Geliat Dialektika Fakultas Termuda

Geliat Dialektika Fakultas Termuda

Diskusi – suasana acara ‘NGOPI’ yang berlangsung di lobi FKP Unud.

Bertajuk ‘NGOPI’, program diskusi di Fakultas Kelautan dan Perikanan (FKP) Universitas Udayana itu berlangsung penuh antusias pada Sabtu (15/2). Para peserta duduk bersama sembari menyeruput minuman masing-masing, mereka berbincang tentang isu terkini, seperti Omnibus Law. Sungguh santai sekaligus serius.

Ada hal baru yang digelar BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa -red) Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Udayana. Kegiatan bicang malam yang dilaksanakan di area Lobi Fakultas Kelautan dan Perikanan ini dihadiri oleh mahasiswa Fakultas Kelautan dan Perikanan serta beberapa anggota dari BEM PM Universitas Udayana. “NGOPI”, singkatan dari Ngobrol Santai Perkara Isu, kegiatan yang terbilang baru ini merupakan salah satu program kerja kabinet Sinergi Reformasi BEM Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Udayana. Tujuan dilaksanakan NGOPI ialah, sebagai wadah bagi mahasiswa/mahasiswi Fakultas Kelautan dan Perikanan yang ingin berdiskusi mengenai isu terkini.

‘Ngobrol’ yang dimaksud disini bukanlah sekadar bincang-bincang belaka. I Gede Agus Novanda, selaku ketua BEM Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Udayana, yang  sekaligus penanggung jawab dari kegiatan ini menuturkan bahwa NGOPI memiliki tujuan yang lebih dari sekedar duduk bersama. “NGOPI muncul karena kami merasa kurangnya wadah bagi mahasiswa khususnya mahasiswa Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Udayana untuk dapat mengutarakan aspirasi atau pendapat mereka terutama terkait dengan hal-hal akademis dan hal sosial politik lainnya. Maka dari itu, kami dari BEM periode tahun ini berinisiatif untuk membuat sebuah wadah diskusi yang mempunyai input dan output yang jelas, bukan hanya sekedar ngumpul-ngumpul dan ngobrol-ngobrol tanpa adanya hasil yang jelas”, tegasnya.

Topik yang diangkat pada NGOPI perdana ini yakni Omnibus Law, Keterkaitannya dengan Kondisi Kemaritiman Indonesia. “Topik yang didiskusikan tersebut lebih mengerucut pada sektor kelautan. Meskipun demikian, tidak menutup kemungkinan ada hal-hal lain di luar bidang ini yang akan dibahas selama acara diskusi, mengingat topik ini masih hangat dalam perbincangan mahasiswa maupun masyarakat” ujar Novanda.

Demi mendukung kegiatan tersebut, Novanda mengundang seorang pembicara yang juga dari kalangan mahasiswa. Menurutnya, kedatangan tamu yang disebutnya sebagai “pemantik” ini dapat lebih menghidupkan suasana diskusi. Ia adalah Prasasti Indah Asmarani, ketua BEM FPIK Universitas Jenderal Soedirman. Dipilihnya Rani sebagai pemantik diskusi karena ia memiliki pengalaman dan wawasan yang luas, terutama dalam bidang kemaritiman dan kelautan, dan kebetulan juga Rani tengah berada di Bali karena sedang menjalani Praktek Kerja Lapangan (PKL), sehingga mudah untuk dihubungi.

Meskipun acaranya mengalami keterlambatan dari yang dijadwalkan. Namun mahasiswa tampak antusias dalam mengikuti kegiatan diskusi ini. Mereka juga diberikan secarik kertas berisi narasi singkat mengenai Omnibus Law dan dampaknya bagi sektor kemaritiman Indonesia. NGOPI kemudian dibuka dengan sambutan singkat dari Novanda selaku ketua BEM Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Udayana, disusul oleh wakilnya, Huda Sabarno, lalu Rani sendiri sebagai pembicara. Rani kemudian memulai diskusi dengan memaparkan hal-hal yang perlu diperhatikan dari Omnibus Law. Tak luput, Rani juga menyinggung dampak dari Omnibus Law terkait dengan surat izin penangkapan yang harus dibuat oleh nelayan kecil dengan kapal tangkap di bawah 10 GT.

Topik yang menarik mengundang mahasiswa yang hadir untuk angkat bicara dan saling menyuarakan argumen masing-masing. Tidak ada perdebatan sengit, saling mengutarakan pendapat, mengoreksi jika ada yang salah, dan menjawab pertanyaan dari rekan yang masih kurang paham membuat suasana lebih hidup. Organisasi mahasiswa lainnya di lingkungan Unud pun turut meramaikan. Mereka juga ikut mengemukakan tanggapan dan mengajak mahasiswa lain untuk ikut andil dalam menghentikan pengesahan Omnibus Law yang dinilai cukup memberatkan masyarakat, khususnya para pekerja serta mahasiswa yang nantinya akan lulus dan mencari pekerjaan.

Diskusi yang terus mengalir menunjukkan bahwa kegiatan ini memiliki potensi yang baik untuk dikembangkan ke depannya. Novanda menuturkan bahwa Wakil Dekan III Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Udayana telah menyetujui aktivitas ini, selama hasil outputnya jelas dan kegiatan diskusi berlandaskan jiwa akademis. Maka, melalui diskusi ini, mahasiswa diharapkan lebih berani mengutarakan pendapat dari sudut pandangnya sendiri dengan tetap didasarkan pada pernyataan atau pendapat yang kredibilitas., “Kami berharap partisipasinya akan makin meningkat bukan hanya dari mahasiswa Fakultas Kelautan dan Perikanan saja, tetapi juga dari seluruh civitas akademika Universitas Udayana yang memang ingin berdiskusi secara intelektual, bukan hanya debat kusir.” Harapnya.

Meskipun merupakan fakultas termuda di Universitas Udayana, Fakultas Kelautan dan Perikanan berhasil menunjukkan kemampuan membuat kegiatan yang menumbuhkan rasa peduli terhadap permasalahan yang ada serta menemukan solusi yang didasarkan dari hasil argumen yang berwawasan akademis. Novanda berharap kegiatan ini tidak akan pernah mati dan kedepannya berlanjut dengan lebih banyak partisipan, duduk bersama membicarakan, dan menyelesaikan masalah di negeri ini, sebagai seorang mahasiswa.

Penulis : Ratih Pravitha

Penyunting : Era Jumantini

You May Also Like