Jelajah Nusantara Tanpa Batas

Setelah tahun 2013, Kapal Greenpeace Rainbow Warrior akan kembali berlayar di lautan Indonesia pada bulan Maret-Mei 2018. Mengusung tema Jelajah Harmoni Nusantara, tur ini akan menjadi perjalanan terlama yang pernah dilakukan oleh Rainbow Warrior.

Minggu, (15/04) Bali menjadi tempat sandar ketiga yang sudah disinggahi Kapal Greenpeace Rainbow Warrior, setelah sebelumnya bersandar di Manokwari, Raja Ampat, perjalanan akan dilanjutkan menuju Jakarta dan juga singgah menikmati keindahan terumbu karang di Karimun Jawa. Greenpeace adalah organisasi kampanye global yang independen, yang menggunakan aksi tanpa kekerasan, konfrontasi kreatif untuk memaparkan masalah lingkungan dan mencari solusi untuk masa depan yang lebih hijau dan damai.

Greenpeace berdiri pada tahun 1971, ketika sekelompok aktivis dengan motivasi dan visi mereka akan bumi yang lebih hijau dan damai, berlayar dari Vancouver, Kanada, menggunakan kapal nelayan yang sudah tua.
Kapal Greenpeace saat ini adalah generasi ketiga, setelah sebelumnya kapal pertama berakhir tenggelam dibom oleh agen rahasia Perancis. Dikutip dari tulisan Greenpeace, “10 Juli 1985, Kapal Rainbow Warrior milik Greenpeace berlabuh di Auckland, Selandia Baru, siap menghadapi rencana uji coba nuklir Prancis di Atoll Moruroa. Tetapi agen rahasia Perancis menanam dua bom yang akhirnya meledak dan menenggelamkan Rainbow Warrior. Satu awak kapal meninggal dunia.”

Anda Tak Bisa Menenggelamkan Pelangi

Dikutip dari tulisan Greenpeace, setelah pemboman, kapal diberi tempat peristirahatan terakhirnya di Teluk Matauri, Kepulauan Cavalli, Selandia Baru, di mana kemudian menjadi rumah terumbu karang hidup, mengundang kehidupan bawah laut dan wisatawan penyelam. Di tahun 1989, kapal yang baru yaitu Rainbow Warrior II segera kembali ke perlawanan, sukses mengakhiri program uji coba nuklir Prancis. Setelah tak kenal lelah 22 tahun berkampanye di garis depan, kapal ini mengakhiri pengabdiannya kepada Greenpeace pada 16 Agustus 2011.

Kapal Rainbow Warrior generasi ketiga ini dibuat dengan hasil urun dana dari jutaan pendukung Greenpeace di dunia. Kapal yang dirancang khusus untuk Greenpeace merupakan kapal yang didesain ramah lingkungan dan secara primer menggunakan tenaga angin sebagai penggerak. Kapal dilengkapi mesin listrik untuk membantu jika cuaca tidak mendukung, tetapi mesin kapal juga dibangun dengan konsep ramah lingkungan. Kapal ini dinamai “Rainbow Warrior” berdasarkan ramalan suku Indian Cree dari Amerika Utara, “Saat bumi sakit dan sekarat, akan ada orang-orang dari berbagai penjuru dunia bangkit seperti Ksatria Pelangi (Warriors of the Rainbow).”

Persinggahan Kapal Rainbow Warrior di Bali

Minggu, 15 April 2018 merupakan hari kedua Greenpeace memperkenalkan Kapal Rainbow Warrior ke masyarakat Bali melalui acara Open Boat Rainbow Warrior di Pelabuhan BCT Benoa Bali. Acara berlangsung dari pukul 09.00 WITA hingga 16.00 WITA. Pada open boat ini dibuka dua tipe waktu, pertama dari pukul 09.00-12.00 WITA dan kedua pada pukul 13.00-16.00 WITA.

Sebelumnya, pada hari pertama juga diterapkan sistem yang sama, dan pada malam hari dilakukan penampilan konser bertajuk “Jelajah Harmoni Nusantara-Selamatkan Pesisir Bali”. Greenpeace bersama ForBALI dan WALHI Bali membentangkan spanduk bertuliskan “Reject Reclamation of Benoa Bay,” di Teluk Benoa Bali.

Masyarakat yang datang bisa melihat dan mengenal secara langsung kapal legendaris Rainbow Warrior. Sekaligus mendapat penjelasan mulai dari fisik kapal yang menggunakan layar tenaga angin sebagai penggerak, sistem kapal beserta fungsinya dan pemutaran video terkait hal-hal Greenpeace pernah lakukan dalam kampanye penyelamatan lingkungan di akhir sesi.

Acara ini menghadirkan pula komunitas-komunitas yang berfokus pada pelestarian alam dan kampanye lingkungan. Di area market place terdapat produk-produk ramah lingkungan dari ForBALI, LBH, IDEP, Yayasan Wisnu, Needle’n Bitch, TRIupcycle, Cinta Bumi Artisans, Embun, Sapu Upcycle, Kombucha, Earth Bottle, Trash Hero, Rumah Intaran, Enter Nusantara, Lukisan Bli Gung, Lagilagi Bali, PPLH dan Trash Stock. Selain itu, ada pula workshop yang dilakukan oleh komunitas-komunitas yang hadir. (Yogi & Greenpeace/Kristika/Juniantari/Akademika)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *