Ganja: Solusi Alternatif Deforestasi Hutan Indonesia

Negara Indonesia adalah salah satu negara yang disebut sebagai paru-paru dunia. Hal ini dikarenakan Indonesia memiliki hutan yang cukup luas sehingga mampu menyuplai oksigen bagi penduduk dunia. Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat bahwa total luas hutan Indonesia pada tahun 2016 adalah 124 juta hektar. Namun sejak tahun 2010 sampai 2015 Indonesia telah kehilangan luas hutannya yang mencapai 684.000 hektar tiap tahunnya.

Beberapa penyebab hilangnya hutan di Indonesia adalah berkembangnya industry pengolahan kertas. Di Indonesia industri kertas menyatakan bahwa jatah hutan yang boleh mereka tebang hanyalah 7,8% dari total luas hutan di indonesia dan dengan tangung jawab penanaman kembali dan pemeliharaan.

Sejatinya, pohon dan hutan memiliki peranan penting yakni menyuplai oksigen dan air bagi kelangsungan hidup manusia. Keberadaan pohon sebagai penopang kelangsungan hidup manusia tentu jauh lebih bermanfaat bagi kehidupan manusia sendiri, dari pada hanya sebagai bahan baku kertas semata. Padahal selain pohon-pohon di hutan, ada juga tanaman lain yang dapat menjadi bahan baku kertas yang lebih efisien dan murah dibanding serat kayu, yakni tanaman ganja.

Ganja adalah tanaman budi daya. Ganja sendiri menghasilkan serat yang dapat digunakan untuk membuat kertas. Saat ini, 1883,75% kertas di dunia dibuat dari serat ganja. Pemanfaatan ganja sebagai bahan baku kertas bukanlah hal baru. USDA (United States Departement of Agriculture) telah meneliti tentang ganja sebagai bahan baku kertas di tahun 1916. USDA juga menggambarkan, satu hektar ladang ganja bisa memproduksi bubur kertas sama banyakya dengan empat hektar pohon kayu.

Tanaman ganja sangat mudah tumbuh di pegunungan tropis dengan ketinggian 1000 meter di atas permukaan laut. Di Aceh sendiri, tanaman ganja ini dapat tumbuh liar tanpa budidaya. Hal ini menandakan, di tempat-tempat tertentu dengan iklim dan cuaca yang mirip seperti Aceh, ganja dapat tumbuh dengan mudah. Dengan demikian, tanaman ganja ini dapat dibudayakan sebagai salah satu alternatif  bahan baku kertas tanpa perlu terus menerus menebangi hutan.

Ganja tidak hanya bermanfaat sebagai bahan baku kertas saja, masih banyak produk lain yang berbahan dasar ganja. Perusahaan kosmetik Prancis, Sephora telah merilis High Beauty yang mengandung ganja dengan dua produk yaitu minyak wajah High Expectations dan pelembab wajah High Five. Ganja juga menjadi bahan dasar dari tali tambang kapal pesiar pertama, karena serat ganja yang bisa terbilang kuat

Selain menjadi bahan dasar kertas dan kosmetik Ganja juga bisa digunakan untuk masalah medis. Akar dari pohon ganja bisa mengobati penyakit diabetes. Musri Musman, ahli kimia dari Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, meneliti khasiat medis ganja terhadap penyakit diabetes.

Musri Musman mengatakan, ada bagian zat yang terkandung di dalam ganja, terutama minyaknya yang bisa mereduksi atau menghambat terjadinya oksidasi. Dengan dia bersifat anti-oksidan, maka pembentukan gula berlebihan pada darah dan tidak dapat dinetralisir oleh insulin, itu dihambat olehnya. Dengan demikian terjadi keseimbangan gula dalam darah. Menurut Musri, dalam kajian literatur, khasia tmedis ganja berasal dari senyawa kimia dalam ganja bernama cannabinoid atau disingkat CBD.

Tidak hanya diabetes, ganja juga menjadi obat kanker. California Pacific Medical Centre memanfaatkan CBD untuk mematikan sel canker supaya tidak menyebar. Inggris dengan Marijuana Centre-nya memanfaatkan CBD memberantas kelumpuhan, impotensi, diabetes, dan AIDS.

Ganja memanglah salah satu tanaman yang tergolong narkotika di beberapa negara. Namun hingga saat ini hal itu masih menjadi perdebatan karena beberapa kelompok medical mengklaim ganja dapat menyembuhkan penyakit. Pengobatan ganja ini pun sudah ada sejak zaman dahulu dan masih digunakan hingga saat ini seperti di California dan Inggris.

Melihat ganja yang memiliki banyak manfaat bagi manusia, tentunya hal ini mungkin bias menjadi pertimbangan kembali bagi pemerintah dan masyarakat Indonesia dalam memandang ganja. Apabila ganja dimanfaatkan secara benar dan dengan pengawasan serta peraturan yang jelas, tentu akan member manfaat besar bagi Bangsa Indonesia salah satunya mencegah deforestasi akibat dari perkembangan industri kertas. (Jaya/Akademika).

Editor: Via/Akademika