Gerimis Tanpa Lengan

Denpasar, 19-28 Februari 2018

Namanya Clara, sebelum ia merasa terkutuk oleh kedua orangtuanya. Bapak lebih suka memanggilnya Rara dan ibu sering memanggilnya Caca. Sekarang ia menamai dirinya sendiri Lara. Nama yang pilu dan penuh luka. Sebagian orang akan memandang iba ketika mengetahui nama tersebut adalah nama seorang gadis dengan mata redup. Sisanya tidak begitu peduli dengan adanya gadis bernama Lara di bumi ini.

Sepuluh menit yang lalu, Lara bersemangat menyeduh white coffee terakhir di dalam lemarinya yang disimpan sejak berbulan-bulan lalu selian mi instan. Mungkin itu adalah pilihan yang tepat bagi Lara saat ini. Ia butuh kehangatan. Butuh, bukan ingin. Dengan syair-syair kesayangannya ia terus bergumam, memutar-mutar sendok di dalam gelasnya. Kepulan asap mengenai bulu matanya yang tebal. Ia merasa hangat. Sedikit, paling tidak.

Hujan lebat reda tepat saat Lara meletakkan gelasnya di meja belajar dekat jendela. Kini tersisa gerimis satu dua. Lara menyukai gerimis yang turun hampir sepanjang bulan ini. Lara juga suka tiba-tiba menyadari bahwa hanya pipinya yang basah ketika gerimis di luar jendelanya telah sempurna reda. Sebab ini di kota, maka tak banyak yang menikmati gerimis dalam dirinya sendiri seperti Lara pada senja kali ini.

 Jendela itu menghadap barat dan jika dibuka tirainya, maka hanya akan ada tembok putih yang menjulang. Bagi Lara, itu bukan tembok biasa. Saat ia merasa rindu kepada ayah ibu, seperti sekarang, ia akan pandangi tembok itu. Tidak ada apa-apa di sana. Namun di tembok itulah Lara banyak membayangkan bapaknya yang sering berada di tengah sawah. Melawan terik, menyemai padi, mencabuti rumput di dalam padi dan segala aktivitas lain yang biasa dilakukan oleh kebanyakan petani di desanya.

Ia harus mengakui bahwa ia sangat rindu bau lumpur sawah, bau keringat di caping bapak, bau masakan ibu tirinya, bau embun di ujung padi dan rumput liar. Ia menghirup dalam-dalam aroma rindu yang menggelora dari dalam tubuhnya sendiri. Lara menyeringai sedikit menahan nyeri di dadanya. Selebihnya ia hanya bisa terisak mengagumi keganasan rindu.

Entah dari mana munculnya suara parau bapak, “Ya yang sabar nduk, orang mencari ilmu itu memang butuh tirakat*.

Lara tidak menyadari air matanya yang sudah jatuh, hampir mengenai surat lamaran kerja yang akhir-akhir ini rajin ia tuliskan.

“Bapak tidak bisa bantu banyak, tapi bapak selalu mendoakan dimudahkan jalanmu mencari ilmu sesuai yang kamu kehendaki dulu,” lanjut suara yang sama.

Setelah itu, nasihat-nasihat bapak samar terngiang, seperti perpaduan gerimis dan rindu yang tidak jelas rupanya, datang lalu hilang begitu saja.

Bapak sangat menyukai gerimis, persis Lara. Kata bapak, gerimis mempunyai telinga. Kita bisa bercerita apa saja saat gerimis turun, ia akan mendengarkannya. Gerimis juga mempunyai lengan. Ia dengan senang hati memeluk orang-orang yang kesepian, sedih maupun rindu. Bapak tak pernah marah ketika Lara bermain di tengah hujan ataupun gerimis.

Masih basah dalam ingatan Lara saat siang malam ia berdoa agar bisa melanjutkan pendidikan di bangku perkuliahan. Saat teman satu kelasnya banyak yang berkabar lulus masuk Perguruan Tinggi Negeri, ia harus menelan kenyataan pahit dijodohkan dengan Selamet. Anak juragan cengkih terkaya di desanya itu memang sangat tampan. Namun apa arti kaya dan tampan jika usianya terpaut tiga belas tahun darinya serta kondisinya yang, maaf, bisu-tuli?

Lara pasrah, menerima apa saja yang berjatuhan dalam kenangannya sore ini. Menulis dua surat lamaran kerja setelahnya dan menandaskan segelas kopi yang terlanjur dingin. Lama sekali Lara ingat dirinya meminum kopi. Apalagi kopi yang dibiarkan dingin saat ia butuh kehangatan. Lara membereskan apapun, tapi tidak hatinya. Hatinya tentu sudah jauh lebih sering dirapikan ketimbang apapun yang pernah ia rapikan. Namun ia tak pernah bisa membuatnya benar-benar rapi menyembunyikan sesuatu yang tidak menyenangkan. Sesuatu di hati Lara sedang bermasalah. Lara memang diciptakan sebagai wanita yang tidak mempunyai banyak masalah. Namun sekarang hatinya benar-benar sedang bermasalah.

Getar ponsel membuat Lara terbangun, mengakhiri paksa bunga tidurnya yang baru akan dimulai. Jam tanpa jarum di meja belajar berangka 21:11 Waktu Indonesia Timur. Kata “Ibu” muncul dalam layar ponsel membuatnya berdeham dua kali sekadar untuk membenarkan suaranya yang serak. Dibandingkan bapak, ibu memang banyak sekali memperhatikannya. Menanyakan buah apa yang sudah dimakan Lara sepekan terakhir, sampai hal sedetail memotong kuku. Entah, Lara yang sudah duduk di bangku kuliah itu masih saja diperlakukan seperti kanak-kanak oleh ibunya. Terkadang ia sebal, tetapi lebih banyak ia merasa istimewa. Paling tidak ia masih mendapatkan perhatian seorang Ibu.

“Apa kabar, Ca?” suara ibu di seberang sana menyapa terlebih dahulu.

“Alhamdulillah selalu baik, Bu. Semoga keluarga juga selalu baik saja, amin,” Lara membenarkan posisi duduknya, menatap sekilas dinding putih di seberang jendela. Bapak sudah tidak ada di sana, digantikan oleh bayangan ibu yang pudar pada seluruh bagiannya. Sulit bagi Lara membayangkan sosok ibu yang sempurna.

“Makan apa tadi? Sudah makan kan?”

Percakapan itu mengalir seperti biasa, suara ibu yang meredam dendam kepada bapak. Basa-basi yang sudah Lara hapalkan di luar kepala. Lara berkali-kali menjawab dengan jawaban yang telah ia rapal di luar kepala pula. Tidak ada percakapan yang spesial. Percakapan berakhir setelah beberapa tawa yang Lara paksakan. Percakapan yang cukup membuatnya sedikit bersemangat menunaikan ibadah kuliah esok pagi.

Bapak dan ibu Lara berpisah saat ia masih sering menangis di kelas TK A, saat gerimis turun hampir sepanjang pekan, seperti saat ini. Sampai sekarang Lara hanya tahu mereka saling membenci. Bapak yang pendiam menikah beberapa tahun berikutnya. Tak lama kemudian giliran ibu yang memutuskan menikah dan berakhir meninggalkan Lara di panti asuhan. Sejak saat itu Lara menyukai gerimis. Sejak itu pula ia merasa dikutuk oleh orangtuanya.

Ponsel Lara bergetar lagi. Ia sempat meneguk air putih sebelum melihat siapa yang menghubunginya. Muncul kata “Agan” dan Lara hampir tersedak. Seminggu yang lalu Lara bertemu dengan pria dingin itu. Bicaranya yang irit mengingatkan Lara pada bapak dan gerimis.

“Halo,” suara Agan sedikit berbeda jika dibandingkan suara aslinya saat ia bercerita tentang atasannya, Pak Nyoman. Lara mengirimkan lamaran di sana beberapa minggu lalu.

“Halo,” Lara ragu-ragu menjawab. Takut sesuatu yang buruk terjadi. Ini bukan jam kantor, gumamnya dalam hati.

“Temanku tertarik menerbitkan kumpulan puisimu, La.”

Lara tidak mengerti sepenuhnya apa yang dikatakan Agan selarut ini. Pria dingin. Puisi. Menerbitkan. Lara membatin, Apa hubungannya? Dari mana dia tahu aku menulis puisi?

“Halo,” suara Agan terdengar lagi.

“Iya,” jawab Lara tanpa konsentrasi penuh.

“Sebaiknya besok kita bertemu. Bentara Budaya Bali pukul lima sore. Aku akan mengajak temanku membicarakan ini, kuharap kamu bisa datang,” Agan berbicara panjang.

Agan, Lara dan Desak pun bertemu sore itu. Membicarakan penerbitan puisi yang tak sengaja rajin Lara tulis dalam blog pribadinya. Ada matahari yang terbit di mata Lara setelah hari itu. Pikiran Lara berkelana, Bapak, Ibu, anakmu menjadi penulis!

Agan menepuk pundak Lara, memberi selamat. Gerimis tidak jatuh saat Lara melanjutkan makan malam berdua hanya dengan Agan, Desak berpamit ada kepentingan.

Beberapa bulan setelah itu, Agan dan Lara menjadi semakin dekat. Kata Agan, gerimis mematahkan lengan untuknya. Bila Lara rindu bapak dan ibu, bila Lara sedih, Lara bisa meminta Agan memeluknya. Seperti saat gerimis memeluk Lara tanpa ia minta. Namun Agan bukan gerimis yang bisa membaca perasaan Lara.

“Bayangkan ini lengan bapak dan ibumu, mereka memelukmu, Clara,” Agan mengerti apa yang pas diucapkannya saat ini.

*Tirakat (Bahasa Jawa): Usaha yang sungguh-sungguh untuk menahan suatu keinginan.

Oleh: Eva Lailatur Riska

Editor: Kristika

Sumber foto: etsy.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *