Marsinah, Sang Kartini Buruh 90-an

Marsinah adalah seorang aktivis buruh pada masa Orde Baru di Pabrik PT. Catur Putra Surya, Sidoarjo, Jawa Timur. Marsinah anak kedua dari ketiga saudaranya yang lahir di Nglundo, 10 April 1969 dan meninggal pada usia 24 tahun pada tanggal 08 Mei 1993. Kematiannya masih misterius dan sampai sekarang masih belum ditemukan pembunuhnya. Mayat Marsinah ditemukan dengan keadaan banyak luka penyiksaan di tubuhnya.

Pu’irah, sang nenek merawat dan membesarkan Marsinah sebab sejak kecil ia telah ditinggal mati oleh ibunya. Mereka pula tinggal bersama bibinya di desa Nglundo, Nganjuk, Jawa Timur. Sedari kecil, gadis berkulit sawo matang itu berusaha mandiri. Marsinah memanfaatkan waktu luangnya untuk mencari penghasilan dengan menjual makanan kecil sebab ia menyadari kesulitan nenek dan bibinya dalam urusan mencari kebutuhan sehari-hari.

Marsinah adalah wanita yang sedari kecilnya dikenal rajin dan tekun dalam setiap kegiatannya. Marsinah berbeda dengan kawan-kawannya yang mengisi waktu luangnya dengan bermain sebagaimana anak kecil normalnya. Ia mengisi waktu luangnya dengan membaca buku dan belajar. Kalaupun Marsinah keluar, dia paling-paling hanya menonton berita yang ada di televisi. Marsinah juga dikenal sebagai orang yang pendiam dan lugu. Namun, di balik sifat pendiam dan lugunya Marsinah, terselip sifat pemberani, mudah bergaul, fleksibel dalam berkawan serta sifat kesetiakawanan. Marsinah juga sering dimintai nasihat dari kawan-kawannya dalam segala persoalan yang dihadapi oleh kawannya.

Sifat di ataslah yang membekali Marsinah untuk menjadi pelopor perjuangan. Marsinah adalah tipikal aktivis buruh perempuan desa yang “urban” namun dipinggirkan dan dipadamkan. Marsinah muncul sebagai pahlawan di tengah hiruk-pikuk indrustrialisasi manufaktur masa dasawarsa pada tahun 90-an. Perjuangan  seorang Marsinah bukan hanya semata untuk dirinya sendiri, namun mewakili “nasib malang” berjuta-juta buruh perempuan. Marsinah menggantungkan masa depannya pada pabrik-pabrik padat karya berupah rendah yang tidak sesuai dengan apa yang dikerjakan, berkondisi kerja buruk dan tidak ada perlindungan hukum pada pekerjanya.

Perjuangan Marsinah bukanlah hal yang mudah, pasti mengalami sebuah ancaman ataupun intimidasi yang ada. Namun keberanian Marsinah dalam memperjuangkan hak dan keadilan tak ada satupun cobaan yang mampu mengendorkan gerakannya untuk mencapai sebuah tujuan yang ia perjuangkan. Sifat keberaniannyalah yang mendorongnya mampu menuntut sebuah keadilan serta kebenaran atas haknya tanpa ada rasa takut yang menghalanginya. Marsinah juga berhasil melopori dan bersilahturahmi kepada kawan-kawan buruhnya sehingga semua yang merasakan penindasan, berani untuk bersuara menuntut haknya. Walaupun ancaman melawan tirani dengan segala resikonya, mengorbankan masa depannya di pabrik dan bisa juga akan “dihilangkan” oleh sebuah kekuasaan yang otoriter.

Perjuangan Marsinah di awali pada tahun 1993 ketika munculnya kebijakan pemerintah dengan ditandai keluarnya Surat Edaran Gubernur Nomor 50 Tahun 1992 yang berisi imbauan kepada pengusaha agar menaikkan kesejahteraan karyawan dengan memberikan kenaikan gaji sebesar 20% gaji pokok. Namun tidak semua perusahaan menerima kebijakan tersebut termasuk tempat Marsinah bekerja yakni PT. Catur Putra Surya, sehingga ditanggapi negatif oleh para buruh termasuk Marsinah bersama kawan-kawannya. Dari sejumlah pertemuan aktivis buruh PT. Catur Putra Surya pada akhir bulan April, disepakati bahwa mereka akan mogok kerja pada 3 dan 4 Mei 1993. Dengan tuntutan upah harus naik dari Rp. 1.700 menjadi Rp.2.250 perharinya.

