Krisis Air 2015, Serius?

Bali akan krisis air 2015. Saya sudah mendengar itu sejak 2010 dan bukan “gosip” baru. Pertengahan Oktober 2013 lalu, ketika musim kemarau tiba, saya berkunjung ke Perumahan Raya Kampial, Desa Kampial. Tak jauh dari Sekolah Tinggi Pariwisata (STP). Warga sana punya sebutan lain yaitu Perumahan ANTV. Saya ke perumahan ini untuk liputan krisis air juga.

Saya bertemu dengan Rai (36) sekeluarga, tentu untuk bertanya bagaimana air di rumahnya. Rai menjelaskan dengan nada suara yang kencang, terlihat kesal. Ia menuturkan bahwa sangat sulit mendapatkan air bersih di rumahnya. Ia berlangganan air PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) namun jarang hidup. Bahkan dalam sebulan ketika kemarau tiba, air PDAM tak hidup sama sekali. “Setiap bulan saya masih harus bayar PDAM minimal 90 ribu, walaupun airnya jarang mengalir. Jadi kami hanya membayar anginnya saja,” kata Rai.

Rai punya satu istri dan dua anak yang tentunya setiap hari memerlukan air untuk mandi, masak, mencuci, sampai urusan keagamaan. Untuk mengatasinya Rai harus membeli air isi ulang atau galon. “Dalam sehari saya biasanya membeli 20 galon air isi ulang seharga Rp 5.000,00 per galon. Itu hanya untuk keperluan makan dan mandi saja  dan kalau tidak ada acara kegamaan. Kalau ada acara kegamaan tentu di atas itu. Minimal 50 galon,” katanya.

Saya menelan ludah, lalu berpikir. Tentu misalkan Rai seorang guru honorer tak akan sanggup membeli air semahal itu. Kira-kira dalam sebulan ia harus menghabiskan uang sebesar 30 hari x 20 galon x Rp 5.000,00.

Rumah Rai berada dalam kawasan pariwisata, dekat dengan Nusa Dua. Berdasarkan data Dinas Pariwisata Provinsi Bali tahun 2012, di Nusa Dua ada 20 hotel berbintang dengan total jumlah kamar 4.680, yang tentunya setiap hari menggunakan air untuk keperluan tamu yang berkunjung ke hotel-hotel itu. Dan nyaris tak pernah kekurangan air seperti yang dialami Rai.

Setelah puas mendengarkan curahan hati Rai mengenai sulitnya memperoleh air layak konsumsi di rumahnya. Saya berlanjut ke Desa Kutuh, Jimbaran. Saya bertemu dengan Susila (32) sekeluarga. Setelah berkenalan, saya juga mempertanyakan masalah air di rumahnya. Ternyata tak jauh beda. Nasib Susila jauh lebih baik. Setelah berlangganan PDAM untuk kedua kalinya Susila bisa menikmati air bersih.

Memasang aliran PDAM baru bukan tanpa kendala, terkadang juga tak “mengalir”. Sarini mengaku awalnya saluran air yang baru cukup lancar, namun lama-lama sering macet juga. “Ini tumben sore begini airnya hidup. Biasanya malam baru hidup,” kata Sarini sambil membuka kran air saluran PDAM baru.  Beberapa kali Sarini juga sempat membeli air bersih. “Kalau nggak ada air, harus beli pakai tangki. Harganya 150 ribu,” kata Sarini.

Sama seperti Rai, rumah Sarini pun berada dalam kawasan pariwisata yaitu Jimbaran. Berdasarkan data Dinas Pariwisata Bali tahun 2012, sedikitnya ada lima hotel berbintang dengan total jumlah kamar 473. Tentu ini belum termasuk sarana akomodasi berupa villa, restoran, laundry dan lainnya yang semuanya memerlukan air. Sarana akomodasi itu nyaris tak pernah kesulitan mendapatkan air bersih.

Keluarga Rai dan Sarini adalah contoh imbas dari “gosip” krisis air yang terjadi di Bali Selatan sepanjang musim kemarau tiba. Saya sempat bertemu dengan Pejabat Pembuat Komitmen Perencanaan dan Program Balai Wilayah Sungai Bali-Penida Gede Made Darmawan pada Oktober 2013. Ia menjelaskan, bahwa krisis air yang melanda Bali Selatan harus dilihat dari berbagai aspek. Penyebabnya berbagai macam yaitu, kemajuan infrastruktur, pembangunan industri pariwisata yang terlalu cepat, tapi tidak diimbangi dengan kebutuhan air.

Di wilayah Badung saja berdasarkan data Dinas Pariwisata Bali 2012 ada 167 pondok wisata dengan total kamar 792. Ada 365 hotel melati dengan total kamar 9604. Ada 98 hotel berbintang dengan total kamar 15652. Jika dikalkulasikan, maka jumlah akomodasi 630 dengan total kamar 26.048 yang semuanya harus disuplai air. Selain itu, masih dari data Dinas Pariwisata Bali 2012, di wilayah Badung ada 623 restoran dengan jumlah 41744 seat. Restoran ini pun harus disuplai kebutuhan airnya.

Data lain dari Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Badung tahun 2012 menjelaskan bahwa di wilayah ini sedikitnya ada 1055 industri kecil dan menengah. Industri ini menyerap tenaga kerja 13.938. Kalaupun berubah pada 2014, mungkin tak akan jauh dari angka itu dan industri ini pun harus disuplai kebutuhan airnya.

Darmawan menjelaskan, saat ini kebutuhan masyarakat Bali terhadap air mencapai 3,6 miliar per hari. Sedangkan, air yang tersedia dan bisa dimanfaatkan hanya sekitar 2,7 miliar per hari. “Seharusnya setiap orang di Bali harus mendapatkan jatah 80 liter air bersih per hari,” katanya.

“Selain beberapa faktor tadi, kita juga harus melihat bagaimana pertumbuhan penduduk di Bali Selatan. Jangan lupakan juga prilaku masyarakat di sana. Misalnya, masyarakat seharusnya tidak menggunakan air PDAM untuk mencuci kendaraan pribadi mereka,” kata Darmawan dengan nada bicara yang tegas.

Pertengahan Februari 2014, memasuki musim hujan, namun jarang hujan. Saya menemani teman dari Palembang ke Ayana Resort and Spa di Jimbaran. Kami bertujuh. Ayana Resort punya bar dengan pemandangan sangat indah. Rock Bar namanya. Tempat ini berada tepat di tebing dan tiga  tingkat. Saat malam hari, ketika air laut sedang pasang, tempat paling dasar tak bisa dipakai oleh tamu, karena terkena ombak.

Untuk menuju ke Rock Bar, harus melewati lobby menuruni tangga dan ikuti saja penunjuk arah. Penunjuknya cukup jelas. Sepanjang jalan menuju Rock Bar ada beberapa kolam kecil, airnya jernih tak berbau. Kolam-kolam itu memiliki kedalaman sekitar 500 cm. Sepertinya disuplai oleh PDAM. Jika menggunakan air bawah tanah akan sulit. Hotel ini terletak di dataran tinggi, Jimbaran.

Saya tiba jam enam sore dan harus mengantri selama 1 jam untuk dapat ke bar yang lantai paling atasnya adalah tempat bartender meracik minuman yang dipesan oleh tamu. Untuk ke tempat ini harus turun melalui gondola lift karena letaknya di bawah.

Saya memesan Lychee Martini, minuman ini campuran antara vodka, lychee lequeur, lychee fruit dan fresh lime yang disuguhkan dengan gelas jenis champagne. Harganya Rp 140 ribu. Sambil menikmati minuman, saya terbius dengan indahnya pemandangan dan alunan suara ombak yang hanya beberapa meter saja dari tempat saya duduk. Kala itu, saya lupa jika ada Susila warga Desa Kutuh yang juga terletak di Jimbaran terkadang kesulitan memperoleh air bersih. Sedangkan Ayana kolam-kolamnya berair jernih.

Tamu-tamu yang berkunjung ke tempat ini sebagian besar berpakaian rapi. Pria, mengenakan kemeja. Perempuan, mengenakan simple dress berwarna cerah, wangi, dan terlihat cantik dengan gincu bewarna soft. Tentu sebelum mereka ke sini, mandi dulu. Memandangi wanita-wanita cantik itu, membuat saya lupa jika empat bulan sebelumnya saya bertemu denga Rai, warga Desa Kampial yang harus beli air isi ulang untuk mandi.

Mengingat kemarau tahun lalu, ketika berkunjung ke rumah Rai dan Susila, saya jadi bertanya-tanya. Apa iya isu krisis air 2015 benar-benar akan terjadi. Toh, kolam-kolam Ayana resort masih berair jernih, bersih, dan tak berbau, pun dengan hotel-hotel lain di sekitar Jimbaran dan Nusa Dua, nyaris tak kesulitan memperoleh air bersih.

Sepertinya, Rai warga Perumahan Raya Kampial, Desa Kampial, Nusa Dua. Lalu, Susila warga Desa Kutuh, Jimbaran dinomor duakan dalam hak memperoleh air bersih.  Sulitnya memperoleh air di tengah semakin majunya industri pariwisata. Yang akhirnya kita harus kembali lagi kepada pepatah bahwa tamu adalah “raja”. Sepertinya, pun dengan persoalan air yang katanya hak setiap warga negara Indonesia. Jika “raja” masih bisa mandi, berenang, dan spa di air yang bersih, saya hanya dapat bertanya bahwa isu krisis air 2015, serius? (Asykur Anam)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *