Cintai Bahasa Nasional, Kuasai Bahasa Asing

Kadek Ridoi Rahayu, Duta Bahasa Indonesia Nasional tahun 2012 (Sumber: Dokumen Pribadi Kadek Ridoi Rahayu).

“Ssssttt… Ada duta bahasa nih, harus ngomong baku!” ucap Ridoi seakan meniru celetukan teman-temannya.

Celetukan tersebut dianggapnya hanya guyonan. Baginya, berbahasa yang baik dan benar tidak hanya kaku pada bahasa baku. Cerdas menggunakan di saat yang tepat akan lebih bijak. “Kalau mau
beralay-alay ria, silakan saja. Asal tahu situasi dan kondisi sehingga bisa digunakan di saat yang tepat,” ungkap Kadek Ridoi Rahayu, Duta Bahasa Indonesia Nasional tahun 2012.

Penghargaan sebagai Duta Bahasa Indonesia Nasional tersebut ia dapatkan berawal ketika dara manis ini duduk di bangku SMA. “Bapak saya memberikan informasi mengenai adanya seleksi lomba duta bahasa tingkat provinsi dari koran,” ungkap gadis kelahiran Seririt, 29 Agustus 1990. Namun Ridoi Rahayu merasa belum siap dan masih butuh waktu untuk belajar. “Baru setelah kuliah saya mulai terpikirkan untuk ikut,” tambah Ridoi. Mencoba kesempatan pada tahun pertama kuliah, tapi ternyata Ridoi gagal untuk ikut mendaftar. “Mungkin karena kegiatan kampus seperti ujian atau kegiatan mahasiswa yang membuat saya menunda untuk daftar lalu jadi lupa,” ucapnya. Namun di tahun 2012, sudah terwujud baginya untuk mengikuti seleksi di tingkat Provinsi Bali dan kemudian lolos ke tingkat nasional.

Saat terpilih menjadi Duta Bahasa, Ridoi menjalani segudang aktivitas. “Kalau di daerah, begitu terpilih saya langsung masuk Paguyuban Duta Bahasa Provinsi Bali. Nah, melalui organisasi ini dirancang program-program kreatif kesastraan dan kebahasaan yang anak muda banget deh pokoknya. Sepulangnya dari Jakarta saya ikut sosialisasi di media massa dan media elektronik seperti Koran dan radio,” jelas gadis berusia 22 tahun ini.

Tidak sampai di situ, setelah menjadi Duta Bahasa Daerah, Ridoi kembali berjuang di tingkat nasional. “Kalau di tingkat nasional ada ikatan duta bahasa nasional, diawali juga dengan menyusun program kerja oleh duta dari masing-masing provinsi untuk dilaksanakan nantinya ketika sudah kembali ke daerah. Selain itu, biasanya kami akan mengikuti Jambore Bahasa dan kegiatan yang dirancang oleh ikatan DUBASNAS (Duta Bahasa Nasional),” tambah Ridoi.

Di era ini, Ridoi sebagai Duta Bahasa juga tidak menampik penggunaan bahasa asing. “Kalau saya amati di era global ini mungkin ada yang lebih fasih menggunakan bahasa asing daripada Bahasa Indonesia. Penguasaan bahasa asing juga sangat penting untuk bisa maju dalam era globalisasi ini. Namun posisi bahasa Indonesia harus tetap dipertahankan sebagai bahasa yang patut dibanggakan untuk digunakan karena juga merupakan identitas suatu bangsa. Jadi, intinya jangan lupakan bahasa daerah, cintai bahasa nasional dan kuasai bahasa asing,” tutur Ridoi.

Ketika ditanya mengenai harapannya terhadap generasi muda khususnya dalam penggunaan bahasa, Ridoi mengatakan, “Mulailah membuktikan dan menunjukkan bahwa kita, generasi muda juga peduli dan mencintai bahasa kita, Bahasa Indonesia. Mulailah dari cara yang sederhana seperti bangga menggunakan Bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Jangan lupa juga untuk mempromosikan Bahasa Indonesia ke ajang Internasional. Bukan tidak mungkin jika internasionalisasi Bahasa Indonesia akan tercapai jika kita terus berusaha,” harapnya. (dharma)