Dari Mata Turun ke Hati

Kisah ini dimulai ketika aku menatap matamu, mata indah itu. Entah apa yang aku rasakan kala itu, hingga kisah kita ini pun bisa terjadi. Kamu dengan tatapan yang seolah ingin membuatku luluh dan aku yang berusaha mendorongmu menjauh. Hanya dengan menatap mata itu, kisah ini dapat kutulis dengan pikiran yang dipenuhi olehmu. Kisah ini pun juga menjadi saksi bagaimana tatapan mata itu dapat membuatku jatuh hati untuk pertama kali.

Suara jam beker membangunkanku di hari Senin ini. Namaku Nevarina Aulia, biasa dipanggil Neva. Aku adalah seorang remaja berusia 16 tahun yang susah berinteraksi dengan teman sebayaku. Di sekolah, aku adalah siswa yang pendiam dan hanya memiliki seorang sahabat bernama Meyla. Ia telah menemaniku sejak duduk di bangku sekolah dasar. Kehidupanku sebagai seorang remaja hanya kuhabiskan di rumah, sekolah dan sesekali toko buku untuk membeli novel baru.

“Nevaaaaa!” begitulah teriakan Meyla ketika tiba di kelas setelah mengisi perutnya di kantin. Bahkan dia berteriak saat kakinya masih berada di pintu kelas kami. Aku hanya diam saja karena sudah tahu apa yang akan dia katakan. Dia pasti akan bercerita tentang laki-laki bernama Bian yang aku sendiri tidak tahu bagaimana rupanya, sebab aku tak pernah keluar kelas.

“Ya ampun Nev, kamu tahu nggak? Tadi Bian ganteng banget,” kata Meyla.

Aku hanya bisa memutar malas bola mataku karena setiap hari Meyla berkata seperti itu. Sebenarnya aku juga penasaran dengan makhluk bernama Bian yang membuat sahabatku ini seperti mendapatkan hadiah mewah. Tapi aku masih berdiam diri dan tak pernah merespon setiap ucapan Meyla tentang Bian.

Setelah jam pelajaran berakhir, dengan cepat kurapikan buku pelajaran karena aku harus ikut latihan marching band di lapangan sekolah. Walaupun tak punya teman, aku memberanikan diri mengikuti kegiatan itu. Terik matahari menemani latihanku bersama yang lain di hari Senin ini. Sayangnya juga, aku hanya membawa satu botol air dan telah habis di jam pelajaran terakhir. Aku hanya bisa pasrah menahan haus gara-gara tak berani pergi ke kantin. Aku menenggelamkan kepala di antara kedua lututku yang tertekuk, berharap rasa hausku dapat hilang.

Baru sekejap memejamkan mata, aku merasakan tangan seseorang menyentuh bahuku. Aku pun mendongakkan kepala dan melihat satu botol air berada tepat di depan wajahku. Saat aku menoleh ke samping, kudapati seorang laki-laki dengan kamera yang menggantung di lehernya. Mata laki-laki itu sangat indah, ditambah dengan wajahnya yang tampan.

Kami hanya saling menatap. Tak ada satupun dari kami yang bergerak. Waktu seolah berhenti. Bahkan aku yang biasanya enggan menatap orang yang tak kukenal, kini secara terang-terangan menatap dan menyelami mata laki-laki di hadapanku ini. Sungguh aku tak bisa menggambarkan bagaimana indahnya mata itu, hingga aku mulai merasakan debaran jantungku yang tak seperti biasanya.

“Hei, ambil ini,” ujarnya, membuatku tersadar dan menyudahi tatapanku terhadapnya.

“Makasih,” ucapku dengan gugup sambil mengambil botol air. Dia mengangguk.

“Kamu Neva anak kelas XI IPA 1 kan? Kenalin aku Bian, XI IPA 2,” ucapnya yang membuatku terkejut. Pikiranku langsung tertuju pada laki-laki yang sering diceritakan oleh Meyla. Pasti dia orangnya. Aku hanya mampu menganggukkan kepala tanpa membalas perkenalannya.

“Ya sudah, aku ke aula dulu ya. Hati-hati kalau pulang Nev, 30 menit lagi busnya berhenti di halte depan sekolah,” ucap Bian yang membuatku bingung sambil menatap punggungnya yang berjalan menjauh. Aku bingung. Mengapa Bian tahu kalau aku akan pulang naik bus? Pada akhirnya aku pulang dengan pikiran yang dipenuhi oleh makhluk bernama Bian itu.

Tiga bulan berlalu sejak perkenalanku dengan Bian, namun baru sebulan kemarin kami resmi berteman. Padahal aku sudah bersikap cuek padanya, namun ternyata justru aku yang ‘kalah’. Doronganku agar Bian menjauh tak sekuat tarikannya agar aku mau mendekat padanya. Semenjak kami resmi berteman, aku mulai mengenal sosok Bian. Dia remaja berprestasi dan memiliki hobi fotografi. Aku merasa nyaman di dekatnya, karena selain Meyla, sekarang ada Bian di saat aku memerlukan bantuan.

Hari ini, pertemananku dan Bian menginjak bulan ketiga. Kehidupanku saat ini masih berjalan seperti biasanya. Aku dengan novel yang tak mungkin terpisahkan, Meyla yang ceria dan masih kagum terhadap Bian, dan juga cowok itu sendiri, yang membuat perasaanku makin tak karuan. Sejak menatap mata indah itu di awal pertemuan kami hingga hari ini aku menatapnya, aku telah jatuh hati pada Bian. Tapi yang kurasakan adalah Bian yang hanya menganggapku sebagai seorang teman. Lamunanku tentang Bian terhenti seiring dengan berakhirnya jam pelajaran hari ini.

Hari ini Bian mengajakku ke galeri fotonya yang terletak di rumahnya. Bian yang biasanya memancing pembicaraan kini membisu. Kuputuskan lanjut membaca novel selama di perjalanan hingga kami berdua tiba di rumah Bian. Sesampainya di sana, Bian langsung mengajakku ke ruang bawah tanah rumahnya, tempat hasil foto-fotonya terpajang.

Saat pintu dibuka, mataku langsung terfokus pada gantungan foto-foto yang terletak di sudut ruangan. Aku terkejut. Tak mungkin mataku salah lihat. Semua foto itu adalah fotoku yang diambil dala berbagai macam kegiatan, mulai dari masa penutupan MOS hingga beberapa hari yang lalu. Foto-foto itu tergantung indah, lengkap dengan hiasan dan diterangi oleh beberapa lampu kecil.

“Bi?” tanyaku.

“Aku suka kamu Nev, bukan sejak beberapa bulan lalu perkenalan kita, tapi sejak satu tahun yang lalu,” ujar Bian tiba-tiba. Aku pun terkejut untuk kedua kalinya.

“Kenapa Bi? Kenapa kamu suka sama aku?”

“Maaf Nev, setahun yang lalu perasaan ini datang tiba-tiba dan tanpa alasan. Bahkan sejak tahu kamu, objek kameraku bukan lagi pemandangan indah, tapi tentang kamu. Kamu objek kameraku sejak satu tahun lalu,” jawab Bian yang membuatku terharu sekaligus merasa senang.

“Kalau perasaanmu ke aku gimana Nev?” tanya Bian lagi.

“Bi, sejak mata indahmu menatapku beberapa bulan yang lalu, aku sudah jatuh hati. Sejak perkenalan kita, kamu jadi warna baru di kehidupan aku yang biasa ini,” ucapku tulus padanya.

Bahagia, itulah satu kata yang dapat menggambarkan perasaan kami. Sejak saat kami menyatakan perasaan masing-masing, aku bertekad untuk lebih bisa membuka diri tanpa perlu merasa takut. Ada Meyla dan Bian yang siap membantu kapanpun aku memerlukan mereka.

Statusku dan Bian masih belum berubah menjadi kekasih karena kami ingin fokus mengejar cita-cita kami. Meski begitu, perasaan kami yang saling berbalas saja sudah lebih dari cukup bagi kami. Aku sangat bersyukur kepada Tuhan karena telah membuatku jatuh hati untuk pertama kali pada sosok pemilik mata indah bernama Bian.

Oleh: Setiawati

Editor: Kristika

Ilustrator: Linda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *