I Wayan Alit Sudarsana: “Lingkaran Kecil untuk Perubahan ”

Tak ada pekerjaan yang lebih mulia di dunia ini ketimbang membantu orang lain meraih sukses,” kutipan Alan Loy McGinnis ini seolah melekat pada diri I Wayan Alit Sudarsana. Dengan membangun sebuah yayasan lingkaran kecil bernama Little Circle Foundation sejak 2013 silam, yayasan ini telah berhasil memberikan beasiswa kepada 60 anak lebih di seluruh Indonesia serta beberapa program inspiratif lainnya.

Bermodalkan tekad kuat dan berharap bisa memberikan kontribusi kepada masyarakat, Alit—sapaan akrabnya—mendirikan sebuah yayasan yang diberi nama Little Circle Foundation (LCF).  LCF merupakan sebuah yayasan nirlaba (non-profit) dan non-pemerintah (NGO) yang bergerak di bidang pendidikan, sosial, hukum dan terbentuk pertama kali pada tanggal 9 Mei 2013 di Desa Tangkup Anyar, Sidemen, Karangasem, Bali, Indonesia.

Sebagai founder dari yayasan ini, ia menyadari betapa pentingnya memberikan sebuah kesempatan belajar bagi anak-anak terutama yang tinggal di daerah pelosok. Ditambah, menurutnya minat anak-anak pada sebuah pembelajaran bahasa, sains, atau lainnya dirasa cukup tinggi. Untuk menyediakan sebuah wadah bagi mereka, maka lahirlah LCF Development Scholarship,” di mana terdapat berbagai jenis beasiswa yang disediakan khususnya untuk anak-anak yang kurang mampu secara finansial. Jumlah beasiswa yang sudah pernah diberikan yakni lebih dari 60  beasiswa yang tersebar di seluruh Indonesia. “Beasiswa yang kita berikan ada bermacam-macam jenisnya, seperti kita membiayai mereka untuk mengikuti kompetisi atau lomba debate, misalnya. Seperti kemarin kita kirim delegasi ke Intitut Teknologi Bandung (ITB), atau kita memberikan laptop sebagai penunjang pendidikan mereka,” ungkap alumnus SMA Negeri 1 Semarapura ini.

Adapun beberapa program lain yang rutin dilaksanakan LCF yaitu Teaching Class (pengajaran) yang pertama kali diadakan di Desa Tangkup, Sidemen, Karangasem, Balis pada 2013 dan masih rutin dilaksanakan hingga saat ini. Dalam program pengajaran, LCF terfokus pada anak-anak khususnya dari kalangan SD, SMP, hingga SMA. Mereka akan diberikan pemahaman tentang softskill dengan menggunakan medium bahasa Inggris. Jumlah murid yang dimiliki LCF pun terbilang fantastis, yaitu sekitar 8000 murid di seluruh Indonesia. Daerah-daerah yang sudah dikunjungi dalam program pengajaran yakni Karangasem, Klungkung, Gianyar, Denpasar, dan Badung. Alit berharap agar dapat mengunjungi seluruh daerah yang berada di Bali untuk memberikan pengajaran, bersama beberapa orang yang tergabung dalam volunteers LCF. Total volunteers yang berada di bawah naungan LCF hingga saat ini terhitung sekitar 6000 orang dan tersebar di seluruh Indonesia. Selain program Teaching Class (pengajaran) terdapat pula program inspiratif lainnya seperti Inspiring Class, LCF Science Club, dan LCF Legal Clinic.

Di samping mengembangkan program-program inspiratif pada LCF, Alit juga kerap aktif dalam menyikapi isu-isu dalam masyarakat. Contohnya saja isu MEA atau Masyarakat Ekonomi Asean yang mencuat sejak 2015 lalu . Menyikapi hal itu, menurut Alit sendiri kemampuan internasionalisme Indonesia masih terbilang kurang dengan negara lain. Padahal, internasionalisme tersebut sangat dibutuhkan masyarakat Indonesia guna menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean. Hal ini disebabkan karena adanya “kenaifan” yang muncul pada masyarakat itu sendiri. “Kita bisa lihat contohnya jika masyarakat di daerah-daerah pelosok mencoba untuk belajar berbahasa Indonesia atau Inggris, kadang kala mereka dicemooh orang sekitar,” tutur pria kelahiran 22 Mei 1992 ini.  Bercermin pada masalah tersebut, maka lahirlah ide untuk mengadakan sebuah program bertajuk “3 Language Competition Program”. Ini merupakan sebuah wujud nyata dalam menyikapi persoalan pada masyarakat yang ingin belajar mengembangkan skill bahasa yang dimiliki. “Pada kompetisi pidato ini kita mewajibkan peserta untuk menggunakan tiga bahasa. Jadi pertama bahasa daerah, kemudian bahasa Indonesia, dan terakhir bahasa Inggris. Karena kita percaya bahwa bagaimanapun kita harus mewajibkan bahasa daerah, lalu menjiwai bahasa nasional namun tetap harus mengembangkan bahasa Internasional,” tambah laki-laki berzodiak Gemini ini.

Little Circle Foundation juga beberapa kali bekerjasama bersama KPK dengan mengirimkan buku lebih dari 2000 buku pada tahun 2015, di mana buku-buku ini didistribusikan kepada anak-anak yang membutuhkan. Selain itu, terdapat pula program Bali International Model United Nation atau disingkat dengan BIMUN yang mengundang orang dari beberapa negara. “Program ini merupakan event simulasi sidang PBB, dimana kita ingin mengajarkan anak-anak muda khususnya mahasiswa untuk melatih bagaimana menjadi seorang diplomat dan mengerti akan cara berpikir secara global,” tutur Alit. Tak heran jika yayasan yang didirikannya ini sempat mendapatkan penghargaan dari UNESCO (The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organisation) pada tahun 2016 lalu di Korea Selatan.

Terlepas dari itu, terdapat hal unik dari pria yang menguasai lebih dari empat macam bahasa ini. Ia menjalani studi S-1 di beberapa universitas. Alit menyelesaikan gelar sarjana hukumnya di Universitas Udayana, Bali pada 2015. Ia juga seorang sarjana Fulbright (Global Ugrad) di Departemen Ilmu Politik Universitas Utah, Salt Lake City, AS, dan Sarjana Putera Sampoerna Foundation di Fakultas Hukum, Universitas Udayana , Denpasar, Bali, Indonesia. Ia juga baru menyelesaikan pendidikan S-2 di Maastricht University, Belanda di bawah beasiswa StuNed.  Pada tahun 2015 ia terpilih sebagai salah satu dari 50 Pemimpin Pemuda Global untuk berpartisipasi dalam Lokakarya Advokasi Global Youth tentang Pendidikan Kewarganegaraan Global (GCED) yang diselenggarakan oleh, UNESCO, Inisiatif Sekretaris Jenderal PBB untuk Pendidikan, Pusat Pendidikan Asia Pasifik untuk Pemahaman Internasional, dan Mahatma Gandhi Institut Pendidikan untuk Perdamaian dan Pembangunan Berkelanjutan di Busan, Republik Korea.

Kedepannya, Alit berharap agar yayasan yang ia dirikan ini dapat terus memberikan perubahan dimulai dari hal-hal kecil. Seperti filosofi lingkaran yang dinamis, diharapkan perubahan-perubahan kecil tersebut pada akhirnya dapat bergerak bersamaan dengan perubahan lainnya. “Pada intinya, kita ingin sedikit memberikan kontribusi ke masyarakat sekitar,” tutupnya. (Martha/Kristika/Juniantari/Akademika)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *