Gara-Gara Game Online

Oleh: Bhujangga Bagus

Editor: Via

Ilustrator: Mahendra

Game online adalah sebuah jenis video permainan yang hanya dapat dijalankan apabila perangkat game tersebut terhubung dengan jaringan internet. Ketika seseorang memainkan sebuah game online sebenarnya permainan tersebut dapat memberikan banyak manfaat bagi pemainnya. Namun sangat disayangkan, saat ini banyak orang menjadi kecanduan hingga menyalahgunakan game online tersebut. Khususnya bagi remaja dan anak-anak, memainkan game online secara berlebihan memiliki dampak yang sangat merugikan.

Di Indonesia, perkembangan game online sangatlah pesat. Dilansir dari laman techno.okezone.com., lebih dari 25 juta gamer online berasal dari Indonesia. Pada tahun 2013, berdasarkan data yang dirilis IDC (Internet Data Centre) pendapatan total game mencapai USD 150 juta di mana 60 persen-nya berasal dari game berbasis PC, 36 persen-nya berasal dari game berbasis social media (facebook game) dan 4 persen-nya dari game berbasis mobile.

Seiring munculnya warnet (warung internet) yang menawarkan beragam permainan dengan harga terjangkau. Sehingga mempermudah remaja dan anak-anak untuk mengaksesnya. Alhasil, kemudahan ini menyebabkan maraknya peredaran game online di masyarakat.

Hal ini pun menyebabkan remaja dan anak-anak rela menyisihkan uang sakunya untuk bermain atau membeli barang-barang dalam game online, seperti yang kita ketahui bahwa gamer membutuhkan in-apps purchase, seperti senjata, aksesoris, poin pengalaman, peta petualangan, fitur berlangganan dan lainnya yang bisa didapat melalui game credits. Hal tersebut terjadi akibat rasa kecanduan terhadap game online.

Terdapat dalam laman online portalsatu.com, menurut penelitian para psikolog yang tergabung dalam American Medical Associations (AMA), kecanduan game online disebabkan oleh pelepasan zat Neurochemical – Dopamine pada otak anak-anak saat memainkan game tersebut. Pelepasan tersebut menimbulkan perasaan senang dan nyaman. Dalam situasi umum, Dopamine bekerja dengan efektif saat seseorang mendengarkan musik harmonis, menikmati makanan yang lezat dan menonton film favorit.

Kecanduan juga memunculkan dampak-dampak negatif lainnya. Menurut Profesor Psikologi Douglas A. Gentile, yang menjalankan Media Research Lab di Iowa State University, Ames, seseorang yang kecanduan akan mengalami depresi, gelisah, kurangnya mengatur pola makan dan tidur yang menyebabkan terganggunya kesehatan. Saat mereka gelisah dan depresi hal itu akan mempengaruhi psikologis pemainnya dengan timbulnya emosi dan stres.

Dengan melihat dampak kesehatan dan psikologis yang ditimbulkan, kecanduan game online dikhawatirkan akan mudah mempengaruhi tingkat belajar dan prestasi remaja. Kecanduan pada game online menyebabkan kurangnya kontrol pada waktu yang berpengaruh pada tugas-tugas yang seharusnya diselesaikan, seperti tugas sekolah ataupun waktu bersosialisasi dengan teman dan keluarga menjadi terlupakan.

Jika waktu bersosialisasi dengan teman atau keluarga itu terlupakan maka mereka akan kesulitan bersosialisasi dengan orang lain. Mereka yang telah terbiasa hidup dalam dunia maya, umumnya akan mengalami kesulitan ketika harus bersosialisasi di dunia nyata. Sikap anti sosial, tidak memiliki keinginan untuk berbaur dengan masyarakat, keluarga, dan juga teman adalah ciri-ciri yang ditunjukkan oleh mereka yang telah mengalami ketergantungan terhadap game online.

Untuk mecegah terjadinya kecanduan diperlukan komunikasi atau kepedulian terhadap kondisi ini dari segala pihak, mulai dari pihak keluarga, sekolah maupun pemerintah. Sebagai tempat pertama dan utama bagi anak-anak dalam belajar, keluarga sebaiknya memberikan contoh nyata untuk meningkatkan rasa tanggung jawab anak-anak terhadap diri sendiri maupun orang lain. Orang tua harus membatasi waktu bermain anak dan juga menumbuhkan rasa disiplin terhadap waktu.

Pemerintah juga perlu memperhatikan para pemain game yang memiliki bakat dalam bermain game. Seperti yang kita ketahui bahwa tidak cuma pertandingan olahraga fisik, Asian Games 2018 yang digelar di Jakarta dan Palembang nantinya ikut diramaikan oleh pertandingan eSport atau olahraga elektronik (game).

Sayangnya, peran eSport dalam Asian Games 2018 hanya sebatas penggembira. Meski berpartisipasi dalam Asian Games 2018, namun pertandingan game nanti baru sebatas eksibisi. Artinya, atlet eSport nanti tidak bertanding untuk memperebutkan medali seperti cabang olahraga lainnya, tetapi baru pada 2022 atlet eSport dapat memperebutkan medali. Dengan adanya eSport dalam Asian Games pemerintah dapat mengarahkan para pecandu game online ini untuk bersaing dalam eSport Asian Games.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *