Kawasan Heritage Gadjah Mada, Ada yang Hilang Darimu

Bila ingin mencari miniatur keberagaman dunia, carilah di Jalan Gadjah Mada, Denpasar. Di sana, berderet pertokoan membawa kebudayaan masing-masing dari sang pemilik toko. Namun, penetapan Jalan Gadjah Mada sebagai kawasan heritage, melupakan sebuah nilai sebagai syarat heritagenya.

Mus (26) duduk melengos di depan toko tekstil yang dimilikinya. Di sebuah kursi plastik kecil, tepat di bawah plang “Atika Tekstil”, Mus duduk sendiri. Sesekali Mus menoleh jalan, sesekali juga ia mengulah kain-kain kebaya khas Bali yang dijualnya. Mus adalah salah satu keturunan dari pedagang pemilik toko tekstil salah satu di kawasan ruko perdagangan di Jalan Gadjah Mada. Dapat dikatakan, ia merupakan generasi ketiga dari orang yang mengawali dibangunnya Atika Tekstil, kakeknya sendiri.

Hari itu, Sabtu (20/10), untuk pertama kalinya Mus kembali menjaga toko milik keluarganya yang sudah berdiri sejak tahun 1999 itu. Setelah sekian lama ia berkecimpung di bisnis properti, sebab tidak memiliki passion di bisnis tekstil. Sesungguhnya, kakak kandungnyalah yang menjadi pengelola utama dalam toko keluarganya ini.

“Tapi kakak saya sedang ke luar kota, jadi benar-benar ini adalah hari pertama saya menjaga toko, setelah sekian lama saya sibuk dengan bisnis saya, sangat kebetulan hari ini,” tuturnya menjelaskan. Bukan tanpa sebab hari itu Mus duduk belama sendirian di depan toko. “Saya terkenang masa-masa kecil saya disini, teman-teman saya kebanyakan sudah tidak tinggal disini lagi, sebagian karena kerja, sebagian lagi karena memang keluarga pebisnis disini mencari pasar yang baru, ya namanya juga dinamika kehidupan,” ujarnya sembari tersenyum.

Masih membekas di ingatan Mus, dahulu, ketika masih belia, sering ia jumpai berbagai pedagang-pedagang pertokoan dari berbagai etnis yang berderet membuka toko di satu kawasan : Jalan Gadjah Mada. “Misalnya saja di depan toko keluarga saya ini, kebanyakan adalah pedagang-pedagang asli China yang membuka toko obat, lalu di Jalan Sulawesi, disana banyak orang-orang India dan Arab yang menjual tekstil maupun mebel,” ujar Mus seraya menggerakkan tangannya.

Mus memang warga Denpasar, hanya saja, darah keturunan India mengalir di dalam dirinya. Ketika dulu, teringat olehnya, bila dirinya suntuk menjaga toko menemani sang ayah, Mus pergi ke toko-toko sebelah untuk mencari teman-teman sebayanya. “Ya, teman yang saya ajak bermain disini karena ayah dan ibu mereka dari berbagai etnis, saya juga memiliki teman-teman yang beragam etnisnya,” kata Mus tertawa. “Sampai sekarang pun kami semua masih tetap saling kontak,” tambahnya. Sungguh, duduk di depan toko Atika Jaya, baginya, memantik ingatan-ingatan lama. Tentang pertemanan, juga keberagaman yang ada di dalam kawasan pertokoan Gadjah Mada.

Apa yang dialami Mus, kini bahkan dibuat membeku di dalam sebuah monumen prasasti yang berada di ujung barat Jalan Gadjah Mada. Diresmikan oleh pemerintah kota Denpasar sejak awal Desembar 2008, prasasti itu bertuliskan dari cat emas, mengkilat kokoh dari batu granit, bertuliskan “Kawasan Heritage Gadjah Mada”. Prasasti ini menandai bahwa kawasan Jalan Gadjah Mada, sebuah bukti adanya penduduk multikultur kota Denpasar. Dalam pengertian yang dikemukakan Lembaga Dunia UNESCO, menjadikan sebuah tempat sebagai kawasan heritage artinya kawasan tersebtut memiliki keberagaman potensi pusaka arkeologis, historis, dan permukiman urban, baik kategori unsur tangible maupun intangible.

Terlepas dari status Kawasan Heritage Gadjah Mada, Mus gundah gulana. “Kalau soal pembangunan kawasan heritage jalan Gadjah Mada sekarang, kita tidak bisa berbohong, pembangunan disini sudah mulai bagus, Tukad Badung bahkan jadi bener-bener nyaman,” tutur Mus. Seraya mengerutkan dahi, mus melanjutkan, “dalam kawasan heritage, ada nilai historis, tapi apa orang-orang disini mengetahui tentang nilai historis bagaimana kawasan gadjah mada ini? Bukan hanya sekadar arsitektur belanda ataupun perpaduannya dengan arsitektur Bali,” tegas Mus, merasa ada sesuatu yang hilang.

Di lain pihak, salah satu pedagang di deretan jalan Gadjah Mada, Fransiska Susanto (55), tidak menampik hal tersebut. “Saya tidak tahu bahkan mengenai kawasan heritage, yang saya tahu, itu adalah ide dari pemerintah, mungkin untuk Denpasar Festival itu ya yang satu tahun sekali,” ujar Fransiska yang juga merupakan keturunan etnis Tionghoa. Meski berkata demikian, Dalam perhiasan yang menghiasi pertokoannya, terdapat banyak ornamen-ornamen khas budaya China, juga kucing emas yang diyakini sebagai yang dapat mendatangkan pengunjung. Sama dengan Mus, Fransiska merupakan keturunan generasi ketiga dari pemilik toko elektronik yang dimiliki keluarganya. “Kakek dari mama saya adalah orang asli keturunan tionghoa,” kata Fransiska menjelaskan.

Senada dengan Fransiska, Ajeng (80), salah satu warga asli Denpasar, mengatakan tidak mengerti mengenai kawasan heritage. “Saya tidak mengerti tentang kawasan heritage,” ketus Ajeng. Namun, saat ditanyai tentang bagaimana suasana jalan Gadjah Mada dulu dan kini, Ajeng lantang bercerita. “Dulu disini banyak bangunan-bangunan Belanda, tapi sekarang kebanyakan sudah dibongkar dan lebih ke bangunan Bali,” ujarnya.

“Maka dari itu, saya tidak setuju dengan jalan Gadjah Mada ini yang dijadikan kawasan heritage,” ujar Mus menanggapi. Bagi Mus, mengenal kawasan heritage Gadjah Mada, artinya mengenal nilai harmoni di dalamnya. Bukan hanya sekadar arsitektur khas, maupun bangunan canggih multifungsi. Lebih dari sekadar itu, tempat bermainnya saat belia ini menyimpan sejarah dan juga nilai toleransi masyarakat multikultur di Denpasar. “Apa yang sebenarnya menjadi jiwa dari kawasan heritage ini? Entah, seperti ada yang hilang.” Tutup Mus sembari menunduk lesu.

(Galuh/Nina/Anisha/Chandra/Akademika)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *