Literasi Media, Mewujudkan Penonton dan Pendengar Melek Media

“Media hari ini ibarat makanan, makanan kurang nutrisi mangandung pirus (pikiran rusak), kudis (kurang disiplin), dan kuman (kurang iman),” kata Bayu, staf pengajar ISI (Institusi Seni Indonesia) yang menjadi peserta dalam diskusi ini.

literasi media

Menyikapi fenomena terhadap media yang hanya menampilkan retorika belaka, KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) sebagai lembaga representasi kepentingan publik merasa memiliki kewajiban untuk mengadakan literasi (pembelajaran) media. Menurut Dadang Rahmat, ketua KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) pusat kegiatan ini dilakukan untuk mengoptimalkan peran serta masyarakat dalam menyikapi dan mengkritisi penyiaran di Indonesia.

Diskusi Nasional bertajuk “Literasi Media” ini dilaksanakan pada tanggal 26 Juli 2010 di ruang teater, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Kegiatan ini dilaksanakan oleh KPI pusat bekerjasama dengan KPI daerah Bali dan Universitas Udayana. Diskusi yang dimoderatori langsung oleh ketua KPI daerah Bali, Komang Suarsana ini menghadirkan empat pembicara yaitu Dadang Rahmat Hidayat ketua KPI pusat, Ezky Suyanto koordinator bidang isi siaran KPI pusat, Ida Bagus Radendra S wakil ketua KPI daerah Bali, dan Aris Ananda praktisi penyiaran bagian planning and scheduling Trans TV.

Dalam diskusi ini Dadang Rahmat Hidayat yang biasa dipanggil “Kang Dadang” menyampaikan mengenai kompleksnya dunia penyiaran sehingga dibutuhkan pemirsa yang cerdas, yaitu mampu memilih dan memilah. Kang Dadang menambahkan bahwa peran KPI disini untuk menjadikan lembaga penyiaran yang professional dan sehat.

Ezky Suyanto lebih banyak berbicara tentang pengaruh media dan panduan standar program siaran. Ezky juga memberikan beberapa contoh tayangan-tayangan yang melanggar ketentuan KPI. Wakil ketua Daerah Bali yang juga merupakan dosen di Universitas Hindu Dharma, Ida Bagus Narendra lebih banyak menyinggung tentang banalisasi. proses yang menyebabkan rasa semakin tumpul dalam diri masyarakat sehingga menyebabkan sesuatu menjadi biasa dan wajar, serta keprihatinanya terhadap low taste broadcasting alias penyiaran selera rendah. Sedangkan Aris Ananda sebagai Praktisi penyiaran hanya menyampaikan pembelaan terhadap produk-produk Trans TV.

Di sesi terakhir kegiatan ini dilakukan diskusi antara pembicara dengan peserta. Sebagai koordinator bidang isi penyiaran, Ezky mendapat pertanyaan yang paling banyak dari para peserta. Salah satunya yaitu mengkritisi KPI yang masih membiarkan program siaran yang tidak sehat. Dalam diskusi ini juga disinggung salah satu acara saluran televisi swasta yang menyinggung masyarakat Bali. Bayu, salah satu peserta menyarankan kepada media penyiaran khususnya televisi agar memiliki konsultan budaya. “sehingga media dapat membentuk mental berdasarkan karakteristik bangsa” Bayu menambahkan.

Sayangnya diskusi ini hanya menghadirkan satu media penyiaran saja, yang notabene bukan sponsor kegiatan. Padahal untuk mewujudkan masyarakat yang melek media juga perlu pemahaman dari lembaga dan praktisi penyiaran untuk menghasilkan produk yang baik untuk konsumsi masyarakat yang akan membentuk pola pikir masyarakat.

happy

You May Also Like