Kasih Mencari

Sudah lama aku terbiasa tanpa sosok ayah. Nyatanya, aku bukan anak kecil yang tidak tahu menahu perkara kehilangan. Aku bukan gadis kecil yang hanya bisa terdiam pasrah lagi. Aku telah tumbuh menjadi remaja yang kebal oleh segala bentuk kehilangan. Sebab aku telah kehilangan orang yang benar-benar berharga dalam hidupku. Siapa lagi kalau bukan orang tuaku.

Oleh karenanya bentuk rasa sakit yang lain itu belum apa-apa bagiku. Belum seberapa dengan sakitnya kehilangan orang tua.

***

Udara pagi itu menawarkan kesegaran. Embun yang bergelayut manja di tiap-tiap dedaunan selalu saja menyenangkan untuk diperhatikan, disimak, lalu ditanamkan rasa syukur dalam hati. Rasa syukur atas keindahan yang bisa tercipta sesederhana dengan menyaksikan terbitnya matahari.

Di suatu sore yang hangat, aku sedang duduk di beranda rumah. Sebuah buku tergenggam dalam tanganku, tapi tidak sedikitpun kata-katanya terbaca olehku. Pikiranku justru melayang entah kemana. Tatapanku kosong lurus ke depan, terlalu sibuk sehingga mengabaikan banyak hal. Termasuk kehadiran Bintang yang tidak kusadari kapan.

“Bening, ayolah! Berhenti melamun seperti itu! Senja tidak akan tahan menunggu kamu yang uring-uringan,” kata Bintang, sengaja meninggikan suaranya.

Aku agak terkejut. Kemudian mencoba menarik napas perlahan.

“Mari kita habiskan sisa sore ini dengan menikmati senja di pantai, bukankah itu kesukaanmu, Bening? Ayolah,” lanjutnya.

Aku bangkit dari tempat duduk dan berkata, “Tunggu sebentar, aku pamit dulu.” Aku masuk ke dalam rumah.

***

Ya, aku adalah Bening. Namaku Bening.

Aku Bening, si penyuka senja, pantai dengan langit senja yang kemerah-merahan. Bagiku senja adalah kehangatan, zat penawar atas kebekuan diri. Senja pulalah yang memberiku kekuataan untuk melanjutkan hidup. Ia memiliki daya magis yang begitu besar. Buktinya ia mampu membuatku melupakan sejenak persoalan rumit khas orang dewasa.

Aku Bening, yang ingin berteriak kepada dunia namun suaranya terlalu kecil. Suaraku takkan mampu bersaing mengalahkan bisingnya dunia ini. Bukankah itu tak lain karena semua orang terus berbicara tanpa mau mendengarkan kata-kata orang lain barang sejenak? Maka kuputuskan untuk bersuara melalui tulisan saja. Mungkin dengan menulis, aku bisa sedikit lebih lega.

Aku Bening, seseorang yang mencintai sosok ibunya dalam hidupnya. Sesosok wanita yang begitu kuat, begitu pintar dalam banyak hal. Ibuku adalah sosok penyayang, penuh kelembutan, penyabar, namun juga cerewet meski ia tidak pernah marah sungguhan. Lain lagi saat beliau berubah menjadi sosok ayah yang tegas dan pendiam. Ibu bisa melakukan dua peran sekaligus.

Aku rindu ibu.

Jika nanti aku bertemu dengan ibu, apa yang harus kukatakan? Aku takut menghadapi kecanggungan. Aku tidak pernah merasa kaku sebelumnya.

Aku mulai bertanya—Akankah kami bertemu lagi? Ibu sebenarnya ada dimana? Aku yakin Ibu juga pasti rindu, kan?

Aku tidak pernah marah, apalagi sampai membenci Ibu. Aku hanya merasa kecewa. Mengapa Ibu sampai tega pergi meninggalkan, dan lebih memilih pergi dengan laki-laki lain yang kemudian aku tidak tahu harus menyebut dia siapa?

Sore kali ini, aku bercakap dengan diri sendiri di dalam hati. Saat itulah pula suara-suara itu bermunculan—

Kata tersusun rapi,

Bahasa sederhana,

Tanpa pembaca,

Pengarang mati.

***

Harapan kembalinya ibu tumbuh dalam diriku seiring dengan terbitnya matahari. Kemudian ia luntur saat hari mulai gelap. Saat senja berubah pekat berganti malam, saat itu pula bayangan ibu akan memudar lalu hilang ditelan kelam, sekelam hidupku. Rasa kecewa berubah menjadi amarah.

“Bening tidak ingin membencimu, Ibu. Bening hanya sedang kalut. Lelah oleh harapan sendiri. Sibuk merangkai hari di mana suatu saat kita dapat bersama kembali, tangisku kala pagi itu.

Kuputuskan bahwa aku tidak bisa diam saja. Aku harus terus mencari sampai langkahku benar-benar terhenti. Siapapun tidak boleh menghentikanku. Sungguh aku sangat ingin bertemu ibu kembali. Hanya rindu yang menuntun pencarianku.

Hidup adalah pilihan. Tapi ketika kita tidak mempunyai pilihan terbaik selain terus melanjutkan hidup dengan rasa sakit yang ada, kita harus menyalahkan siapa?

Pilihanku ada dua sekarang. Melanjutkan hidup dengan melupakan atau berharap. Jika aku harus melawan rasa sakit dengan melupakan… Tapi melupakan bukan berarti bisa langsung lupa dan kembali merasa baik-baik saja. Tidak semudah itu.

Atau berharap? Harapanku tentu untuk dapat bertemu kembali dengan ibu. Namun itupun bukan berarti pula aku bisa menjalani hidup dengan tenang untuk menumbuhkan harapan tersebut. Berharap terus-menerus juga berbahaya, sebab ia akan menimbulkan kebencian yang semakin besar bagiku. Kebencian akibat kekecewaan yang mendalam. Sebab berharap berarti harus berani untuk kecewa.

Tapi sudah cukup aku dikecewakan. Jadi aku memilih melupakan.

Aku mulai sibuk melupakan. Mulai dari melupakan seluruh kejadian menyakitkan itu. Aku belajar dari kedua kakak lelakiku, bahwa rasa sakit perlu dijadikan sebagai kekuatan, bahkan harus dilakukan.

Aku juga belajar dari sahabatku Bintang, yang kisah hidupnya tak jauh-jauh dari milikku. Ayahnya sudah lama meninggal, lalu ibunya menyusul pergi. Semangatnya harus ditiru, sebab seperti namanya, Bintang selalu berkedip-kedip bermandikan cahaya. Bintang sahabatku itu selalu ada kapan pun aku membutuhkannya, termasuk di saat malam dan kegelapannya datang menghampiriku.

***

Ada senja di pantai. Ada senja pula di mana-mana yang menemaniku ketika menulis sajak. Sajak untuk ibu dan ayah. Senja yang mengajarkan aku untuk bermimpi. Bermimpi menjadi gadis yang lebih tegar, selayaknya karang di pantai beratap langit senja.

Ibu mungkin tidak akan pernah kembali ke rumah dan kami tidak lagi dapat memulai hari bersama lagi. Tapi aku yakin, kasih sayang dan elusan lembut tangannya selalu tersampaikan lewat angin. Angin sore kala itu menyegarkan, menelisik lewat daun telinga. Ia menyibak rambut panjangku dan berbisik, “Dapat pesan dari Ibu, ia rindu.”

Oleh: Baiq Dini Aswari

Editor: Kristika

Sumber foto ilustasi: Phinemo