I Wayan Bagus Perana Sanjaya : Ilmu itu Bebas

“Panggil aja saya Good, karena saya Bagus,” ujarnya seraya tertawa saat diwawancara di kediamannya, Selasa (26/02). Seorang mahasiswa dari rumpun sosial humaniora mencoba meneliti dibidang sains. Sempat diragukan, I Wayan Bagus Perana Sanjaya (18) bertahan untuk berjuang. Bagaimana keseruannya?

Tercermin dari perkataannya, Bagus Perana sungguhlah sosok serius sekaligus jenaka. Bagus seorang mahasiswa aktif Fakultas Hukum Universitas Udayana angkatan 2018. Mahasiswa yang kini telah menginjak semester 2 itu mengaku memilih Fakultas Hukum adalah keinginannya. “Memang passion, selain itu juga aku mau ngelanjutin apa yang keluargaku udah warisin,” ungkapnya.

Meneruskan ilmu yang diwariskan dari keluarga memang lumrah terjadi, selayaknya beberapa mahasiswa pada umumnya. Namun, Bagus berbeda. Meski dirinya berkecimpung dibidang hukum, tidak menutup kemungkinan bagi Bagus untuk mempelajari hal lain diluar fakultasnya. Bagus yakin, dalam ilmu pengetahuan, tiada yang dapat membatasi. Sebab, “ilmu itu membebaskan,” ucapnya dengan tatapan tajam.

Benar saja, tak lama ini dirinya telah mengikuti perlombaan Internasional bersama kedua temannya pada bidang Teknologi Kesehatan saat ajang Asian Youth Innovation Award (IYIA) – Malaysia Technology Expo (MTE) 2019 di Kuala Lumpur, Malaysia. Dengan membawa hasil karya ciptaannya; SIREB (Sleep with Anti Radiation Electromagnetic Box). Penemuannya tersebut memiliki manfaat untuk mencegah radiasi berbahaya pada smartphone ketika penggunanya tertidur saat malam hari. Ide kreatif dan unik ini muncul dari buah pikiran seorang Bagus yang justru bergelut di ilmu hukum. Sangat bertolak-belakang, bukan?

Ia pun mendapat cemoohan sekaligus perhatian karena ide kreatifnya tersebut. Awalnya Bagus tidak terlalu memperhatikan pada hal-hal yang seperti itu. Hingga suatu hari, Bagus dibuat geram. Perasaan ini membuncah kala dirinya yang sedang bergelut pada penelitian justru mendapatkan perkataan yang agaknya membuat Bagus tersinggung. “Kemarin sampai bilang dekanku primitif gara-gara katanya anak hukum hanya boleh belajar hukum,” tutur pria kelahiran 20 April 2000 ini.

Meski geram, namun Bagus tetap bersikap rendah hati. “Mau orang bilang apa biarin aja, nanti ya tinggal sumpal dengan hasil dan prestasi!” seru Bagus. Membuktikan dirinya mampu, Bagus harus menyisihkan sebagian waktunya untuk mengerjakan penelitian. Seusai kuliah, Bagus langsung menuju rumahnya untuk meneliti kembali. Ia mengakui penelitian bukanlah hal yang familiar. Perasaan ragu pun sempat hadir dalam dirinya. “Capek dan sempat ragu, harus belajar banyak literatur biar ngerti tapi karena ada support orang tua juga jadi lebih confident,” paparnya.

Mengejar asa, Bagus pun menghadapi perasaan ragu tersebut. Baginya hal itu hanyalah rintangan yang mencoba menghalanginya untuk maju. Selain mencoba hal yang lintas ilmu, dirinya juga terbentur perihal dana. Berkutat dengan birokrasi kampus menjadi hambatannya untuk berprestasi. “Padahal tujuanku cuma satu kok, menggebrak Udayana biar sering ke Internasional,” ucap Bagus. Namun dirinya tetap memaklumi, bagaimana pun hal tersebut merupakan birokrasi dan sudah menjadi kebijakan kampus.

Perjuangannya menggali tambang prestasi pun tidak sia-sia. Kegigihan dan kerja kerasnya berhasil membawa pulang Medali Emas dan Special Award dari Croatia sepulang dari Negeri Jiran. “Ini aku persembahkan untuk almamater, dan negeri tercinta Indonesia,” ucap Bagus sambil menunjukan medalinya, tentu tidak lupa sembari tersenyum lebar. Dengan ini seorang Bagus membuktikan bahwa ilmu dan kreatifitas tidak terbatas bagi siapa saja yang menginginkannya. Kemauan untuk menggebrak Universitas Udayana akan tetap dilanjutkannya meski dirinya tahu perjalanan yang tidak mulus harus dilalui. “Semoga kedepannya bisa terus seperti ini, sehingga Udayana melalang buana nantinya.” harap Bagus. (Triadi/Akademika)

Editor: Galuh/Via/Akademika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *