Hening yang Mendinginkan Bumi

world silent dayBumi kini diperkirakan berumur 4.55 milyar tahun! Bumi telah berjasa selama itu, non-stop tujuh hari seminggu, 365 hari setahun. Sadarkah bahwa balasan yang kita berikan lebih banyak berupa  racun dan kerusakan pada bumi?

Saat ini bumi menghadapi kerusakan lingkungan, konflik sosial atas sumberdaya yang kian langka, dan perubahan iklim. Semuanya disebabkan terutama oleh aktivitas produksi dan konsumsi manusia yang tidak ramah lingkungan. Manusia harus sadar bahwa bumi perlu diberi waktu untuk memulihkan diri.

Apa itu WSD?

Hari Hening Sedunia atau World Silent Day (WSD) adalah gerakan masyarakat bersama untuk menyelamatkan bumi. WSD merupakan gerakan moral untuk memberikan ruang bagi bumi untuk bernapas, walaupun hanya sehari.

WSD mengajak masyarakat dunia melakukan hening pada 21 Maret tiap tahun. Sesuai namanya, pada hari tersebut, umat manusia diminta menjadi hening, mengurangi kegiatan harian, termasuk mengurangi berkendaraan. Tiap orang diminta berkontribusi mengurangi konsumsi energi, sumberdaya alam dan bahan-bahan lain.

21 Maret dipilih sebagai simbol peralihan  menuju kehidupan baru, saat matahari berada pada titik vernal equinox dan akan bergerak dari khatulistiwa ke arah utara. Keesokan harinya pada 22 Maret dilanjutkan dengan penghargaan terhadap air sebagai Hari Air Sedunia.

Siapa Sasaran WSD?

Sasaran utama WSD adalah semua manusia di bumi agar  berkontribusi mengurangi emisi gas rumah kaca, terutama mereka yang menggunakan energi dan mengkonsumsi materi secara berlebihan.  Dalam proses pengurangan konsumsi ini, WSD juga ingin mendorong keadilan iklim. Banyak masyarakat pedesaan di negara berkembang bahkan belum dapat menikmati listrik, sementara masyarakat di negara maju amat boros listrik. Karena itu dengan hening, diharapkan masyarakat New York City, misalnya bisa ikut merasakan keadaan gelap gulita tanpa listrik sebagai kontribusi mengurangi emisi gas rumah kaca.

Sasaran akhir adalah mengubah proses produksi yang kotor serta konsumsi yang boros menuju produksi bersih serta budaya konsumsi yang hemat dan ramah lingkungan.

Apakah  Emisi Berkurang ?

Sulit mengukur pengurangan emisi dari WSD. Sebagai gambaran, satu hari hening (pelaksanaan Nyepi) di Bali bisa menghemat emisi gas rumah kaca minimum 20.000 ton CO2 hanya berdasarkan perhitungan kendaraan bermotor dan pesawat terbang yang tidak beroperasi. Metodologi penghitungan sedang dirancang. Namun yang lebih penting, WSD adalah gerakan moral, gerakan solidaritas masyarakat untuk secara nyata berkontribusi mengatasi perubahan iklim.

Apakah WSD Tidak Membuat Rugi ?

Tidak! Kehilangan satu hari kerja nampaknya dapat mengurangi keuntungan. Namun dari perspektif ekologis dan sosial, mengistirahatkan bumi serta  tubuh dan jiwa manusia dalam sehari adalah bagian dari proses pemulihan menuju keberlanjutan. Kehilangan nilai ekonomi satu hari jauh lebih kecil daripada biaya yang harus dibayar akibat bencana perubahan iklim jika kita tidak memberikan ruang bagi bumi untuk memulihkan kerusakannya. Sebenarnya, penghematan konsumsi juga merupakan bagian aspek ekonomi. Contohnya, PLN Bali mengatakan hemat Rp 3 miliar ketika Nyepi.

Apa Bedanya WSD dengan Nyepi di Bali?

WSD terinspirasi dari kearifan tradisional di Bali, yakni Nyepi. Saat Nyepi manusia sebagai bagian dari alam melakukan pengorbanan diri dengan tidak melakukan apa-apa. Tapi WSD berbeda dari  Nyepi. Nyepi menggunakan pendekatan teologis dan budaya  sedangkan WSD menggunakan pendekatan ekologis.

WSD sama sekali tidak bernuansa Hindu. Nyepi terkait tahun baru masyarakat Hindu Bali, tapi pelaksanaan Nyepi tidak dilakukan umat Hindu lain di dunia. Konsep Nyepi murni kearifan budaya Nusantara. WSD mendorong kontribusi individu tanpa membedakan status, agama, ras maupun kewarganegaraan. WSD dilaksanakan tanpa ritual budaya ataupun keagamaan apapun.

Bagaimana Ide WSD Muncul?

Gagasan WSD lahir menjelang penyelenggaraan Konferensi Perubahan Iklim (COP 13 UNFCCC) di Bali. Sebagai bagian partisipasi masyarakat Bali mengatasi perubahan iklim, Bali Organic Association (BOA), Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Bali, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Eksekutif Daerah Bali, dan Yayasan Wisnu membentuk Kolaborasi Bali untuk Perubahan Iklim. Kolaborasi ini bertujuan memfasilitasi partisipasi masyarakat menyampaikan aspirasi mengenai keadilan iklim.

Melalui beberapa temu kampung, pertemuan Ornop dan diskusi terfokus, tercetus gagasan mengangkat kearifan lokal di Bali yakni Nyepi, sebagai salah satu cara mudah mengurangi  emisi gas rumah kaca. Aspek ekologisnya dapat ditawarkan ke dunia internasional, sehingga kampanyenya disebut World Silent Day atau Hari Hening Sedunia.

Bagaimana Cara Berpartisipasi?

Setiap orang dapat berpartisipasi dalam WSD dan melakukan pengurangan konsumsi energi serta bahan lain secara kreatif.  Hening selama 24 jam mungkin sulit bagi orang-orang di jaman ini. Namun pengurangan konsumsi tetap bisa dilakukan. Misalnya, seminggu sekali bersepeda ke tempat kerja atau mematikan beberapa barang elektronik.

Setiap orang dapat memilih caranya sendiri untuk melakukan hening. Kirimkan pengalaman hening tersebut untuk dibagi kepada orang lain melalui mysilent@worldsilentday.org. Masyarakat juga bisa memberikan kontribusi dana, bahan kampanye, ide, waktu dan komitmen atau menjadi perwakilan WSD di daerah masing-masing.

Heninglah untuk mendinginkan bumi! Mulailah dari diri masing-masing.

(siska)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *