Dewa Nyoman Sedana Arta : Tak Payah Regenerasi Penari Tradisi

Ia jatuh cinta pada seni tari sejak pertama kali diajari ayahnya. Cintanya pada seni tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan. “Jangan pernah sekali-kali buta akan seni, artinya kita akan kehilangan kebudayaan kita sendiri,” ucap Dewa Nyoman Sedana Arta mengingatkan. Perjalanan panjang dilaluinya untuk terus menjaga seni tari tetap hidup.

 

Seiring berjalannya dinamika kehidupan, eksistensi seni, khususnya kesenian klasik, seolah berjalan di atas kerapuhan. Hal tersebut-lah yang dirasakan oleh Dewa Nyoman Sedana Arta, seorang pemuda yang telah menggeluti dunia seni khususnya seni tari sejak usia belia hingga kini. Padahal, seni lekat dengan kehidpan manusia. “Sebuah seni memang kental akan unsur estetikanya apa yang kita lihat indah bisa dikatakan seni yang bisa menghibur diri kita baik itu secara jasmani maupun rohani,” tandas pria lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar ini.

Berawal dari hobi hingga akhirnya mampu menciptakan keindahan melalui olah tubuh, pemuda yang karib dipanggil Dewa Omang ini telah menekuni bidang seni sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Namun, ketika itu ia belum yakin bahwa dirinya memiliki potensi di bidang seni. “Dulu saya enggan berhubungan dengan dunia seni sampai ayah saya yang juga penggiat seni selalu memarahi saya, karena awalnya saya tidak mengerti dengan seni,” ungkapnya. Namun, seiring ia beranjak dewasa ia pun mulai tertarik dengan dunia seni dan meyakinkan diri bahwa ia mampu. Kiprah Dewa Omang di dunia seni tak terlepas dari dorongan Ayahnya yang telah mengalirkan jiwa seni kepadanya. Ketika umur 16 tahun ia memilih untuk menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan jurusan seni tari. Secara lebih spesifik bidang seni tari yang ia tekuni adalah seni tari tradisi Bali. Berkat ketekunannya mendalami bidang seni tari tak jarang ia meraih juara dalam suatu ajang perlombaan.

“Prestasi yang pernah saya raih pertama kali selama saya berkecimpung di dunia seni tari yaitu sebagai juara II lomba Tari Jauk se-Bali,” ujar Dewa Omang percaya diri. Sembari berjalannya waktu, tak hanya terkukung dalam perlombaan Tari Jauk, Dewa Omang pun kembali mengukir prestasi dengan mengikuti perlombaan Bapang Barong. Dalam beberapa kesempatan perlombaan Bapang Barong, ia menyabet empat kali juara I, dua kali juara II, dan satu kali sebagai juara harapan dalam perlombaan yang berbeda-beda. Tentu jenis tarian yang ia bawakan jika dibandingkan dengan perlombaan pertama yaitu Tari Jauk dengan Bapang Barong memiliki suatu perbedaan yang sangat kental. Ia menyatakan bahwa Tari Jauk termasuk tari tunggal yang ditarikan menggunakan topeng menggambarkan seorang raja raksasa yang sedang berkelana. Sedangkan Tari Bapang Barong merupakan sebuah tarian tradisional daerah Bali yang biasa ditarikan dengan topeng fauna berkaki empat yang besar dan kostumnya dikenakakan oleh satu hingga dua orang. Di antara kedua tarian tersebut tentu memiliki proporsi kesulitannya masing-masing.

Dengan berbagai prestasi yang ia tuai, begitu banyak orang yang mengagumi sekaligus memuji keahliannya. Namun ia tidak akan terbang karena pujian dan tidak akan tumbang karena cacian. “Dulu sama sekali tidak ada orang yang mau bertanya mengenai seni tari kepada saya, namun yang membuat orang-orang tertarik dan mulai membuka wawasan dengan dunia seni tari yaitu bersumber dari prestasi yang pernah saya raih kemudian dari mulut ke mulut orang-orang mulai tau saya,” ujarnya. Saat puncak karirnya tersebut, suatu ketika tercetus ide untuk mendirikan sebuah sanggar seni tari. Sanggar yang ia dirikan bernama “Sanggar Puncak Manik” dengan anggota berasal dari berbagai kalangan. Sanggar seni ini dipandang sebagai elemen masyarakat yang relatif memiliki perhatian dan kepedulian terhadap eksistensi dan kelangsungan seni serta budaya daerah yang dijadikan sebagai khasanah budaya nasional. Dengan berdirinya sanggar tersebut berbagai upaya dilakukan oleh Dewa Omang untuk meregenerasi penari  sepertinya dan membuat eksistensi seni tari tetap bertahan. Sungguhlah ia tak pernah payah untuk berbagi ilmu dan merangkai keberlanjutan seni tari.  Jenis tarian tradisi Bali yang diajarkan pun beragam. Mulai dari Tari Baris, Tari Jauk, Tari Bapang Barong, serta beberapa tarian Bali yang ditarikan oleh kaum perempuan.

Tak berhenti sampai di sana, selama ia menapaki karirnya di dunia seni tari tradisi Bali, Dewa Komang sempat menjadi penggarap sebuah fragmen tari untuk Kabupaten Bangli pada tahun 2017. Selain itu, ia juga sempat menggarap tari kreasi, dengan nama “Padma Herdaya” yang menggambarkan sebuah tanaman bunga yaitu teratai yang mampu hidup dalam berbagai situasi. Yang tak kalah memukau, di era pandemi ini ia melestarikan karya tari dalam bentuk virtual. Sehingga pementasan tari yang digarap oleh Dewa Omang tidak membuat suatu kerumunan masa. Garapan Dewa Omang ini berjudul “Grubug” yang menjadi sebutan dari masyarakat Bali menggambarkan situasi saat ini, dunia tengah dilanda pandemi yang tak kunjung berkesudahan.

Menariknya, dunia seni membuat Dewa Omang merasa nyaman. Baginya, ia akan selalu mewariskan ilmu yang ia miliki dari generasi ke generasi. Sebab, bagi Dewa Omang, “dunia tanpa seni akan mati.” Ucapnya. Oleh karena itu, Dewa Omang tak lelah-lelah terus berbuat dan menyebar ilmu seninya, membuat seni tari terus berdegup dan hidup.

Penulis : Ayu Trisna

Penyunting : Galuh

You May Also Like