Kuliah Sembari Bekerja, Berbagai Kisah Mahasiswa Melintasi Pandemi

Penerapan Work From Home (WFH) memiliki imbas pada sektor ketenagakerjaan, tak terkecuali bagi mahasiswa yang kuliah sambil bekerja. Banyak pekerjaan yang hilang, namun tak sedikit yang berusaha beradaptasi mengambil pekerjaan baru. Terdapat berbagai kisah mahasiswa yang kuliah sambil bekerja, melintasi situasi pandemi Covid-19 untuk meringankan beban ekonomi keluarga.

Semenjak situs kesehatan dunia, World Health Organization (WHO) mengumumkan bahwa Corona Virus Disease (COVID-19) ditetapkan sebagai pandemi, banyak negara di dunia yang mulai mengambil beberapa langkah pencegahan demi meminimalisasi penyebaran virus ini. Hal serupa juga tidak luput dari kebijakan pemerintah Indonesia dalam menanggulangi bencana Covid-19. Pada pertengahan Maret 2020, pemerintah Indonesia mulai menerapkan kebijakan social distancing yang kemudian direvisi menjadi physical distancing, dengan tiga poin utama, yaitu bekerja, belajar, dan beribadah dari rumah yang ditujukan kepada seluruh warga Indonesia. Segala kegiatan pun dianjurkan untuk dilakukan dari rumah atau Work From Home (WFH).

Kondisi ini pun berimbas pada perekonomian, terutama bagi mereka yang bekerja disektor informal. Di sisi lain, juga  mahasiswa yang kuliah sambil bekerja turut mendapat imbasnya. Hal ini dirasakan oleh Arsa Krisnawan, mahasiswa Desain Komunikasi Visual di salah satu perguruan tinggi negeri di Bali. Arsa, begitu sapaannya, mencoba peruntungan bekerja freelance dengan membuka jasa desain, baik logo, banner, maupun surat undangan sembari mengikuti kegiatan perkuliahan daring. Dengan usaha jasa ini, Arsa kerap mendapatkan penghasilan yang sekiranya dapat meringankan beban orang tua. “Dapet lima ratus ribu per bulan apalagi kalau ada hari-hari besar, bisa bertambah,” ujarnya. Namun, semenjak virus corona ini merebak dan kebijakan physical distancing terus digencarkan, pendapatannya kini menurun drastis. “Sekarang hampir gak ada soalnya acara-acara banyak di-cancel, jadi gak ada request desain”, ungkapnya.

Melihat situasi yang genting ini, Arsa pun berusaha untuk mencari pekerjaan lain yang sekiranya masih dapat dilakukan di tengah pandemi. Namun, usahanya tidak berbuahkan hasil. “Udah coba nyari kerjaan tapi lowongan daily worker udah sedikit yang nyari, jadi ga bisa ngapain cuma diem dan ngerjain tugas di rumah aja,” tutupnya.

Hal yang sama juga dirasakan mahasiswa lainnya, yaitu Teja Mulia. Teja yang bekerja di circle keramaian ini sangat merasakan dampak COVID-19. Hal ini menyebabkan ia harus dirumahkan sementara waktu sampai kondisi membaik. “Banyak yang di-cancel karena kerjaanku di bidang wedding dan party, sekarang ngumpul-ngumpul kan udah dilarang,” ungkapnya saat ditanya secara online.

Namun, di tengah pandemi yang semakin merajalela, Teja yang bekerja untuk membiayai kuliah sendiri ini tetap berusaha untuk mencari peruntungan lain. Mahasiswa berumur 19 tahun ini mencoba membuka jasa ketik yang cukup banyak mendatangkan pelanggan di tengah bencana COVID-19. “Aku buka jasa ketik lumayan lah untuk sekarang lagi gak ada kerjaan.”

         

Pembatas – Apotek tempat Dianti bekerja yang menerapkan protokol kesehatan

Rupanya, jasa yang ia tawarkan ini banyak digunakan oleh guru SD dalam membantu memberikan pembelajaran kepada muridnya apalagi di situasi yang mengharuskan para pendidik dan siswa untuk beraktivitas dari rumah. “Biasanya ketik soal buat ujian atau latihan,” tandasnya. Hal ini cukup disyukuri Teja karena dalam pandemi ini ia masih bisa mendapatkan penghasilan. “Lumayan buat sekarang dapetnya kurang lebih lima ratus ribu,” ujarnya.

Berbeda halnya dengan Arsa dan Teja yang telah dirumahkan oleh pihak tempat kerjanya, perkecualian didapatkan oleh pihak apotek yang diizinkan untuk tetap buka demi memenuhi ketersediaan obat-obatan bagi masyarakat. Salah satu mahasiswa yang tetap berkerja di tengah pandemi ini adalah Dianti Laksmi, mahasiswi Farmasi salah satu perguruan tinggi swasta di Bali.

Hal ini menjadi kebimbangan bagi dirinya, di satu sisi berdampak baik karena masih tetap dipekerjakan dan mendapatkan penghasilan. Sedangkan, di sisi lain ia diselimuti rasa ketakutan akan penyebaran Covid-19 yang semakin merebak. “Kalau apotek belum dirumahkan sih, tapi jam kerjanya aja yang dikurangi.” Dianti juga menambahkan bahwa COVID-19 menyebabkan penutupan apotek menjadi lebih cepat dari sebelumnya. Hari biasa yang sebelumnya tutup pukul 22.00 malam kini harus tutup satu jam lebih awal, yaitu pukul 21.00 malam.

Namun, ia tetap melakukan self-protection dengan menggunakan masker saat bekerja dan menyemprotkan hand sanitizer setelah melakukan kegiatan. Selain membekali diri, pihak apotek tempat kerjanya juga memberikan perlindungan kepada para pegawai dengan menyediakan alat pelindung diri, berupa masker kain. “Disediain masker kain dan hand sanitizer juga,” imbuhnya.

Selain itu, untuk meminimalisasi terjadinya kontak langsung dengan pembeli, pihak apotek juga menerapkan sistem antri dan memberikan pembatas dengan tali dan lakban antara pegawai dan pembeli agar tidak terjadi kontak langsung. “Disini juga disediain nampan untuk taruh uang dan obat,” tambahnya.

Pada dasarnya, setiap sektor yang ada terkena imbas dari Covid-19 dan semua masyarakat tentunya ingin bencana ini cepat berlalu, sehingga kondisi dapat berjalan normal kembali. “Semoga Covid-19 segera selesai biar aktivitas kembali berjalan seperti biasa,” harap Dianti. Begitulah sekelumit kisah beberapa mahasiswa yang masih berjuang untuk mandiri dalam hal ekonomi, rupa-rupa tantangan pun dihadapi di tengah pandemi.

Penulis: Tara Adriana

Penyunting: Galuh Sriwedari

You May Also Like