Logika dan Ilmu Pengetahuan

Banyak yang beranggapan bahwa kepercayaan dan agama tidak dapat dicerna dengan menggunakan logika. Anggapan seperti itu harus diluruskan. Agama dan kepercayaan yang benar harus dapat dipikirkan dengan logika, sebab agama dan kepercayaan itu dijalankan oleh  manusia yang mempunyai akal. Justru yang harus dipertanyakan adalah: kepercayaan atau agama yang tidak bisa dinalar itu, jangan-jangan memang tidak nyata kebenarannya sebab melawan akal? Atau: Bisakah diyakini kebenaran dari kepercayaan dan agama yang tidak masuk akal?

Tak ada yang tak dapat dinalar di tempat manusia ini, asalkan mengandung kebenaran. Mungkin, suatu saat nalar kita belum dapat memecahkan sebuah persoalan atau fenomena. Misalnya; jika kelembutatan makhluk halus itu benar adanya, maka akal harus bisa memecahkannya. Ilmu pengetahuan dan sains harus bisa menemukannya. Guru dari para filsuf dunia, Aristoteles, pada jaman sebelum Masehi sudah mempunyai teori causa prima (penyebab pertama) untuk melogikakan atau menalar eksistensi Tuhan. Maka keberadaan Tuhan itu masuk akal.

Yang dimaksudkan dengan perkara masuk akal atau logis adalah perkara-perkara yang tidak bertentangan dengan akal dan nalar itu sendiri. Logika tidak boleh menjawab dengan standar ganda. Misalnya: 1+1 menurut akal adalah 2. Hanya itu. Jika ada kepercayaan atau teori atau ajaran yang menyatakan 1+1 adalah 1 atau 3 atau berapa saja selain 2, maka itulah yang disebut tidak logis atau tidak masuk akal.

Jika Anda sakit kepala, maka lebih logis dan masuk akal jika minum obat sakit kepala yang sudah teruji. Tapi kalau sakit kepala diobati dengan cara dipukuli kepalanya maka yang terjadi adalah sakit kepalanya hilang sebab pingsan. Orang sakit gondong tidak logis jika diobati dengan cara menempelkan tulisan Arab di gondongnya, bahkan akan ditertawakan orang karena kelihatan lucu.

Penggunaan logika merupakan hal yang sangat penting bagi manusia sebab itulah kelebihan manusia yang membedakan dirinya dengan makhluk lainnya. Dengan logika dan akal itu, masyarakat Arab dan Eropa kuno yang gelap-gulita dalam kehidupan takhayul dapat berubah menjadi terang-benderang dan makmur karena pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. (Jajang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *