Hoax Merebak, Remaja Bertindak

Di tengah kemudahan mendapatkan informasi, ternyata bukan hal mudah untuk memilahnya. Apalagi semakin merebaknya berita bohong, menyebabkan penerima informasi kebingungan. Berangkat dari fenomena itu Unitas Penalaran dan Jurnalistik (UPJ) Universitas Warmadewa turut mencari jalan terang. Melalui edukasi terkait hoax kepada remaja melalui seminar regional bertajuk “Membangun Paradigma Anti Hoax di Kalangan Mahasiswa” pada Sabtu, (30/6/18). Acara yang berlangsung di Auditorium Widya Sabha Utama, Universitas Warmadewa tersebut diisi oleh tiga narasumber dan 68 peserta dari intern Unwar dan umum.

 

Zaman serba canggih ini seolah menuntut tiap orang untuk berlomba-lomba dalam mempelajari perkembangan teknologi. Tak ayal, masyarakat lebih sering mengakses segala sesuatu melalui internet. Bahkan, surat kabar maupun majalah yang beredar sudah jarang dibaca dan digemari.

I Gusti Maha Putra Sanjaya selaku Pembina UPJM Unwar menuturkan dalam sambutannya, hanya segelintir orang saja yang masih membaca berita terbaru dari surat kabar. “Sayangnya, pengaksesan berita atau informasi yang seringkali diakses banyak orang ini meresahkan dengan munculnya berita hoax,” paparnya. Tidak hanya terdapat di website, berita hoax ini juga beredar di sosial media. Paling sering berita bohong tersebar cepat melalui pesan broadcasting yang terkadang tidak masuk akal.

Mirisnya, beberapa masyarakat awam dengan mudahnya menyebarluaskan berita hoax ini tanpa mencerna dan mengetahui kebenaran dibaliknya. “Masyarakat sayangnya terlalu ‘bodoh’ untuk mencerna informasi yang mereka dapatkan dari internet, sehingga mereka dengan mudahnya menjadi sasaran para penyebar hoax,” tandas I Gusti Maha Putra Sanjaya dalam sambutannya.

Hal tersebutlah yang kemudian menjadi sorotan UPJ Universitas Warmadewa untuk menanggulangi penyebaran berita hoax di kalangan masyarakat luas. Elsi (19) selaku ketua panitia seminar mengatakan masih ada banyak orang yang mudah untuk menjadi sasaran empuk para penyebar hoax. Tanpa mencari tahu kebenaran berita tersebut dari sumber lain (crosscheck). “Kita, mahasiswa jarang banget pegang buku, jarang banget pegang koran, apa-apa kita lihat dari media sosial. Terlebih, kita jarang benar-benar melihat isi berita tersebut,” tambahnya.

Oleh karena itu, ia dan panitia lain ingin memperkenalkan ciri-ciri berita hoax dan memulai gerakan anti hoax dari kalangan mahasiswa. Acara pun berlangsung dengan menggandeng tiga narasumber, yakni Luh De Suryani dari Aliansi Jurnalis Independen, Bagus Putra Made Suwarjana selaku Sekjen PPMI, dan Ketua Kominfo, I Dewa Made Agung, S.E, M.Si.

Dalam pemaparan ketiga narasumber, terdapat beberapa contoh berita hoax. Bahkan, Made Agung memaparkan sejarah singkat tentang permulaan berita hoax yakni pada tahun 2006, tepatnya di Amerika setelah peluncuran film The Hoax. Luh De selaku narasumber menjelaskan, sebelum menerapkan informasi dari berita yang dibaca, ada baiknya untuk seseorang mencerna dengan baik isi berita tersebut.

Selain itu, dapat pula membandingkan satu berita dengan berita lainnya. Terlebih menurutnya, banyak berita yang tidak mencantumkan sumber dengan jelas, sehingga valid berita tersebut patut dipertanyakan. Hal serupa juga kembali ditegaskan oleh Bagus Putra dalam pemaparan materinya.

Luh Dewi (20) selaku ketua umum UPJ Unwar menyatakan bahwa seminar ini juga diadakan untuk menyadarkan mahasiswa tentang pergerakan anti hoax. “Terkadang, kalau kita menemukan berita hoax yang menunjukkan bukti konkret di sekitar kita, ada baiknya kita kembali mencari sumber valid lainnya. Kita telusuri berita tersebut, apakah mengarah pada unsur kebencian, ataupun SARA,” jelasnya. Ia melanjutkan jika hal-hal tersebut sudah ada pada suatu berita, maka lebih baik bagi kita untuk mewaspadai dan tidak memercayai berita tersebut

Menjadi salah satu insan pers mahasiswa, Luh Dewi berpendapat sebagai insan pers yang baik jangan sampai mudah terpancing pada berita hoax ataupun tersulut emosi. “Apabila kita menemukan berita hoax, carilah beberapa bukti tandingan dan menerbitkan klarifikasi, serta menjaga orang di sekitar kita untuk berhati-hati terhadap berita serupa,” tambahnya.

“Semoga dengan adanya seminar ini, akan ada kesadaran dari mahasiswa. Bukan hanya di Universitas Warmadewa, namun di seluruh Universitas yang ada di Indonesia,” harap Elsi selaku penyelenggara kegiatan ini. Tidak hanya itu, Luh Dewi juga menambahkan beberapa harapannya, pemerintah akan mengadakan penyuluhan kepada masyarakat, karena akan sulit menjangkau masyarakat luas untuk mencerna berita hoax. (Ainun/Akademika)

Editor: Kristika, Juniantari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *