Mengapa Masih Mangkrak?

Bangunan dekat gedung Agrokompleks kampus UNUD Sudirman yang masih ditunda pengerjaannya. (Foto: Alit/Akademika)

Di sudut bangunan bertingkat Kampus Sudirman, Universitas Udayana masih menyajikan pemandangan yang kurang enak dilihat. Bangunan di dekat gedung Agrokompleks contoh nyata dari pembangunan yang dikatakan mangkrak. “Kalo gini terus, kurang rapi aja dilihat,” cetus Panji mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan, UNUD.

Ditemui di sela–sela kesibukannya, dr.I Nyoman Arcana, Sp.Biok memaparkan perihal bangunan di Univeritas Udayana banyak yang setengah jadi. “Sebetulnya pembangunan yang ada, yang belum selesai itu bukanlah mangkrak, tetapi dananya yang turun bertahap,” tegas dr. Arcana, Pembantu Rektor III Universitas Udayana. Hal ini dikarenakan UNUD memiliki banyak planning untuk pembangunan dan juga memiliki biaya yang besar untuk masing-masing bangunan. Di satu sisi UNUD juga sedang memusatkan perhatian pada pembangunan rumah sakit. Maka tak heran bangunan terlihat mangkrak karena fokus pembangunan yang mulai terbagi–bagi.

Pembangunan gedung di Universitas Udayana harus melewati tata cara yang sistematis. “Jadi setiap tahun, UNUD mengajukan permohonan untuk melanjutkan pembangunan gedung atau pun permohonan untuk pembangunan gedung yang baru,” tutur Arcana. Tentunya semua permohonan pembangunan gedung yang kita ajukan untuk memohon pembangunan sampai selesai. Permohonan yang kita ajukan masuk ke dalam Rencana Kerja (Renja) Universitas Udayana, lalu menuju Dikti dan akhirnya dibahas oleh  DPR pusat. Di sinilah terjadi evaluasi oleh panitia penentu anggaran yang keluar. “Seberapa diberi, kita harus terima,” tungkas Arcana.

Lebih lanjut diungkapkan oleh Arcana, anggaran yang diajukan ke DPR tentunya dilengkapi dengan kelengkapan gambar dan analisis. Namun setelah dibahas, DPR  mengucurkan dana kurang dari dana yang UNUD ajukan. “Ketika kita mengajukan dana 20 M, hanya 2 M yang dihibahkan. Dana angka 2 M itu diberi bintang, artinya dana yang diberikan masih kurang kelengkapannya,” rinci Arcana. Ia memberi contoh ketika satu gedung di UNUD diberi 800 Juta, maka pihaknya hanya bisa membangun satu lantai saja karena dana hibah tersebut tidak sepenuhnya turun.

“Pembangunan kita pasti, namun bertahap, bukan mangkrak,” tambah Arcana. Hanya saja prosesnya panjang mengikuti prosedur. Dengan ketentuan pembahasan dari DPR. “Seberapa turun dana hibah tahun ini kita pasti pakai untuk bangunan tersebut, tahun depan kita lanjutkan lagi,” cetus Arcana. (Darmayanti)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *