besar, jadi boleh menentukan jalan hidup sendiri. Kamu tidak bisa egois gitu dengan kesal karena Luna akan kuliah di luar, harusnya malah kamu dukung dong. Kalau kamu sayang harusnya kamu juga harus mendukung apapun yang dia inginkan”

Arion hanya terdiam, seperti menyadari sesuatu.

“Dia pergi hanya sementara kan, bukan pergi tidak untuk kembali lagi. Kalau kalian memang digariskan untuk berjodoh, ibu yakin sejauh apapun kalian dipisahkan, pasti kalian akan dipertemukan dengan cara yang sangat kalian tidak duga sebelumnya.”

Arion masih terdiam mendengarkan ibunya. Ia seperti memikirkan sesuatu dengan penuh pertimbangan, kemudian ia bertanya pada ibunya, “Bu, kalo Ari melakukan apa yang laki-laki sejati lakukan, boleh kan?” Ibu mengangguk dan tersenyum tipis, “Lakukan apa yang kamu ingin lakukan, yang penting positif dan jangan pernah sakiti perasaan perempuan, karena perasaan mereka begitu lembut.”

Ada pesan singkat masuk ke ponsel Arion, ternyata Luna mengatakan ia harus berangkat hari ini juga karena ada test dan persiapan yang harus dilakukan di Inggris. Ia juga meminta maaf pada Arion karena telah mengecewakannya. Arion yang membaca pesan itu langsung bergegas menuju rumah Luna dan tidak lupa berpamitan pada ibunya. “Ibu makasi ya, Ari sayang ibu,” ucap Arion kemudian berlari menuju motornya.

Ketika sampai di rumah Luna,  Mama Luna mengatakan kalau Luna sudah berangkat tadi dengan papanya. Tanpa pikir panjang ia bergegas menyusul ke bandara, ia tak mau semua ini menjadi berantakan dan membuat Luna tidak fokus menghadapi testnya.

Suasana bandara yang sangat ramai oleh turis, orang yang terburu-buru, orang yang akan liburan, dan banyak kerumunan yang membuat Arion sangat kesulitan mencari Luna. Kebetulan ia melihat ada sebuah kedai eskrim yang membuat ia teringat pada Luna. Ternyata benar, ada gadis cantik dengan sweater pink dan jeans-nya yang begitu familiar bagi Arion.

“Luna…, aku minta maaf udah meninggalkan kamu tadi di taman,”

“Engga kenapa kok, aku emang pantas ditinggalkan gitu,”

Arion langsung memeluk Luna yang membuat tangis Luna pecah.

“Ma.. af Ari, aku ngecewain kamu,”

“Udah jangan menyalahkan dirimu sendiri. Kamu punya hak untuk membawa kemanapun masa depanmu, dan tugasku adalah mendukungnya, bukan mengaturnya,” ucap Arion menenangkan Luna. “Pergilah sejauh yang kamu bisa, yang aku tahu cinta akan tetap membuat kita dekat, aku akan membuat kita tetap dekat, aku janji.”

Luna masih menangis, namun ia ingat bahwa pesawatnya akan take-off sebentar lagi. “Ari aku harus pergi sekarang, jangan pernah benci aku ya, I love you.”

“I do love you, Luna”

***

Setahun telah berlalu, mereka masih dekat seperti biasanya, meskipun hanya bertatap muka melalui ponsel dan bertukar cerita melalui telepon. Di suatu café di kota Manchester, Luna sedang menikmati indahnya pemandangan sore hari dengan secangkir kopi yang telah dipesannya itu. Seorang pria dengan coat coklat membawa seikat bunga mawar indah dan berdiri tepat di hadapan Luna.

“Hai, my beloved princess,

Luna langsung berdiri dan memeluk pria itu dengan gembiranya. “Kamu kenapa bisa ada di sini?”

“Sudah aku bilang, dimanapun kamu, kemanapun kamu aku akan selalu ada di sebelahmu. Maaf kalau aku hadir di sebelahmu setahun dari kita dipisahkan.”

“Ga masalah, yang penting aku senang kamu ada di sini, Ari. Ceritain dong kenapa kamu bisa sampai sini!”

“Nanti saja, aku masih ingin memandangi wajahmu itu,”

“Kamu ih. Mau jalan-jalan engga?”

“Aku maunya menjadi kekasihmu, Luna.” (Agus/Akademika)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *