Masihkah Kita Mulat Sarira Saat Nyepi?

Hanya setahun sekali, aku mengencani Pulau Dewata yang sepi. Hanya setahun sekali kita tidak menyumbang polusi dan keributan di Bali. Nyepi bukan sekadar berbicara tentang Catur Brata Penyepian.

Identik dengan amati karya, amati lelungan, amati lelanguan dan amati geni, itulah Nyepi. Empat hal yang harus dilaksanakan ketika Nyepi disebut Catur Brata Penyepian. Isinya berupa pantangan mengenai apa saja yang tidak boleh dilakukan ketika Nyepi berlangsung. Hanya setahun sekali kita diwajibkan menjalankan empat pantangan ini. Dan itupun berlangsung hanya satu hari mulai dari jam enam pagi hingga jam enam pagi keesokan harinya. Hari raya Nyepi tepatnya jatuh pada Tilem Kesanga yang dipercayai sebagai hari penyucian dewa–dewa yang berada di pusat samudra yang membawa intisari Amerta (air kehidupan) untuk umat Hindu yang akan melakukan pemujaan suci kepada mereka. Jika filosofi ini dikaitkan dengan Ngembak Geni (sehari setelah Nyepi) dimana masyarakat berbondong–bondong menyucikan diri dengan mandi ke pantai rupanya cukup masuk akal. Apalagi jika dikaitkan juga dengan ritual Melasti.

Tahun baru Caka ini dirayakan berbeda dengan tahun baru yang lainnya. Dimana jika tahun baru identik dengan pesta, tetapi tidak untuk Tahun Baru Caka. Nyepi berasal dari kata “sepi”, “sipeng” yang berarti hening, sepi, sunyi, senyap.

Ada beberapa rentetan yang dilakukan sebelum kita memulai melaksanakan Catur Brata Penyepian, diantaranya melasti (mekiis). Melasti berasal dari kata mala (kotoran/leteh) dan asti (membuang/memusnahkan). Melasti merupakan rangkaian dari upacara Nyepi yang bertujuan untuk membuang, memusnahkan, membersihkan segala kotoran badan dan pikiran (Bhuana Alit) dan juga alat upacara (Bhuana Agung) serta memohon air suci kehidupan (Tirta Amerta) bagi kesejahteraan kita semua. Selanjutnya sehari sebelum Nyepi (tepatnya sebelum ogoh–ogoh diarak) diadakan upacara Tawur Kesangan/ Tawur Agung. Dilaksanakan tepat pada tengah hari di “catuspata”. Bermakna untuk membayar kembali sari – sari alam yang telah diguankan oleh manusia kepada Bhuta Khala agar terciptanya keharmonisan kehidupan.

Namun, kali ini Nyepi hadir diantara tumpahan masyarakat modern yang praktis, dan ekonomis. Di tengah himpitan zaman modern apakah mereka masih melaksanakan Catur Brata Penyepian? Jawabannya bisa dicari pada pribadi kita masing–masing. Ketika berbicara pada empat pantangan ketika Nyepi mungkin hanya satu pantangan yang bisa kita jalankan, yaitu amati lelungan yang artinya tidak boleh berpergian. Sedangkan amati geni, amati karya dan amati lelanguan sangat berseberangan dengan gaya hidup masyarakat sekarang.

Nyepi mulai disalahgunakan. Nyepi mulai berganti menjadi hari bebas meceki seharian atau bebas mencari hiburan seharian. Asalkan hiburan tersebut berada di dekat rumah. Ada juga yang menjadikan Nyepi sebagai hari dimana ia bebas makan dan tidur seharian. Yang lainnya ada yang menghabiskan Nyepi dengan menonton berbagai film. Artinya Nyepi dihabiskan dengan hiburan dan mengabaikan pantangan yakni amati lelanguan (tidak bersenang-senang).

Mungkin banyak diantara kita yang dengan betul dapat memahami hal – hal ini. Mulai dari Melasti, Tawur Kesanga, Pengerupukan hingga Nyepi lengkap dengan catur Brata penyepiannya. Namun tak banyak dari kita yang mampu menjalankan semua ini sebagai salah satu umat-Nya yang taat. (Dharma)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *