Menengok Geliat Perkebunan Salak dari Barat Indonesia

Sebuah desa dari barat Indonesia juga tak payah berjuang di tengah pandemi Covid-19. Desa Pakkat Hauagong, Sumatera Utara, harus berhadapan dengan kondisi lesunya perekonomian akibat komoditas utama berupa hasil perkebunan salak yang tengah mengalami penurunan permintaan pasar. Segala daya upaya dilakukan agar komoditas salak tetap bertahan. 

Pada bulan Maret tahun 2020, negara Indonesia dilanda pandemi Covid-19 (coronavirus diase 2019). Hal ini turut berdampak pada masyarakat Desa Pakkat Haugong dalam segala sektor, terutama pada sektor ekonomi. Mata pencaharian utama warga di Desa Pakkat Hauagong adalah bertani dan berkebun. Desa ini terkenal akan komoditas buah unggulannya, yaitu buah salak. Buah salak biasanya disalurkan kepada distributor dalam bentuk olahan makanan, seperti dodol salak, keripik salak, manisan salak, bolu pisang salak, bahkan ada yang hanya di jual begitu saja kepada konsumen.

Memetik salak – Salak menjadi komoditas pertanian utama di Desa Pakkat Hauagong, Kecamatan Pakkat, Kabupaten Humbang Haundutan, Provinsi Sumatera Utara.

“Semenjak pademi Covid-19, saya mengalami kesulitan dalam mendistribusikan buah salak kepada distributor, hal itu terjadi karena permintaan buah salak dari mereka sangat rendah. Biasanya saya panen salak sekali dua minggu, tetapi karena pandemi Covid-19 saya panen salak menjadi sekali dalam sebulan. Walaupun begitu, saya tetap bersyukur karena saya memiliki 2 tokke distributor langganan yang tetap,” ujar Halashon dalam wawancara via Whatsapp (22/6). Ada dua jenis distributor, yaitu distributor tetap dan distributor tidak tetap. Distributor tetap selalu melakukan permintaan buah salak dengan tanggal yang sudah dijanjikan kepada produsen, sedangkan distributor tidak tetap melakukan permintaan buah salak hanya sewaktu-waktu sesuai kiinginan distributor.

Sebelum pandemi Covid -19 Halashon biasanya panen salak minimal empat karung dan maksimal 10 karung, itu terjadi karena permintaan distributor yang tinggi. Setelah pandemi, ia hanya panen minimal 3 karung dan maksimal 5 karung. Biasanya beliau menjual salak kepada distributor dengan harga Rp50.000 per karung.

“Mata pencaharian keluarga kami hanya bertani padi dan berkebun salak, kami sangat bergantung pada hasil penjualan salak. Makanya saya sangat sedih ketika Covid-19 menyerang Negara kita terlebih dengan dilaksankannya lockdown di kampung kita ini.” Ujarnya saat wawancara daring. Walaupun begitu, Halashon juga tak kalah gigih dalam meningkatkan penjualan salaknya di tengah pandemi Covid-19. Ia melakukan cara baru, yaitu dengan menyalurkan buah salak kepada penjual buah di pasar dan penjual buah di setiap loket bus. Hal itu dilakukannya untuk menafkahi keluarga. “Tidak ada cara lain lagi yang bisa saya lakukan selain itu,” tutur Halashon.

Salak khas -Buah salak khas Desa Pakkat Hauagong yang menjadi komoditas utama desa.

Saat melakukan panen salak yang akan siap didistribusikan, Halashon terkadang mengalami kecelakaan kerja. “Saya kalau panen salak terkadang tangan saya kena duri, kaki saya kena timpa sama pohon salak dan yang lebih mengerikan, saya berjumpa dengan ular pohon salak. Disitu saya langsung merinding karena sebelumnya saya pernah hampir dipatok sama ular,” kenang Halashon. Hal tersebut tidak membuat Halashon mundur menjadi petani salak. Ia tetap gigih bekerja.
“Saya sangat berharap agar pandemi ini cepat usai karena perekonomian saya sangat terganggu, bahkan bukan hanya saya saja melainkan seluruh warga Negara di Indonesia.” Tutupnya.

Penulis : Claudia Rohana Lamtiur Siburian

Penyunting : Meylan

 

You May Also Like