Plester Mulut Media: Bentuk Kekecewaan Terhadap Media Umum

Peserta diskusi yang mengajukan pendapat saat diskusi Plester Mulut Media, Jumat (21/12), di Lantai 4 Gedung Student Center. (Foto: Arimbawa/Aka)

Jumat (21/12), Pers Mahasiswa Akademika Unud menyelenggarakan diskusi yang bertema “Pemilik Plester Mulut Media” di Lantai 4 Gedung Student Center, pk. 17.00 WITA. Diskusi tersebut dihadiri oleh beberapa Lembaga Pers Mahasiswa (LPM), yakni Kertha Aksara, Suara Satwa, Khlorofil, dan Maestro. Tak hanya dari LPM, Komunitas Mahasiswa Ilmu Komunikasi (Komik) dari Fakultas Fisip pun ikut turut serta dalam diskusi.

“Diskusi ini diselenggarakan sebagai bentuk kekecewaan terhadap pemilik media umum yang mencampuradukkan media dengan iklan dan kepentingan politik,” jelas Asykur Anam, Pemimpin Umum Persma Akademika Unud. Menurutnya, hal tersebut berbahaya karena media yang pemiliknya ikut di partai politik akan terganggu dalam hal pemberitaan. Wartawan media akan takut memberitakan pemiliknya jika pemiliknya berbuat salah.

Perlunya anggaran dari pemerintah, dana dari iklan, pendidikan untuk masyarakat dirasa penting sebagai solusi dari permasalahan. “Pemerintah semestinya meningkatkan kebijakan dan memberikan anggaran kepada pers. Tidak apa-apa terpengaruh partai politik, asalkan tidak terlalu jauh karena Indonesia banyak memiliki partai politik,” ungkap I Putu Wawan Sanjaya Adi Putra, perwakilan dari LPM Maestro.

Namun menurut Asykur Anam, wartawan harus disederajatkan dengan ahli. “Pers nasional tokoh utamanya adalah wartawan. Wartawan tidak lagi idealis karena wartawan sekarang dianggap sebagai buruh atau karyawan. Maka dari itu, wartawan harus disederajatkan dengan ahli dan diseimbangkan gajinya,” jelas Asykur Anam.

Namun dari permasalahan tersebut, peserta diskusi secara umum memandang bahwa masyarakat tetap saja harus bertanggung jawab dan cerdas terhadap informasi yang didapat dari media. Selain itu, pemerintah juga harus mengatur regulasi pemberitaan dalam bentuk UU dan komisi penyiaran. Di sinilah peran Pers Mahasiswa sebagai pembenah.

“Diskusi tadi lumayan asyik dan dapat dijadikan sebagai ajang silahturahmi dengan LPM lain,” ungkap Asykur Anam. Ia berharap agar teman-teman LPM bisa peka terhadap media, karena LPM juga merupakan insan penerus pers. (Alit P.)

You May Also Like