Den-pasar atau Den-hypermarket?

Denpasar berasal dari kata den, artinya sebelah utara dan pasar, tempat perbelanjaan. Lalu bagaimana supermarket dan hypermarket begitu menjamur di kota Denpasar? Haruskah kota ini berbah nama menjadi Denhypermarket?

“Secara kecelakaan Denpasar menjadi provinsi Bali. Secara tak terduga begitu banyak penduduk berebut dan mencari penghidupan di Denpasar. Bak gula dalam sendok semut mana ang tak tergiur mengicip manisnya,” ungkap I Made Sudira, seorang aktifis dan penulis di media lokal Bali Post dalam sebuah diskusi publik.  Denpasar perlahan menjadi kota sepadat Jakarta, Bandung, Surabaya atau kota-kota lainnya. Sedangkan pemerintah tidak dapat membendung memberludaknya para urban ini.

Diskusi publik yang digelar 19 Maret 2010 oleh Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) cabang Denpasar mengambil tema “Problematika Denpasar Sebagai Kota Urban.” Diskusi ini semula direncanakan mendatangkan dua kandidat  walikota Denpasar, Ida Bagus Rai Dharmawijaya- IGN Jaya Negara Mantra dan I Wayan Subawa-IB Udiyana. Namun sungguh disayangkan, kedua Calon walikota Denpasar tersebut berhalangan hadir.

Hanya I  Made Sudira yang dapat datang memenuhi undangan.  A.A Ngr A. Wira Bima Wikrama, ST, M.Si. yang merupakan anggota DPR datang selaku Ketua Tim Kampanye  pasangan Subawa-Udiyana. Sementara untuk pasangan Rai Dharmawijaya-Jayanegara Mantra, tak ada yang berkenan hadir.

Diskusi publik ini merupakan rangkaian kegiatan KONFERCAB GMNI cabang Denpasar. Astarini Ditha, selaku ketua penyelenggara kegiatan Diskusi publik ini beharap, diskusi ini akan  melahirkan pemikiran pemikiran positif untuk menyelesaian masalah –masalah yang ada di kota Denpasar.

Dalam diskusi yang berlangsung selama 3 jam tersebut, problema pasar tradisional yang semakin tergerus dengan supermarket dan hypermart menjadi suatu yang masalah yang harus dipecahkan dan dicarikan solusi  bersama. Untuk itu AA Ngr A Wira Bima Wikrama, ST, Msi. Menggagas pembenahan  pasar tradisional yang telah ada  dengan menerapkan manajemen modern.

Penerapan manajemen modern diharapkan mampu mengatasi problema pasar tradisional yang becek, kumuh dan sembrawut dapat teratasi. “Apalagi jika tangga-tangga tersebut dapat diganti jadi eskalator. Itu akan memberikan kenyamanan baik bagi yang berjualan maupun yang berbelanja”. Tutur Wira. Gagasan bapak dengan cara bertutur yang sanat hati-hati ini mendapat respon dari beberapa aktifis dan pemerhati kota Denpasar yang turut hadir dalam acara tersebut.

“Bagaimana mungkin mengubah pasar tradisional dengan manajemen  pasar modern jika yang berjualan disana kebanyakan dadong-dadong”? (nenek-red) ungkap Kayun, salah soarang aktivis yang hadir dalam acara diskusi tersebut. AA Ngr A Wira Bima Wikrama  secara langsung menanggapi pertanyaan tersebut.

“Pengelolaan pasar tradisional dengan manajeman modernlah yangdiperlukan saat ini, pasar tradisional haruslah  mengikuti perkembangan jaman. Karena pasar tradiional kini sedang bersaing dengan pasar modern”.

Di sisi lain I Made Sudira menyatakan pasar ibarat kue kesejahteraan dimana setiap orang pasti ingin berebut mendapatkan kesejahteraan tersebut. Mengubah pasar tradisional dengan sistem manajemen modern tidaklah semudah itu. Karena pasar tradisional di Bali merupakan salah satu icon kunjungan pariwisata yang cukup digandrungi oleh para wisatawan mancanegara. Dimana para wisatawan datang ke Bali mencari sesuatu yang sangat berbeda dari negara mereka. Demikianlah keunikan pasar tradisional di Bali.

Permasalahan sampah bukan menjadi hal yang baru di kota Denpasar. Sedangkan ruang kosong di kota Denpasar kian menyempit, jangankan untuk tempat pembungan limbah akhir, bahkan ruang hijau sebagai taman kota pun kian sempit. “Daripada mencari tempat untuk menumpuk sampah, mengapa tidak dikelola saja. Misalnya di setiap banjar terdapat penampungan sampah, kemudian itu diolah oleh masyarakat sekitar, sehingga mereka terbantu juga secara finansial,” saran Heri seorang mahasiswa Fakultas Pertanian UNUD.

AA Ngr. A Wira Bima Wirakrama membantah usul yang diajukan, dengan alasan, kota Denpasar yang semakin sempit, jalan-jalan sudah sangat sempit akibat kemacetan, belum lagi ditambah banjir yang kian datang di musim hujan. Menumpuk sampah di masing-masing banjar sebagai tempat pembuangan sampah. Hal itu akan menyebabkan kota Denpasar menjadi sangat kumuh dengan sampah yang berjubel dimana-mana.

“Urbanisasi bukanlah hal yang menakutkan jika dikelola dengan baik,” ungkap AA Ngr AA Wira Bima Wijarma, namun kenyataan urbanisasi di kota Denpasar sekarang sudahlah tidak terkontrol lagi, kemacetan terjadi di mana-mana, di Jalan Gajah Mada, atau PB. Sudirman misalnya, kemacetan oleh kendaraan pribadi maupun sepeda motor  tidak dapat dielakkan lagi.

Minimnya minat masyarakat terhadap kendaraan umum (angkot) menjadi salah satu penyebab kemacetan di kota Denpasar.  Hal tersebut  dikarenakan ongkos angkutan yang melambung tinggi, sehingga masyarakat merasa enggan menggunakan angkutan umum. Dengan keadaan demikian, angkot menjadi semakin jarang ditemui, disamping karena biaya operasional dan  perawatan kendaraan yang tinggi. Mengantisipasi hal tersebut Ketua Umum Partai Demokrat Cabang Denpasar ini berpendapat subsidi terhadap pengelola jasa angkot dinilai efektif guna membantu menutupi kekurangan permodalan.

“Mengatasi kemacetan di kota Denpasar, memang sudah sebaiknya angkutan umum dibangkitkan kembali, karena di jaman sekarang tidak hanya orang dewasa dan remaja saja yang sudah bisa menggunakan sepada motor di jalanan melainkanbahkan anak-anak Sekolah Dasar pun sudah diajarkan mengendarai sepada motor. Dengan demikian sama saja halnya mendidik anak-anak untuk menlanggar aturan yang telah ada,” ungkap Adi, salah seorang guru di kota Denpasar.

Untuk mengatasi hal tersebut, Adi menawarkan solusi dengan memberikan siswa Sekolah Dasar kupon angkot dengan harga miring yang dijual di sekolah-sekolah. Selanjutnya tukang angkotlah yang menukarkan kupon dengan uang yang selayaknya pada instansi pemerintah yang tekait. Dengan demikian  selain pemerintah membantu pengelola angkutan umum sekaligus mengembangkan serta memasyarakatkan angkutan umum kembali mulai dari kalangan pelajar.

Masalah jumlah urbanisasi berlebih tidak sebatas permasalahan kependudukan, permasalah pun akan menjadi lebih kompleks lagi seperti tingginya angka kriminalitas, pelacuran, permasalahan air bersih, perumahan padat, problem melubernya pedagang kaki lama (PKL), banjir hingga problem sampah yang tak kunjung selesai dipecahkan. Untuk itu I Made Sudira mempunyai gagasan membentuk Dewan Kota di kota Denpasar.

Dewan kota diharapkan mampu meracang serta menyusun program-program demi tertatanya kota Denpasar selama 25 tahun kedepan. Gagasan membentuk dewan kota mendapat apresiasi yang tinggi dari berbagi kalangan yang hadir dalam diskusi tersebut. Hal tersebut tidak lain demi kemajuan dan keteraturan kita Denpasar. Namun yang dipertanyakan kemudian, siapakah yang akan menggaji dewan kota? (tika)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *