Harga Cabai Melejit, Pedagang Menjerit

Cuaca ekstrem yang melanda beberapa daerah berimbas pada sektor pertanian. Cabai yang menjadi kebutuhan pokok harus mengalami gagal panen. Akibatnya, harga cabai semakin melonjak dan menyebabkan kelangkaan dalam memenuhi stok pasar. Berbagai pihak ikut terdampak dari naiknya harga cabai.

Beberapa waktu belakangan, sejumlah daerah di Indonesia termasuk Provinsi Bali mengalami cuaca ekstrem dan curah hujan dengan intensitas lebat bahkan disertai petir dan angin kencang. Cuaca ekstrem ini membuat petani cabai mengeluh, sebab lahan pertanian mereka mengalami gagal panen. Lahan yang gagal panen mengakibatkan sebagian besar cabai menjadi busuk. Menurunnya hasil panen cabai di sektor pertanian mengakibatkan naiknya harga cabai dan kelangkaan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.

Kondisi ini dialami oleh salah satu pedagang cabai yang berjualan di Jimbaran, Bali, yaitu Komang Ratih Radityari. Ratih yang membuka usaha sembako bersama keluarganya sejak pertengahan tahun 2020 lalu ini berujar bahwa harga cabai memang sedang meroket, ditambah lagi keadaan Hari Raya Nyepi di Bali sehingga beberapa komoditi harganya mengalami kenaikan. Ratih mendapatkan pasokan cabai dari Pasar Induk di Tabanan. Lahan pertanian dari petani cabai andalannya mengalami gagal panen karena produktivitas lahan yang menurun sebagai dampak dari cuaca ekstrem.

Ratih mengaku usaha yang ia tekuni mengalami menurunan omzet pada hasil penjualan cabai. Situasi pandemi Covid-19 juga tentunya memperparah keadaan. Pembeli yang mayoritas merupakan ibu rumah tangga yang berhemat dalam berbelanja mengeluh karena kenaikan harga cabai. Naiknya harga cabai membuat pelanggannya enggan membeli cabai untuk sementara waktu. Menurunnya jumlah pelanggan tentunya menyulitkan penjual untuk mempertahankan kualitas cabai agar tetap segar.

Selain berdampak pada penjual, pembeli cabai juga terdampak dari peristiwa gagal panen akibat cuaca ekstrem ini. Harga cabai yang melejit membuat pelanggan berpikir kritis untuk berbelanja, terutama pada pengusaha kuliner yang bergantung pada cabai. “Sebenarnya awal kenaikan harga cabai itu sudah sejak November 2020, namun kali ini kian melejit, mungkin faktor Hari Raya Nyepi juga. Mau tidak mau saya hanya membeli cabai yang berukuran kecil agar mendapat cabai lebih banyak ketika berbelanja,” ucapnya. Meski demikian, Richa mengaku tetap membeli dengan harga yang melambung sebab sudah merupakan keperluan usahanya. “Karena usaha kuliner saya sangat membutuhkan cabai dalam mengolah makanan. Saya tidak berani untuk menambah harga jual makanan, saya mempertahankan kualitas agar pelanggan tidak berkurang,” tutur Richa M. Sani selaku pengusaha kuliner rumahan di Nusa Dua.

Richa yang merintis usaha kuliner rumahan bersama ibunya sejak tahun 2020 ini berharap agar harga cabai segera stabil. “Kalau harga cabai naik, otomatis berpengaruh pada keuntungan penjualan makanan saya. Untungnya akan semakin tipis kalau harga komoditi ada yang naik. Kalau pelanggan saya sih nggak ada yang complain, karena harga makanan yang saya jual tetap sama,” ujarnya. Richa tentunya berharap agar pemerintah dapat menjaga kestabilan harga bahan-bahan pokok di masa pandemi Covid-19 ini, agar tiap lapisan masyarakat dapat hidup dan makan dengan layak.

Sebagai penjual cabai, Ratih berharap pemerintah dapat memperhatikan sektor pertanian agar mendapatkan solusi dari peristiwa gagal panen yang dialami petani. Peristiwa gagal panen adalah peristiwa yang berulang, sehingga perlu untuk ditindak lanjuti agar keadaan tidak semakin memburuk. Meskipun gagal panen yang terjadi disebabkan oleh cuaca yang tidak bersahabat, seharusnya ada solusi yang tercipta untuk menanggulangi peristiwa gagal panen ini agar petani dapat memperkecil peluang terburuk yang dapat terjadi pada lahan pertaniannya. “Cabai adalah salah satu bahan makanan yang sangat dibutuhkan, maka stoknya harus selalu dipenuhi di pasar. Namun kestabilan harga juga perlu diperhatikan agar tidak terjadi penurunan omzet.” Pungkasnya.

 Penulis: Dhifa

Penyunting: Rani Meylan

 

You May Also Like