Hasil Studi Visit 2018, WR III Unud: Kurangi Event Organizer Perbanyak Bidang Penalaran

Delegasi organisasi mahasiswa tingkat universitas beserta jajaran rektorat Universitas Udayana mengadakan study visit ke Perguruan Tinggi Negeri Berstatus Badan Hukum (PTN BH), tepatnya di Universitas Diponegoro (UNDIP) dan Universitas Gajah Mada (UGM) pada Rabu (02/05/2018).

Study visit yang berlangsung di Kota Semarang dan Yogyakarta ini dihadiri oleh Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Universitas Udayana beserta jajaran staf mendampingi organisasi internal mahasiswa ranah universitas meliputi 41 Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Badan Eksekutif Mahasiswa Pemerintahan Mahasiswa (BEM PM) dan Dewan Perwakilan Mahasiswa Pemerintahan Mahasiswa sekaligus panitia pelaksana study visit.

Kegiatan kunjungan berlangsung rutin setiap tahunnya dan diinisiasi oleh Komisi V Bidang Hubungan Eksternal, Dewan Perwakilan Mahasiswa Pemerintahan Mahasiswa Universitas Udayana (DPM PM Unud). Alasan pemilihan kota tujuan study visit tahun ini berdasarkan atas riwayat prestasi yang dimiliki UGM dalam mencetak prestasi di kancah nasional dan internasional serta Undip sebagai klaster pertama dalam prestasi PKM.

Menurut Ketua DPM-PM Universitas Udayana, Ody Putra Karno (21), tujuan utama kegiatan study visit adalah mengenai organisasi kemahasiswaan itu sendiri. “Fokus utama kita itu adalah organisasi kemahasiswaan, bagaimana kita mengelola, mengembangkan dan memajukan serta belajar organisasi mahasiswa di universitas lain yang memang jauh lebih baik dari pada Universitas Udayana,” ujarnya.

Hal senada dituturkan oleh Prof. Dr. Ir. I Made Sudarma, M.S selaku Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Universitas Udayana. Menurutnya, tujuan studi banding untuk mengetahui perkembangan universitas lain yang memiliki prestasi jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Universitas Udayana. Prestasi tersebut meliputi bidang olahraga, minat bakat, penalaran, pengajuan PKM, dan organisasi kemahasiswaan yang berjalan harmonis serta hubungan alumni yang terjalin baik.

“Harapannya ke depan bisa membuka cakrawala berpikir yang sempit dan event organizer dikurangi sehingga bidang penalaran yang diperbanyak. Penalaran itu adalah program-program pemerintah yang misalnya PKM, Program Kompetisi Bisnis Mahasiswa Indonesia dan Program Bina Desa, semua itu dana di mana semuanya harus diraih oleh mahasiswa kita sebanyak-banyaknya untuk kesejahteraan mahasiswa,” tuturnya.

Salah satu peserta yang telah mengikuti study visit sebanyak dua kali yaitu Azriatul Hadi (20) yang sekaligus merupakan delegasi UKM Generasi Bidikmisi Udayana. Ia mengakui dirinya banyak belajar dari study visit yang diikutinya. Ia melihat perbedaan yang sangat signifikan antara Universitas Udayana dengan universitas lain. Dari study visit ini, Hadi berharap organisasi mahasiswa Universitas Udayana bisa mengadopsi kelebihan organisasi mahasiswa di universitas lain.

“Kalau yang menjadi inspirasi contohnya di Universitas Diponegoro, terdapat beberapa prestasi seperti bidang PKM. Ketika saya melihat prestasinya di bidang PKM, sangat banyak sekali berbeda dengan Unud dan di situ katanya ada pelatihan PKM yang terus digalakkan selama satu tahun dan itu terus berkelanjutan,”ujarnya.

Ia memaparkan bagaimana gencarnya pembuatan PKM di Universitas Diponegoro yang keberhasilannya dibuktikan dengan  prestasi. Padahal, ia melanjutkan, pelatihan PKM di Undip dengan di Unud menerapkan sistem yang sama. Yaitu ada pelatihan PKM khusus mahasiswa bidikmisi baik di tingkat fakultas maupun universitas dan mewajibkan mahasiswa penerima bidikmisi untuk membuat PKM. Sayangnya,  pembuatan PKM di Unud belum efektif.

Hadi menambahkan kedepannya akan mengimplementasikan hasil study banding melalui UKM Generasi Bidikmisi Udayana. “Kita mau coba nanti mengadakan roadshow ke tiap fakultas dan memberikan pelatihan kepada mahasiswa bidikmisi supaya mereka itu serius membuat PKM bidikmisi, supaya ada prestasi lah,” katanya.

Azriatul menuturkan masih terdapat kekurangan pada kegiatan study visit ini, karena perwakilan UKM dari universitas lain tidak ikut serta dalam sesi focus group discussion sehingga kesulitan dalam bertukar pikiran antar sesama UKM. Ia merasa kurang mendapat esensi karena hanya perwakilan BEM dan DPM saja yang dapat hadir. (Ratih/Akademika) (sumber foto: Dok. Panitia Study Visit 2018)

Editor: Audini, Juniantari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *