La Historia Me Absolvera : Sejarah Yang Membebaskan

Komunitas Taman 65 melakukan launching film Sekeping Kenangan & Pentas musik untuk kemanusian dan melawan kelupaan akan sejarah kekerasan 65 bertempat di Taman Baca Kesiman.

Kamis 29 Maret lalu, Komunitas Taman 65 dan Taman Baca Kesiman menyelenggarakan Launching Film & Pentas Musik Untuk Kemanusian. Film dengan judul “Sekeping Kenangan” ini disutradarai Hadhi Kusuma atau akrab dipanggil Jung Adhi. “Sekeping Kenangan” adalah sebuah film dokumenter mengenai nyanyian manusia-manusia yang sengaja dibuang dan diasingkan dari orang-orang tercinta mereka. Meski dalam keadaan terjepit mereka para pesakitan ini mampu menciptakan berbagai dendang yang memiliki nilai gugah. Film ini menceritakan proses perjalanan album musik Prison Songs; Nyanyian Yang Dibungkam.

Proses pengumpulan lagu-lagu ini berawal dari ketertarikan dengan kisah-kisah yang ada dan keinginan untuk membagikannya ke masyarakat agar kisah-kisah tersebut tetap ada menjadi semangat pada setiap proses yang dihadapi. “Dibagi ke khalayak agar makin banyak yang dengar dan kisah-kisah tersebut tetap ada,” kata Made Mawut menerangkan tujuanya ikut terlibat langsung mengumpulkan lagu-lagi para tapol (tahanan politik) lewat survivors yang masih hidup sampai sekarang, dia menyampaikan melalui pesan instan.

Pemilihan judul film “Sekeping Kenangan” untuk menggambarkan kisah-kisah para survivors peristiwa 1965, hal ini juga dijelaskan oleh Jung Adhi sebagai sutradara, dia mengatakan bahwa film ini menceritakan kepingan-kepingan kisah dari para survivors peristiwa 1965 pada saat dipenjara yang rindu akan anak, istri, keluarga, rindu akan kebebasan dan dikejar-kejar oleh kematian. “Kisah-kisah para survivors layak kita kenang dan sebarluaskan agar kita tidak menjadi generasi yang lupa akan sejarah dan yang paling parah, generasi yang tidak tahu akan sejarah,” tambah Jung Adhi mempertegas jawabannya

Mengutip dari laman media sosial Ngurah Termana pada tanggal 1 April 2018, disebutkan bahwa mereka dipenjarakan tanpa pengadilan, karena dituduh menjadi bagian G 30 S. Sesuatu yang jauh dari kebenaran. “Saat itu kami adalah anak-anak muda yang mempertahankan idealisme yang kami anggap benar” jelas Pak Natar, salah satu penyintas yang berbicara malam itu. Acara Sekeping Kenangan adalah tentang merayakan idealisme kemanusiaan yang seharusnya ada di atas kekuasaan.

Ketika ditanya dasar pembuatan film Sekeping Kenangan, Jung Adhi menjawab dengan antusias; film “Sekeping Kenangan” dibuat atas dasar keinginan untuk mengajak generasi muda tahu sejarah peristiwa 1965. Di zaman globalisasi ini, banyak anak muda yang acuh dengan sejarah dan tidak tahu tentang sejarah peristiwa 1965, khususnya yang terjadi di Bali. Pada tahun itu di Bali juga terjadi peristiwa sejarah, bahwa 80.000 orang menjadi korban dan tak sedikit orang dimasukan ke dalam penjara secara paksa tanpa pengadilan yang layak. “Karena kami, Komunitas Taman 65, intens bergaul dengan para survivors peristiwa 1965 yang sudah mulai uzur, tak sedikit yang telah berpulang. Jadi, penting sejarah pengalaman dan memori mereka di penjara pada waktu itu, kami sebarluaskan agar anak-anak muda seperti kita, semakin tahu akan kekejaman 1965,” jelas Jung Adhi saat ditanya lewat pesan instan.

Awal dari pembuatan film ini bermula dari teman-teman Komunitas Taman 65 mempunyai rencana untuk mencari lagu-lagu yang dibuat di dalam penjara dari para survivors 1965. Kemudian projek ini diberi nama “Prison Songs”. Saat ide rencana itu muncul, Jung Adhi masih menempuh kuliah di Jogja. Dia hanya mendengar cerita dari teman-teman tentang projek yang akan dibuat, untungnya dalam proses pencarian lagu, teman-temen Komunitas Taman 65 mendokumentasikan lewat video jika mendapat pinjaman kamera. Tapi jika tidak dapat pinjaman kamera, tidak ada terdokumentasi lewat video. Karena kamera yang digunakan berbeda-beda, akan mempengaruhi kualitas video jadi berbeda, dan ini sangat mempengaruhi saat proses editing film. Disamping itu juga saat teman-teman yang mendokumentasikan proses wawancara tidak memiliki basic skill teknis pengambilan gambar membuat banyak gambar yang goyang. “Itu tidak menjadi masalah dan video-video yang goyang ditutupi dengan ilustrasi gambar dari kawan-kawan seniman, seperti Made Bayak, Slinat dan Wild Drawing,” Jung Adhi menerangkan kendala yang dihadapi bisa diatasi dengan penambahan ilustrasi pada gambar yang goyang.

Dari jumlah tiket yang disediakan 350, habis terjual semua bahkan ada yang rela berdonasi walau tidak menggunakan tiket fisik. Bahkan jumlah antusiasme yang hadir mencapai 500-an orang. Hal ini juga diungkapkan oleh Ngurah Termana yang ikut terlibat dalam acara sebagai pemandu jalannya acara. “..Terkejut dan terharu, itulah campur aduk perasaan kami malam itu. 350 tiket yang disiapkan habis terjual. Masih harus nambah 70-an orang yang rela berdonasi walau tidak dapat tiket fisik. 100-an sahabat dan saudara yang khusus kami undang hampir seluruhnya hadir. Bahkan, beberapa sahabat tidak bisa masuk ke Taman Baca Kesiman karena suasana yang sudah tidak nyaman untuk menambah orang. Sungguh antusiasme yang diluar dugaan…” ungkap Ngurah Termana pada salah satu media sosial miliknya.

Ngurah Termana mengungkapkan kekaguman melihat penonton yang begitu antusias waktu pemutaran film berlangsung. Penonton minim beranjak. Serius menyimak hingga akhir acara. Padahal yang dinikmati adalah film dengan genre dokumenter, konser musik yang nggak bisa dipakai jingkrak-jingkrak, dan bercerita tentang sejarah kekerasan yang masih dianggap tabu dan menakutkan untuk diperbincangkan di negeri ini. Ungkap dia melalui tulisan di media sosialnya.

Setelah pemutaran film selesai dilanjutkan dengan diskusi dan penampilan musisi-musisi yang pernah terlibat dalam pembuatan Album musik Prison Song – Nyayian Yang Dibungkam; Dadang SH Pranoto, JRX, Rara Sekar, Man Angga, Made Mawut, dan Guna Warma. Lagu yang berjudul “Dekon” yang saat itu dibawakan Guna Warma menjadi penutup acara, lagu ini satu-satunya menggunakan bahasa Bali, memiliki lirik yang singkat dan jelas. Lirik lagu “Dekon” yang diciptakan oleh Ketut Putu (seniman dari kota Singaraja), mengambil dari kutipan pidato Soekarno yang berjudul “Deklarasi Ekonomi”. Pemerintah Soekarno bertujuan agar Indonesia mampu “Berdikari”(berdiri diatas kaki sendiri) dalam bidang ekonomi nasional yang bersifat demokratis dan bebas dari imperialisme. Hal ini dijelaskan pada album musik Prison Song, halaman 90-92 oleh: Roro Sawita & Roberto Hutabarat.

Hasil penjualan tiket akan digunakan untuk kegiatan kemanusiaan “..seperti pencarian lagu-lagu dari penjara lagi dan kegiatan kemanusiaan lainnya karena gerakan pelurusan sejarah 65 tidak hanya berhenti saat film ini selesai” tegas Jung Adhi mewakili teman-teman Komunitas Taman 65. Acara ini juga membuka bok donasi untuk Made Indra Navicula & Afi, jumlah uang yang terkumpul sebesar Rp. 2.591.000 + 1000 WON Korea yang langsung diserahkan ke perwakilan Navicula pada saat itu juga.

Acara pemutaran film “Sekeping Kenangan” adalah salah satu media pembebasan untuk generasi sekarang yang terbelenggu akan kebohongan sejarah negerinya. Pramana PN yang ikut serta hadir pada acara itu mengungkapkan pesan yang didapat dari acara itu “Menurutku acara pemutaran film Sekeping Kenangan adalah jembatan bagi generasi kita (generasi baru) dan generasi selanjutnya untuk melihat dan menulis ulang sejarah yang dapat membebaskan kita dari kebohongan, penindasan, dan ketidaktahuan” kata Pramana PN. “Dan untuk masa depan yang lebih gemilang, Intinya la historia me absolvera (dikutip dari kalimat Fidel Castro saat dia memberikan pidato pembelaan di pengadilan pada 16 Oktober 1953. Dalam bahasa Indonesia berarti: sejarah akan membebaskan kita semua),” lanjutnya. (Yogi/Kristika/Juniantari/Akademika).

Satu tanggapan untuk “La Historia Me Absolvera : Sejarah Yang Membebaskan

  • April 3, 2018 pada 7:51 pm
    Permalink

    La historia me absolvera

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *