Kebebasan Jemari di Balik Jeruji

10508011_1577964595819895_1398494873_n

Judul: Di Balik Jeruji

Penulis: Remaja Lembaga Permasyarakatan Anak Kelas IIB Gianyar

Tebal: 108 halaman

Penerbit: Bali Emerging Writers Festival

Cetakan: Bali, 2015

 

Bukanku enggan pikirkan masa depan

Dan juga bukanku tak berangan-angan

Tapi ku enggan, hidupku jadi beban

Terkekang aturan yang menyebalkan

 

Itulah satu bait puisi yang ditulis oleh Slowly dalam buku “Di Balik Jeruji”. Mungkin Slowly sangat menghayati kata demi kata itu, sehingga selalu melekat di benaknya. Puisi yang ia tulis itu ternyata lirik lagu “Enggan” dari Steven and The Coconut Treez.

Ya, Slowly merupakan salah satu dari 19 anak lapas yang menulis kisahnya dalam buku bersampul merah ini. “Di Balik Jeruji” merupakan salah satu karya yang berhasil diciptakan atas kerjasama dari Yayasan Mudra Swari Saraswati, Bali Emerging Writers Festival, Ubud Writers & Readers Festival, Sloka Institute, Hivos, Lembaga Pemasyarakatan Anak. Cok Sawitri sebagai pengajar lokakarya untuk remaja dalam lapas anak tersebut telah berhasil menggiring mereka untuk menulis pengalamannya. Cerita mereka bebas, apapun yang ingin mereka ceritakan.

Kisah remaja lapas disajikan dalam bentuk prosa dan puisi. Dalam pengantar buku ini dituliskan bahwa diperlukan pendekatan untuk “merayu” mereka agar mau jujur terhadap dirinya sendiri. Pelatih lokakarya yaitu Cok Sawitri menceritakan bahwa mereka memiliki “Keluarbiasaan dalam Keterbatasan”.

Prosa yang ditulis dalam buku ini tidaklah sistematis, tidak seragam, dan tidak kaku. Anak lapas menuliskan segala kejadian yang dialami, termasuk detik-detik mereka digiring ke kantor polisi untuk pertama kali. Cerita dalam buku ini begitu mengalir, biarpun beberapa isinya yang singkat namun ada juga yang menjelaskan sedikit detail. Wajar saja, mereka hanya mengikuti workshop ini setiap hari selasa selama satu bulan.

Namun dalam buku yang diluncurkan pada tanggal 24 April 2015 di Bali Emerging Writers Festival ini, tidak ada penekanan mengenai tata krama penulisan. Tulisan dibiarkan apa adanya, mengalir, bahkan dapat menyebabkan sedikit “terganggu” untuk orang yang sudah terbiasa menulis dan membaca. Dalam buku ini tidak dituliskan nama asli penulis dan orang yang terlibat di dalamnya. Adapun dalam satu cerita, nama pelaku yang sama ditulis dengan nama yang berbeda.

Desain cover oleh Ida Ayu Sutarini ini dapat menggunggah pembaca untuk mengetahui isi buku ini. Penampilan cover dengan warna merah disertai garis-garis seperti jeruji seakan memberikan kesan semangat yang membara namun dramatis. Layout dalam dari Jaya Pattra Ditya sudah menarik dengan desain yang sederhana. Uniknya ialah penomoran setiap halaman didesain berbentuk kunci.

Memakai kertas bernuansa warna coklat dan cetakan yang rapi, membuat pembaca betah untuk mengikuti kisah demi kisah dalam buku ini.

Anak lapas yang teradili tersebut menjadi cerminan kisah nyata remaja kini. Remaja yang belum mengerti arti hidup. Remaja yang masih harus mendapatkan pengawasan orang tua. Tak dielakkan juga, beberapa tulisan mereka menyatakan penyesalan yang mendalam dan rindu orang tua. Mereka merupakan kaum remaja yang kurang beruntung, mengingat masih banyak kejadian serupa yang melenggang indahnya di sudut kota namun polisi masih menutup mata.

Buku ini dapat membuka pikiran remaja kini tentang akibat yang ditimbulkan dari perbuatan melanggar hukum. Cerita dalam buku ini juga mencerminkan bahwa anak lapas juga dapat membebaskan jemari untuk menulis meskipun di balik jeruji. (dj)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *