Kongres LMFH 2018: Restrukturisasi dan Penghapusan Himpunan Mahasiswa

Kongres LMFH Unud 2018 menghasilkan keputusan untuk menghapus dua himpunan mahasiswa yang bernaung di bawah BEM FH Unud. Lantas, bagaimana dampak dari penghapusan tersebut?

Secara singkat, Kongres LMFH merupakan forum tertinggi Lembaga Mahasiswa Fakultas Hukum (LMFH) yang membahas tentang pertanggungjawaban Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa dan Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa, membahas AD (Anggaran Dasar) / ART (Anggaran Rumah Tangga), GBHO (Garis-Garis Besar Haluan Organisasi) dan Petunjuk Pelaksana Pemilu Raya. Pada tahun ini, Kongres LMFH dilaksanakan pada 21-22 April 2018 di Ruang Kertha Gosana, Kantor Bupati, Pusat Pemerintahan Kabupaten Badung.

Kongres LMFH dibagi menjadi dua jenis, yaitu Kongres LMFH Unud dan Kongres Luar Biasa (KLB) LMFH Unud. Adapun letak perbedaan dari kedua kongres ini adalah Kongres LMFH dilaksanakan secara rutin dari tahun ketahun, sedangkan Kongres Luar Biasa (KLB) diadakan dalam keadaan darurat atau keadaan tertentu. Kali ini dalam keadaan darurat, LMFH mengadakan Kongres Luar Biasa yang menghasilkan sebuah keputusan restrukturisasi beberapa organisasi yang dinaunginya. Salah satunya organisasi BEM-FH serta struktur baru untuk Himpunan Mahasiswa. Dari hasil kongres ini, dua himpunan dilebur atau dihapus. Dua himpunan mahasiswa yang menjadi hasil kongres ini, yakni Himpunan Mahasiswa Program Reguler Pagi (HMPI) dan Himpunan Mahasiswa Program Reguler Sore (HMPE).

Padahal Fakultas Hukum Unud pernah melaksanakan Kongres Luar Biasa di tahun 2015 yang menghasilkan keputusan untuk menyatukan lembaga kemahasiswaan baru yang bernama Lembaga Mahasiswa Fakultas Hukum. Lembaga ini hanya terdiri dari satu lembaga legislatif (DPM) dan satu lembaga eksekutif (BEM). BEM-FH sendiri menaungi dua himpunan mahasiswa yaitu Himpunan Mahasiswa Program Regular Pagi (HMPI) dan Himpunan Mahasiswa Program Regular Sore (HMPE). Lantas apa yang melatarbelakangi dari penghapusan kedua himpunan mahasiswa tersebut pada Kongres Luar Biasa LMFH 2018 kali ini?

Dea Rangga Kuncoro selaku ketua panitia dalam Kongres Luar Biasa LMFH 2018 memaparkan, dihapuskannya dua himpunan mahasiswa ini didasari oleh tiga hal.  “Yang pertama, secara yuridis adanya Peraturan Menteri, Statuta Udayana dan pernyataan dekan yang mengatakan tahun 2019 tidak ada lagi penerimaan dengan banyak jalur. Melainkan hanya satu pintu. Kedua, secara filosofis pada kongres luar biasa 2015 sudah dinyatakan, bahwa seiring berjalannya waktu, nantinya LMFH akan merestrukturisasi lembaga dengan menghilangkan dua himpunan tersebut. Ketiga, secara sosiologis, saat ini mahasiswa reguler pagi dan sore sudah bisa menerima wadah tunggal saja yaitu BEM tanpa adanya himpunan tersebut,” paparnya.

Penghapusan dua himpunan mahasiswa ini belum menimbulkan dampak yang cukup berat pada lembaga. “Untuk dampak dalam BEM masih belum dirasakan, karena saat ini FH sedang melaksanakan Pemilu, jadi belum sempat menjalankan struktur ini. Dampaknya hanyalah pro dan kontra sementara yang sekarang sudah meredup,” ujar Dea Rangga Kuncoro begitu diwawancarai disela-sela kesibukannya. (Cok Is/Akademika)

Editor: Kristika, Juniantari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *