Gusti Ngurah Arya Bayu Permadi: Mengabdi karena Peduli

“Kehidupan merupakan sebuah perjuangan untuk memberi arti bagi diri sendiri dan orang lain,”  seakan menjadi kutipan yang tepat untuk menggambarkan sosok Gusti Ngurah Arya Bayu Permadi, S.Pd, seorang guru, entrepreneur, MC, sekaligus relawan asal Jembrana. Sekalipun banyak pekerjaan dan urusan yang menunggunya, pria yang akrab disapa Bayu ini selalu berpikir tentang melakukan sesuatu untuk orang lain. Apa yang dilakukan Bayu memang belum bisa banyak mengubah dunia secara keseluruhan. Namun, masih berkemungkinan untuk mengubah dunia kecil milik orang selain dirinya. “I can’t live without doing something for people” itulah motto hidupnya.

Sejak masih duduk di bangku sekolah menengah atas, anak kedua dari pasangan Gusti Putu Suara S.Pd dan Parmiati, S.Pd ini telah banyak mengabdikan dirinya dengan mengikuti berbagai organisasi kepemudaan. Beberapa diantaranya masih ia tekuni hingga saat ini adalah Palang Merah Indonesia dan Forum Anak Daerah.

Pria kelahiran 24 Maret 1994 tersebut aktif menyelenggarakan berbagai kegiatan bersama Forum Anak Daerah sejak Januari 2008. Beberapa kegiatan yang ia lakukan bersama Forum Anak Daerah yaitu Temu Lembaga Pemerintah, Pengajuan Usulan Anak Bali, dan Mimbar Anak Bali. Salah satu yang dilakukan dalam Forum Anak Daerah yakni seputar sharing dan memotivasi hidup anak-anak untuk menggunakan waktu mereka dengan baik semasa muda mereka. Baru-baru ini Bayu juga sempat ditunjuk sebagai juri dalam pemilihan Duta Anak Kabupaten Jembrana.

Keaktifannya dalam berbagai kegiatan Forum Anak Daerah sempat menghantarkan Bayu menjadi bagian dari 10 besar Pemimpin Muda Indonesia dari UNICEF. Bayu mengakui tidak ada pemilihan resmi dari kegiatan pemilihan pemimpin muda tersebut, ia hanya mendapati namanya sudah tercatat sebagai 10 besar Pemimpin Muda Indonesia dari UNICEF. Bayu pun sempat menanamkan pendidikan ke anak-anak agar menjadi lebih peduli melalui kegiatan yang ia buat bernama “1000 Untuk Anak Indonesia”. Dalam kegiatan itu setiap anak cukup menyumbangkan Rp. 1000,- saja untuk donasi campak yang digalang oleh UNICEF.

Selain Forum Anak Daerah, Bayu juga aktif dalam Yayasan Dana Abadi Bali (YDAB) yang dibentuk oleh pemuda-pemuda Bali untuk bersama-sama membangun Bali. Bayu bergabung dengan yayasan ini karena merasa satu visi dengan Ketua Yayasan Dana Abadi Bali, I Wayan Suantika. Dalam yayasan ini, Bayu banyak memberi bantuan, memberikan masukan dan ide-idenya untuk yayasan ini. Sekitar tahun 2016 terbentuklah Rumah Belajar Thetamind dan Summa Education Center yang merupakan bagian dari YDAB. Education center ini bertempat di Badung, Bali dan dibuka untuk anak-anak dari seluruh Indonesia. Namun saat ini anak-anak yang belajar di Rumah Belajar Thetamind dan Summa Education Center ini masih berasal dari sekitaran Badung saja.

Meski disibukan oleh urusan pekerjaan, namun mengajar kursus Bahasa Inggris di Widya Suara English Language and Training Center masih aktif ia lakukan. Begitu pula mengajar mahasiswa D1 di SLC Singaraja. Bayu mengatakan bahwa dirinya masih memantau kegiatan anak-anak di Rumah Belajar Thetamind dan Summa Education Center meski dirinya telah menetap di Melaya, Jembrana. Bayu seringkali harus pulang-pergi Badung-Jembrana untuk memantau kondisi anak-anak di rumah belajar tersebut.

Rumah Belajar Thetamind dan Summa Education Center memberikan bimbingan belajar kepada anak-anak dan penanaman karakter sejak dini. Selain itu, ia merasa dapat mengajarkan hal-hal sederhana namun memiliki dampak yang besar bagi kehidupan anak di masa depan seperti tidak ingkar janji, tanggung jawab, dan menghargai alam. Sesekali anak-anak di rumah belajar ini berjalan-jalan di lingkungan sekitar untuk lebih dekat dengan alam bersama kakak-kakak pengajar. Anak-anak dalam Rumah Belajar ini juga terbilang cukup banyak, sekitar tiga puluhan anak dan pengajarnya sebagian besar berasal dari kalangan mahasiswa yang se-visi dengan Bayu.

Bayu mengakui bahwa dirinya sangat menyukai anak-anak. Untuk itulah ia banyak bergabung dalam berbagai kegiatan yang bergerak dalam pemberdayaan anak. Ia seringkali menemukan keunikan dalam pikiran anak-anak. Dengan pikiran yang masih polos, anak-anak seringkali berpikir secara sederhana dan mengatakan pikirannya secara spontan, namun uniknya pikiran sederhana anak-anak tersebut justru belum pernah terpikirkan oleh orang dewasa. Hal inilah yang membuatnya semakin tertarik dengan kehidupan anak-anak. “Anak-anak memiliki emosi yang kompleks, sebagai orang dewasa harus bisa memahami kondisi psikologis anak agar mereka bisa merasa nyaman,” ujar Bayu ketika ditanya pendapatnya soal menghadapi anak-anak.

Selain mengabdi untuk anak-anak, Bayu juga melakukan pengabdian pada seniman lokal dengan membentuk komunitas I Do Something Bali yang bertujuan memberikan wadah kepada seniman lokal agar karyanya bisa lebih di ekspos. Komunitas ini diadaptasi dari program luar negeri yang idenya dicetuskan oleh salah satu rekannya. Bayu pun mengontak beberapa temannya untuk menyusun rencana pembuatan komunitas dan akhirnya terbentuklah komunitas I Do Something Bali. Komunitas ini tidak hanya berwirausaha tetapi juga memberikan donasi yang sebagian besar berasal dari hasil penjualan barang-barang kesenian. “Sebagian keuntungan dari komunitas ini kami donasikan. Kami juga sempat mendonasikan sebagian keuntungan kami untuk pengungsi Erupsi Gunung Agung beberapa waktu lalu,” ucapnya. (Via/Kristika/Juniantari/Akademika)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *