Harga Tiket Pesawat Melunjak, Dompet Anak Rantau Teriak

Kenaikan harga tiket pesawat terasa memberatkan bagi pengguna jasa penerbangan di tanah air. Terlebih lagi mahasiswa perantauan yang tentunya akrab menggunakan sarana transportasi udara ini. Lantas, apakah ini berarti para mahasiswa rantau sebaiknya mengurangi frekuensi pulang kampung?

Di awal tahun 2019, masyarakat Indonesia dihebohkan dengan harga tiket pesawat yang meningkat disertai dengan harga bagasi terpisah di beberapa maskapai di Indonesia. Masyarakat menganggap kenaikan harga ini memberatkan. Ketua Indonesia National Air Carrier (Inaca), asosiasi maskapai, Ari Ashkara dalam artikel Tirto.id dengan judul “Harga Tiket Pesawat Melambung Dipicu Pelemahan Rupiah”, menyebut pelemahan nilai tukar rupiah atas dollar Amerika Serikat yang menyebabkan harga tiket pesawat melambung.
Bentuk penolakan harga tiket pesawat yang melambung disampaikan melalui petisi. Dilansir dari website change.org, sebuah petisi berjudul “Turunkan harga tiket pesawat domestik Indonesia” sudah ditandatangani 425.939 orang (dilihat pada pukul 21.44 WIB tanggal 2 April 2019 -red). Harga tiket yang dinilai naik drastis menimbulkan rentetan keluhan di masyarakat yang terus berlanjut hingga saat ini, khususnya bagi mahasiswa rantau. Banyak mahasiswa rantau di beragam penjuru Indonesia turut melayangkan protes di media sosial. Mereka merasa kesulitan untuk pulang ke kampung halamannya dikarenakan harga tiket pesawat yang melejit.
Diketahui pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk mengembalikan kestabilitasan harga tiket pesawat. Mulai dari memberikan peraturan baru terkait tarif batas bawah tiket pesawat hingga rapat di Kemenko Kemaritiman yang dihadiri Menteri Perhubungan Budi Karya, Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, perwakilan pihak maskapai, perusahaan travel agen, dan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI).
Namun hal tersebut belum juga membuat masyarakat Indonesia puas. Pasalnya masyarakat memantau sampai saat ini, harga tiket masih dinilai mahal. Padahal menurut Katadata.co.id dalam artikelnya yang berjudul “Indonesia Masuk Daftar 10 Negara dengan Harga Tiket Pesawat Termurah”, Indonesia berada di peringkat kelima dengan harga tiket US$ 6,84 atau senilai Rp 88.708.
Memang benar, pemerintah berperan dalam mengontrol ketidakseimbangan harga tiket pesawat saat ini. Akan tetapi otoritas utama untuk menetapkan harga tiket pesawat tetap berada di perusahan maskapai itu sendiri. Harga tiket pesawat yang naik bisa juga dikarenakan harga bahan bakar pesawat yakni avtur, naik. Keadaan seperti ini pun tidak bisa disalahkan sebab bahan bakar avtur termasuk ke dalam sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui. Dengan kata lain, semakin terbatasnya bahan bakar, maka akan semakin naik pula harga avtur yang akan berimbas pada harga tiket pesawat.
Faktor-faktor lain yang menyebabkan kenaikan harga tiket pesawat pasti telah dipertimbangkan secara matang. Maka para pecinta jasa transportasi udara diharapkan untuk bersabar dengan kenyataan. Termasuk pula para mahasiswa rantau yang menyukai pesawat sebagai transportasi sebab mampu mengantarkan ke kampung halaman dengan waktu efisien. Sebab kenyataannya, menurunkan harga tiket pesawat tidak semudah menurunkan IPK.
Harga tiket pesawat memang dapat membuat dompet anak rantau berteriak merana. Namun bukan berarti mahasiswa perantauan serta merta tidak bisa pulang kampung. Ada baiknya bagi mahasiswa rantau untuk memikirkan alternatif transportasi lain untuk pulang kampung.
Masih ada sarana transportasi lain seperti kereta api, kapal laut, atau bus yang dapat dipergunakan. Transportasi-transportasi tersebut juga memberikan pelayanan baik, meski waktu yang dibutuhkan memang tak secepat menggunakan pesawat. Tapi, waktu yang lama di perjalanan pun masih dapat diisi oleh penumpang untuk hal lain misalnya membaca buku, menikmati pemandangan di jalan dan sebagainya.
Pulang kampung bersama dengan teman juga merupakan pilihan yang baik. Selain dapat menyingkirkan kebosanan, para anak rantau juga dapat menjalin keakraban melalui pembicaraan selama perjalanan. Hal ini dapat meminimalisir label individualistis di kalangan anak muda zaman sekarang yang biasanya lebih sibuk berkutat dengan gadget masing-masing.
Tak menutup kemungkinan pula ada urusan mendesak yang mengharuskan anak rantau pulang kampung dan membeli tiket pesawat tanpa melihat tanggal high season. Untuk mewaspadai keadaan darurat seperti itu, tak ada salahnya pula bagi anak rantau untuk mulai belajar menabung.
Tidak perlu langsung menabung dalam jumlah banyak. Mengikuti peribahasa sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit sudah merupakan hal yang tepat. Tidak ada ruginya pula untuk mulai menabung sejak dini. Uang yang ditabung dapat digunakan untuk hal-hal mendesak lainnya. Dengan meningkatnya harga tiket pesawat, anak rantau seharusnya turut meningkatkan kreativitas dalam menanggapi masalah. Bukan hanya dengan melulu mengeluh tanpa mengeluarkan peluh. (Vilia/ Akademika) (Editor: Kristika)