Lika-Liku Mimpi

Kisah ini menceritakan siapa lagi kalau bukan aku, seseorang yang lugu dan naif dalam menanggapi sebuah kesempatan berkarya. Saat kamu membaca tulisan ini, kemungkinan besar aku sedang bermimpi di siang bolong. Dikelilingi kesunyian dalam sebuah gubuk kecil, persis di tengah-tengah hijaunya padi areal persawahan. Kalau kamu bertanya apa saja yang sedang kuimpikan maka mohon maaf, sebab aku tidak bisa menyebutkannya. Ada terlalu banyak hal yang kuimpikan dan aku takut akan membuatmu bosan jika mereka kusebutkan satu persatu di sini.

Tapi jika kamu bertanya mengapa aku suka bermimpi, mungkin aku bisa menjawabnya. Buatku, mimpi-mimpi selalu terasa mengalir begitu saja. Terkadang aku berimajinasi tentang hal konyol. Di lain hari aku berimajinasi tentang harapan kehidupan yang indah di masa depan, bahkan pernah juga berandai-andai terkait kriteria pasangan hidup. Namun bagian terbaik dari mimpi-mimpiku adalah mereka semua mampu melecut semangatku, seorang pemuda berparas pas-pasan, sederhana dan tidak kaya, untuk mewujudkannya.

Aku ingin menjadi presiden. Ah, apakah mimpiku terlalu tinggi? Tapi selain itu, aku juga ingin beristri serta membina keluarga yang bahagia. Apakah sekarang mimpiku terlalu sederhana? Aku tidak ingin bermimpi yang macam-macam. Sebab pada dasarnya, aku juga tidak yakin jika mimpiku mampu membuatku masuk kategori “orang baik”. Biarkan saja bagian nilai menilai itu menjadi pekerjaan oleh masyarakat—orang-orang selain aku. Pekerjaanku hanya mewujudkan mimpiku yang semoga dapat membawa kebaikan bagi banyak orang.

Sebatas doa diiringi kata “amin” jelas tidak akan cukup untuk membawa mimpiku menjadi kenyataan. Alhasil aku pun mengawalinya dengan mencari apa saja yang dilakukan oleh idolaku, Soekarno, sejak ia kecil. Oleh karena mempelajari tentangnya juga, aku mulai ikut tertarik dengan hal-hal berbau perjuangan. Aku juga belajar tentang Indonesia, Belanda, Jepang, mulai mengenal kata “pribumi” dan “penjajah”. Kembali aku mulai berhayal menjadi seorang presiden yang dengan suara lantangnya  menyemarakan serta menyerukan perlawanan untuk satu hal: kemerdekaan.

Kian lama, rasa nasionalis seperti mengalir dalam darah dan setiap cairan yang ada dalam tubuhku. Otak ini serasa telah dicuci oleh gerakan-gerakan perjuangan bangsa Indonesia, membuatku akhirnya membulatkan bertekad untuk menjadi orang yang dikenang sebagai seorang pejuang kebaikan bagi bangsa kelak. Tentu saja “kelak”, sebab tidak mungkin untuk memerdekakan Indonesia dari penjajah di zaman yang sudah merdeka sekarang ini (setidaknya, itu yang dikatakan oleh orang kebanyakan).

Tekadku kumulai dengan mencoba membanggakan kedua orang tuaku. Caraku? Tentu saja dengan berjuang untuk kumpulan nilai yang dianggap baik oleh kebanyakan orang. Mati-matian aku belajar dan terus mempelajari isi dari buku-buku sekolahan yang membosankan. Pengorbananku membuahkan hasil sebab pada akhirnya, nilai akademisku dapat dikatakan baik dan membanggakan orang tua. Ya, misi pertamaku berhasil tanpa liku-liku dan naik turun yang terlalu berarti.

Namun, kebanggaan tersebut justru membawa dampak buruknya tersendiri. Tanpa kusadari, aku tumbuh menjadi orang yang anti sosial dan sedikit angkuh. Kekayaan ilmu pengetahuan ini membuatku melihat diriku dalam cara yang berbeda. Kuakui, memang tidak jarang aku menganngap bahwa aku selalu “lebih” daripada teman-temanku; orang yang pantas dipandang lebih tinggi oleh kebanyakan orang.

Lalu sebagai akibatnya, aku mulai dijauhi dalam pergaulan. Tidak, ini tidak bisa dibiarkan. Pikirku kemudian, aku harus menebus dosa-dosa ini di jenjang SMA. Kuputuskan untuk bergabung dengan organisasi untuk belajar cara bekerjasama tanpa melibatkan ego.

Seiring berjalannya waktu aku belajar hal baru. Ternyata untuk meraih kesuksesan mewujudkan impianku, aku tidak bisa sendirian. Di rumah baru bernama organisasi ini, aku mulai mengenal hangatnya pertemanan dan rasa kekeluargaan yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Boleh jadi sekarang ini aku masih merasa menjadi orang yang “kerdil”, namun mendapatkan pembelajaran akan pentingnya kebersamaan. Kutanamkan tekad agar kelak bisa menjadi orang penting dalam organisasi ini agar dapat merasakan bagaimana menjadi seorang pemimpin yang baik. Persis begitulah impianku sedari awal untuk masa depan.

Sialnya jalanku kali ini tidak mulus sama sekali. Beragam hambatan menambah beban perjalananku menuju impianku. Mulai dari mengubah egoku ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Disusul dengan berdiri di bawah tekanan yang jauh lebih menyengsarakan batin. Namun yang tersulit tetap berjuang semata-mata membuat orang-orang disekitarku percaya bahwa aku mampu dan layak untuk posisi yang lebih tinggi.

Jangan tanya berapa kali aku tersandung oleh kegagalan demi kegagalan. Kurasa, saking hebatnya kegagalan yang kuterima, menjadikanku akhirnya sangat frustasi dan sering menghardik setiap hal yang kuanggap menjadi penyebab kegagalanku. Sebisa mungkin kucoba untuk bersabar dan tetap berjalan maju. Namun seiring berjalannya waktu, perkiraanku tidak terbukti. Aku tetap saja mengalami kegagalan! Inikah rasanya dikhianati oleh semesta?

Puncaknya tiba ketika aku tak dapat lagi berpikir jernih dan berujung mengacaukan segalanya. Setiap orang dalam organisasi berakhir membenciku. Dengan mata kepalaku sendiri, kulihat mulai muncul sejumlah kubu para pembenciku. Ada yang masih mencoba bersikap baik padaku, meski mata mereka juga memancarkan rasa tidak suka yang dalam. Ada juga yang bersikap frontal, tidak segan-segan mengutarakan kebencian mereka terhadapku di depan banyak orang. Ah, semuanya benar-benar kacau!

Di titik ini, kucoba untuk menarik diri sejenak. Aku mulai dari awal lagi dengan mempertanyakan kelayakan diriku sendiri. Hingga kemudian kegiatan berpikirku bermuara pada percobaan untuk memahami diriku sendiri. Kucoba untuk berpikir bijak. Di setiap doa kuselipkan menyampaikan keluh-kesah kepada Tuhan, nyaris tak pernah absen. Tak jarang pula aku berbicara sendiri layaknya orang yang kebingungan dan menuai tatapan aneh dari orang lain.

Lama-lama aku muak. Segala cara mulai kulakukan demi bangkit dari keterpurukannya; mengakui setiap kesalahan, memotong ego, hingga rela merasa tertindas oleh teman-temanku demi memperbaiki situasi. Walau sebenarnya aku yakin situasi ini tak akan pernah benar-benar membaik. Tidak, aku tidak boleh menyerah. Jika aku terus berusaha, berdoa dan memasrahkan hasilnya pada Tuhan, siapa yang tahu akhirnya akan berubah.

Singkat cerita, usahaku membuahkan hasil baik. Aku berhasil menjadi seorang pemimpin. Satu hal yang masih bertahan adalah rasa kebencian teman-teman terhadapku. Tapi tidak masalah. Justru dengan kini menjadi pemimpin, aku dapat lebih leluasa menggunakan wewenangku untuk memperbaiki keadaaan. Berangsur-angsur keadaan mulai membaik. Kepercayaan teman-temanku pun kembali ke pangkuanku. Akhir kisahku mulai mengarah seperti dongeng kebanyakan, happy ending.

Namun kisah ini masih berlanjut. Pada jenjang selanjutnya, ketika semua tujuanku sudah terasa ada dalam genggaman, rupa-rupanya ini pun masih terlalu cepat untuk bisa mengatakan bahwa aku telah berhasil. Impianku masih belum boleh berhenti sampai di sini ternyata. Muncul keinginan untuk berorganisasi lebih besar lagi. Kembali kulakukan hampir semua cara. Kuikuti banyak kegiatan. Jarang sekali aku menolak tawaran untuk mengikuti kegiatan baru.

Itulah awalnya bagaimana saat ini yang kurasakan hanyalah tekanan yang begitu tinggi. Ketika berbagai permasalahan datang, tak satu pun orang dapat mengerti dengan jelas apa yang kurasakan. Rasanya persis berada dalam masa yang kelam. Saking banyaknya mengikuti kegiatan, jiwanya terasa tidak berada dimanapun.

Belakangan aku sering sulit fokus dan bersungguh-sungguh secara optimal pada satu hal. Kesepian pula turut tak terelakkan walau aku memiliki banyak teman. Sungguh masa berat serta cukup melelahkan yang belum dapat terselesaikan hingga kini.

Inilah yang kutakutkan. Sampai detik ini aku ragu jika aku masih memiliki semangat untuk mewujudkan semua impian yang belum terwujud. Atau justru akhirnya aku akan lebih memilih menyerah, kembali ke titik nol, menjadi bagian dari orang-orang biasa. Aku masih terjebak di tengah perjalanan, mencoba tetap bergerak walau mengambang dalam kebimbangan.

Oleh: I Putu Angga Ardyastia

Editor: Via, Kristika

Ilustrator: Mahendra