Pada 3 Mei 1993 seluruh buruh PT. Catur Putra Surya melaksanakan aksi dengan mogok kerja. Bertepatan pada tanggal itu juga, Marsinah pergi ke Kanwil Depnaker Surabaya untuk mencari data tentang UMR (Upah Minimum Regional) sebagai landasan tuntutan mereka. Aksi mogok kerja dilanjutkan pada tanggal 4 Mei 1993 walaupun pada mogok kerja para buruh mendatangi tempat kerja untuk unjuk rasa mengajukan tuntutan. Situasi sempat memanas karena pabrik telah dijaga aparat keamanan serta satpam pabrik.

 Kendati demikian, perundingan akhirnya bisa digelar. Sebanyak 15 orang perwakilan buruh PT CPS, termasuk Marsinah mengajukan tuntutan dalam perundingan yang dihadiri oleh wakil dari Kanwil Depnaker Sidoarjo, Kansospol Sidoarjo, DPC SPSI setempat serta jajaran Muspika seperti Kapolsek dan Danramil Sidoarjo. Sementara pihak perusahaan diwakili oleh Direktur PT CPS Porong Judi Astono, Kepala Bagian Personalia PT CPS Porong Mutiari, dan Kepala Bagian Produksi PT CPS Porong Karyono Wongso.

Setelah melalui perdebatan yang alot, tuntutan kenaikan upah itu akhirnya dipenuhi. Di situlah kemenangan perjuangan para buruh beserta Marsinah. Bahkan pihak perusahaan juga menjanjikan membahas hak-hak buruh lainnya, seperti perhitungan upah lembur, uang transport, cuti haid dan cuti hamil. Seharusnya hari itu menjadi pesta kemenangan bagi para buruh. Namun sejarah berkata lain. 13 orang kawan Marsinah dipanggil untuk menghadap Pasi Intel Kodim 0816 Sidoarjo pada Rabu 5 Mei 1993. Mereka dipanggil karena dianggap sebagai dalang dari unjuk rasa tersebut.

 Marsinah di saat berkumpul dengan para aktivis buruh mengatakan akan memberi pernyataan sikap dan membawa ke jalur hukum jika ke-13 kawannya diintimidasi atupun diancam di Markas Kodim Sidoarjo. Di situlah timbul rasa kesetiakawanan Marsinah. Akhirnya Marsinah mendatangi markas kodim untuk menanyakan kawannya. Meski namanya tak masuk dalam daftar buruh yang dipanggil, Marsinah tidak bisa terima atas pemanggilan kawan-kawannya itu. Disaat itu pula, Marsinah “dihilangkan” pada tanggal 5 Mei 1993 dan ditemukan mati pada tanggal 8 Mei 1993.

Itulah seorang Marsinah dengan keberaniannya dan rasa kesetiakawanannya. Ia harus merenggut nyawa demi memperjuangkan kebenaran untuk sebuah keadilan, tanpa ada rasa takut untuk melawan penguasa yang sewenang-wenang. Beliau dikenang sebagai seorang pahlawan buruh dan ditandai dengan dibangunnya monumen patung Marsinah di Nganjuk. “Saya meneladani perjuangan almarhum sebagai buruh wanita yang memperjuangkan hak buruh agar layak,” kata Surya, salah seorang anggota DPR RI. (sumber: Bangsaonline.com). Keberanian dan perjuangan seorang Marsinah takkan berhenti walau kini raganya telah tak ada, namun jasanya akan terus hidup di dalam para buruh yang meneladaninya. Figur seorang Marsinah patut diteladani dengan keberanian dan kebenaran mampu memunculkan sebuah keadilan. Ada empat pelajaran berharga dari Marsinah yakni ingin terus belajar, berani menghadapi intimidasi, bela mati-matian kawan buruh dan pantang menyerah.

“Kami satu: buruh kami punya tenaga jika kami satu hati kami tahu mesin berhenti sebab kami adalah nyawa yang menggerakkannya,” –Wiji Thukul (Wily/Kristika/Juniantari/Akademika).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *