Gugatan PLTU Celukan Bawang Kalah, Masyarakat Belum Menyerah

Kamis (16/08/2018) telah berlangsung aksi damai terkait putusan akhir gugatan rakyat terhadap pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Celukan Bawang di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Denpasar. Aksi yang diselenggarakan oleh solidaritas mahasiswa, masyarakat dan berbagai lembaga ini merupakan wujud kepedulian terhadap rakyat yang menolak pembangunan PLTU tersebut.

 

Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Denpasar telah mengumumkan putusan akhir hakim mengenai gugatan rakyat terhadap Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batu Bara Celukan Bawang tahap kedua pada Kamis, 16 Agustus 2018. Meskipun hakim telah menyatakan rakyat kalah dalam gugatan tersebut, namun perjuangan rakyat untuk menuntut keadilan seolah tak berhenti begitu saja. Masih banyak orang yang peduli dan turut memperjuangkan nasib warga desa Celukan Bawang.

Kepedulian ini ditunjukkan dengan aksi damai yang diselenggarakan di depan PTUN Denpasar. Kegiatan ini diikuti oleh kalangan mahasiswa, masyarakat, dan para penggiat lingkungan hidup. Mereka membentuk Solidaritas Rakyat Tolak PLTU, sebuah aliansi yang mengungkapkan rasa dukungan sepenuhnya kepada saudara jauh mereka yang tidak lain masyarakat penolak PLTU Celukan Bawang.

Aksi yang dimulai pukul 09.00 WITA ini dihadiri berbagai lembaga dan individu antara lain PPMI Bali, FMN Denpasar, AMP Bali, SDMN, KP-PEMBARU Denpasar, YLBHI-LBH Bali, Komunitas Pojok, Greenpeace Indonesia, mahasiswa dan masyarakat peduli lingkungan. Aksi ini juga dikemas secara kreatif dengan adanya mural yang mengabarkan ironinya dampak PLTU serta pembagian zine dan stiker tentang informasi terkini PLTU Celukan Bawang kepada masyarakat sipil yang melewati jalan di depan PTUN Denpasar.

 Menurut Engel Bolldyrasin selaku koordinator lapangan aksi, aksi damai yang telah direncanakan jauh hari ini merupakan bentuk kepedulian guna meningkatkan semangat warga Desa Celukan Bawang dalam berjuang menolak PLTU. Pemuda yang berasal dari Front Mahasiswa Nasional (FMN) Bali ini juga menambahkan bahwa sudah saatnya mahasiswa serta masyarakat Bali sadar dan memperjuangkan hak-hak dari rakyat tertindas, khususnya warga Celukan Bawang yang mengalami dampak negatif dari PLTU tahap pertama yang sudah beroperasi dan tahap kedua yang akan segera dibangun.

Pernyataan senada pun disampaikan oleh Samsul Arifin selaku humas aksi. Samsul menggungkapkan bahwa aksi ini memiliki pesan berupa keinginan mengajak masyarakat Bali untuk terus mendukung warga Celukan Bawang yang menolak pembangunan PLTU tahap kedua. Selain itu untuk meminta hakim memutuskan secara objektif keadaan sebenarnya di lapangan demi keberlangsungan alam dan lingkungan Bali. “Gubernur Bali juga seharusnya tidak menutup mata atas perjuangan rakyat Celukan Bawang yang menolak PLTU, walaupun Gubernur Bali membuat izin amdal lagi pembangunan PLTU,” ujar Samsul Arifin.

Putusan hakim ini hanyalah pemantik awal bagi para Solidaritas Rakyat Tolak PLTU dan masyarakat Celukan Bawang yang menolak pembangunan PLTU untuk terus maju menuntut sebuah keadilan. Oleh sebab pembangunan PLTU tersebut menimbulkan berbagai dampak negatif untuk warga Desa Celukan Bawang baik dari segi lingkungan, sosial dam ekonomi. Adanya pembangunan PLTU akan mengakibatkan banyak masyarakat yang kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian.

“Gerakan penolakan harus semakin diluaskan, solidaritas-solidaritas itu semakin diluaskan untuk penolakan PLTU celukan bawang. Artinya dukungan-dukungan tidak hanya di Bali tapi juga di luar harus semakin diluaskan. Karena perjuangan warga untuk penolakan PLTU Celukan Bawang yang dilakukan melaui PTUN bukan bagian dari akhir,” tutup Samsul Arifin. (Teja/Wily/Akademika)

Editor: Via, Kristika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *